Dari Balik Tembok Penjara, WBP Lapas Jelekong Bandung Terus Berkarya

SindoJabar, BANDUNG – Dari balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Bandung atau Lapas Jelekong, warga binaan pemasyarakatan (WBP) terus didorong untuk menghasilkan karya sekaligus membekali diri dengan keterampilan sebagai modal saat kembali ke tengah-tengah masyarakat.

Salah satu program pembinaan kemandirian yang terus di kembangkan adalah kegiatan konveksi. Program ini tidak hanya menjadi sarana pelatihan keterampilan kerja, melainkan telah berkembang menjadi kegiatan produktif hingga menghasilkan berbagai produk sandang.

Kepala Lapas Kelas II Bandung Sopiana mengatakan, WBP terlibat langsung dalam sejumlah tahapan produksi mulai pengukuran, pembuatan pola, pemotongan bahan, menjahit, hingga proses finising dan pengecekan kualitas produk.

“Produktivitas kegiatan konveksi terlihat dari capaian selama periode Januari hingga September 2026. Dalam kurun waktu tersebut, konveksi Lapas Kelas II Bandung (Jelekong) mencatat penjualan sebanyak 22.609 pcs dengan total omzet mencapai Rp1.087.442.888,” kata Kalapas Jelekong, Minggu (4/10/2026).

Capaian ini, ujar Sopiana, menunjukkan program pembinaan kemandirian dapat diarahkan pada kegiatan produktif dan memiliki nilai ekonomi. Di sisi lain, WBP mendapatkan pengalaman kerja secara langsung yang dapat menjadi bekal setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Tak hanya keterampilan teknis, para WBP juga di latih menerapkan kedisiplinan, tanggung jawab, ketelitian, kerja sama tim, sampai memahami proses produksi secara profesional.

Pembinaan Kemandirian

Keterlibatan WBP dalam kegiatan produktif juga memberikan manfaat melalui pemberian premi sesuai ketentuan yang berlaku. Premi di berikan sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan keterlibatan WBP dalam kegiatan kerja dan produksi.

“Pemberian premi menjadi salah satu bentuk apresiasi dan motivasi agar WBP semakin aktif mengikuti program pembinaan kemandirian dan meningkatkan kemampuan sera produktivitas,” ujar Sopiana.

Sopiana menegaskan pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam mempersiapkan WBP sebelum kembali ke masyarakat. Melalui program konveksi, WBP tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan etos kerja.

Pengembangan kegiatan tersebut juga tidak terlepas dari pendampingan petugas serta dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam program pembinaan. Kolaborasi terus di dorong agar kegiatan produktif di dalam Lapas dapat berkembang secara berkelanjutan.

Lapas Kelas II Bandung ke depan, tutur Sopiana, berkomitmen mengembangkan program pembinaan kemandirian. Baik dari sisi keterampilan WBP, kualitas produk, kapasitas produksi, maupun perluasan jejaring kerja sama.

“Jadi, masa pembinaan ini kami harapkan tidak hanya menjadi proses menjalani hukuman, tetapi juga kesempatan bagi WBP memperoleh keterampilan. Juga pengalaman kerja dan membangun semangat kemandirian sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” tuturnya.