Ini Penjelasan BBKSDA Jabar soal Kematian 2 Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo

Headline, Jawa Barat66 Dilihat

SindoJabar.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat memberikan penjelasan soal kematian Huru dan Hara, dua anak harimau Benggala (Panthera tigris tigris) di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, harimau Huru dan Hara masing-masing berusia 8 bulan itu, mati akibat infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV). Virus ini sangat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi satwa famili Felidae, khususnya yang berusia muda.

Pelaksana tugas (Pl) Kepala BBKSDA Jabar Ammy Nurwaty mengatakan, kronologi kejadian berawal pada 22 Maret 2026, ketika tim medis Kebun Binatang Bandung melaporkan kepada petugas piket BBKSDA Jabar bahwa anak harimau Benggala bernama Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare.

Dari hasil pemeriksaan, kata Ammy, BBKSDA Jabar menemukan ada parasit cacing pada muntahan Hara. Sehingga, tim memberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin kepada Hara.

“Sebagai langkah antisipasi, Huru, saudara kembara Hara, yang berada dalam satu kandang juga diberikan vitamin dan obat cacing. Kemudian, tim memisahkan kadang Huru dan Hara untuk mencegah penularan,” kata Ammy.

Selanjutnya, tutur Ammy, BBKSDA Jabar berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung dan tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jabar untuk penanganan bersama.

“Sejak laporan awal kami terima, kami langsung berkoordinasi dan melakukan penanganan terpadu bersama tim medis dan instansi terkait. Berbagai upaya pengobatan dan pencegahan penularan telah dilakukan secara maksimal, termasuk pemisahan kandang dan pemberian terapi intensif,” ujar Ammy.

Huru dan Hara Terinveksi FPV

Ammy menuturkan, pada 23 Maret 2026, kondisi Hara menurun dengan gejala klinis berupa diare disertai darah. Kemudian, tim medis melakukan pemeriksaan menggunakan rapid test FPV dari sampel feses dan menunjukkan hasil positif Panleukopenia.

“Tim medis segera melakukan penanganan intensif berupa terapi simtomatik dan suportif,” tutur Ammy.

Namun, pada Selasa 24 Maret 2026 pukul 09.14 WIB, harimau Hara mati. Hasil nekropsi menunjukkan terjadi perdarahan masif pada saluran pencernaan, kerusakan vili-vili usus yang merupakan ciri khas infeksi FPV, dan terdapat parasit cacing pada usus.

Selanjutnya, pada Rabu 25 Maret 2026, tim melakukan pemantauan dan penanganan intensif terhadap harimau Huru yang menunjukkan gejala serupa.

Penanganan media di laksanakan kolaboratif oleh Tim Medis Kebun Binatang Bandung dan dokter hewan BBKSDA Jabar. Lalu, dokter hewan UPTD RS Hewan Provinsi Jabar, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, serta dokter hewan dari Khal’s Pet Care Bandung.

Kondisi Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan. Tapi pada Kamis 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 WIB, harimau Huru mati.

Hasil nekropsi menunjukkan perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan, dan hasil uji tes kit menunjukkan positif terjangkit FPV.

Apa Itu FPV

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi oleh tim dokter hewan, Huru dan Hara mati akibat infeksi FPV.

FPV merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa famili Felidae baik domestik maupun liar, termasuk harimau.

Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite).

Pada satwa muda yang sistem kekebalannya belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian sangat tinggi.

Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jabar bersama pengelola Kebun Binatang Bandung akan meningkatkan langkah biosekuriti.

Kemudian, melakukan desinfeksi lingkungan secara intensif, memperketat pengawasan lalu lintas orang dan peralatan. Serta meningkatkan pemantauan kesehatan seluruh satwa karnivora, khususnya dari famili Felidae.