Rupiah Melemah ke Rp17.500/USD, Publik Ramai Soroti Janji dan Kritik Lama Prabowo

Headline38 Dilihat

Sindojabar.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik setelah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Di tengah tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut, media sosial mendadak diramaikan oleh viralnya kembali cuitan lama Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2013.

Dalam unggahan lawas di platform X tertanggal 11 Desember 2013, Prabowo pernah menyinggung kondisi rupiah yang kala itu mendekati Rp12.000 per dolar AS. Ia menilai pelemahan mata uang Indonesia saat itu menjadi bukti adanya salah urus ekonomi nasional.

“Keadaan rupiah saat ini adalah bukti ekonomi bangsa telah salah urus,” demikian kutipan cuitan lama yang kini kembali ramai dibagikan netizen.

Viralnya unggahan tersebut terjadi setelah rupiah kembali bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan pekan ini. Meski sempat menguat tipis, posisi rupiah yang masih berada di level psikologis tinggi memicu berbagai komentar publik.

Banyak warganet mempertanyakan langkah pemerintah dalam menghadapi tekanan nilai tukar yang semakin berat. Tidak sedikit pula yang membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan periode satu dekade lalu.

“Dulu Rp12 ribu dianggap krisis, sekarang Rp17.500 bagaimana?” tulis salah satu pengguna media sosial.

Komentar bernada satire hingga kritik tajam juga membanjiri berbagai platform digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa isu nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian besar masyarakat karena berkaitan langsung dengan harga kebutuhan pokok, biaya impor, hingga daya beli masyarakat.

Secara ekonomi, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global. Penguatan dolar AS, tensi geopolitik internasional, serta keluarnya arus modal asing dari pasar negara berkembang menjadi tekanan utama bagi mata uang negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan, sementara pelaku usaha mulai mewaspadai potensi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai khawatir terhadap kemungkinan naiknya harga barang elektronik, BBM, hingga kebutuhan pangan yang bergantung pada impor dan kurs dolar AS.

Pemerintah dan otoritas moneter kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar. Sebab, pelemahan rupiah tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga telah berkembang menjadi perdebatan politik di ruang publik digital. Dengan situasi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menjadi sorotan utama dalam beberapa waktu ke depan.