Sindojabar.Com – Perayaan Iduladha dinilai tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga sosial yang sangat kuat.
Apalagi perayaan tahun ini berlangsung di tengah tekanan krisis pangan global yang semakin terasa.
Kenaikan harga bahan pokok, gangguan rantai pasok, serta dampak perubahan iklim membuat isu ketahanan pangan menjadi perhatian serius, termasuk di Indonesia.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa Idul Adha mengandung pesan mendalam tentang distribusi dan keadilan pangan.
“Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an, ‘Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu’ (QS. Al-Hajj: 37). Artinya, esensi kurban bukan hanya pada fisiknya saja, tetapi pada ketaqwaan. Implementasi ketaqwaan dapat berupa sejauhmana kita memiliki nilai kepedulian dan mendistribusikan dengan tepat,” tuturnya. Senin (25/5/2026)
Menurutnya, kurban merupakan praktik nyata distribusi kebutuhan pangan berbasis umat yang terjadi secara serentak dan langsung menyasar masyarakat yang membutuhkan.
“Di tengah krisis pangan global, kurban menunjukkan bahwa umat memiliki mekanisme untuk berbagi bagi kelompok yang paling rentan,” kata beliau
Penasihat DPP Persatuan Umat Islam (PUI) ini menjelaskan, jutaan paket daging kurban tersebar dalam waktu singkat melalui jaringan masjid, pesantren, dan komunitas lokal. Pola ini dinilai sebagai kekuatan sosial yang tidak dimiliki oleh banyak sistem formal.
“Kita melihat bagaimana distribusi ini berjalan cepat, tanpa birokrasi panjang, dan relatif tepat sasaran. Ini adalah kekuatan sosial umat yang luar biasa,” ucapnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan nilai kurban dengan prinsip keadilan sosial dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, kata beliau, terdapat perintah untuk berbagi kepada sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
Ia mengatakan bahwa Iduladha merupakan Ishlah Tsamaniyah yang memberikan dampak baik yaitu ishlah iqtishod (perbaiki perekonomian) dan ishlah mujtama’ (perbaikan kehidupan sosial kemasyarakatan).
“Dalam QS. Al-Hasyr ayat 7 ditegaskan agar harta itu tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja,” imbuhnya.
Ini sejalan dengan semangat kurban, yaitu memastikan distribusi pangan lebih merata dan dapat dirasakan oleh mereka.
Namun demikian, ia menilai potensi besar kurban belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, kurban masih cenderung dipahami sebagai kegiatan tahunan yang berhenti pada pembagian sesaat.
“Sejatinya kita dapat melakukan sedeqah selain berkurban dengan membagikan makanan lainnya termasuk daging bukan hanya saat Iduladha saja, dan hal ini dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan,” tandasnya.
Ia juga mendorong agar momentum Iduladha dimanfaatkan untuk memperkuat peternak lokal sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional. Serta agar rantai pasok tidak bergantung pada luar negeri.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga distribusi yang adil dan berbasis kepedulian sosial.
“Iduladha mengajarkan bahwa ketahanan itu lahir dari kebersamaan dan kepedulian. Inilah nilai yang sangat relevan di tengah situasi global yang tidak menentu,” pungkasnya. (*)






