Wakili Pendaki Generasi Z, Nandi Sampaikan Masukan Strategis untuk Aplikasi Ayo ke Taman Nasional

Ragam9 Dilihat

Sindojabar.com – Kementerian Kehutanan Republik Indonesia resmi meluncurkan aplikasi ‘Ayo ke Taman Nasional’ pada (4/6/2026) lalu. Dalam acara tersebut, Nandi yang mewakili komunitas pendaki Generasi Z hadir sebagai narasumber kehormatan.

Dalam forum tersebut, Nandi memberikan pandangan strategis dari kacamata pendaki muda terkait transisi digitalisasi pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.

Baca Juga:Negara Hadir di Bandung Zoo: Aset Daerah Diamankan, Satwa Diselamatkan

Nandi menyambut baik dan memberikan apresiasi penuh atas inovasi yang dihadirkan oleh Kementerian Kehutanan. Menurutnya, bagi Generasi Z yang tumbuh bersama teknologi, kehadiran aplikasi terintegrasi ini adalah sebuah langkah modernisasi yang sangat dinantikan.

Fitur unggulan seperti sistem One ID for All (ID Taman Nasional) dan pemantauan kuota secara real-time dinilai sangat membantu pendaki dalam merencanakan perjalanan yang lebih aman, terukur, dan bertanggung jawab.

Lebih dari sekadar kemudahan administrasi, Nandi menyoroti bahwa aplikasi ini membawa misi krusial dalam menjaga daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Baca Juga:DPRD Jabar Dorong Penguatan Kerja Sama dengan Tiongkok untuk Industri hingga Ekonomi Hijau

“Digitalisasi ini memaksa kita untuk bergeser dari budaya pendakian yang serba spontan menuju manajemen perjalanan yang terencana, demi menjaga kelestarian ekosistem taman nasional kita,” ungkap Nandi dalam sesi diskusinya.

Meski demikian, sebagai representasi pengguna (user) yang bersinggungan langsung dengan dinamika di lapangan, Nandi juga menitipkan sejumlah masukan kritis dan konstruktif untuk pengembangan aplikasi ke depannya. Ia menekankan bahwa peluncuran produk digital bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari proses penyempurnaan yang berkelanjutan.

“Harapan terbesar kami sebagai pengguna adalah agar ruang evaluasi ini selalu terbuka. Masukan terkait kendala di lapangan, seperti kebutuhan akan fitur offline mode di area blank spot (tanpa sinyal), peningkatan stabilitas server saat traffic tinggi, hingga antarmuka yang lebih ramah pengguna, harus terus didengar. Kami berharap setiap feedback dari pendaki diterima dengan tangan terbuka untuk pengembangan sistem yang berpusat pada pengguna (user-centric),” tegas Nandi.

Menutup sesinya, Nandi mengajak seluruh elemen komunitas pendaki di Indonesia, khususnya anak muda, untuk mendukung penuh transisi digital ini. Ia mengimbau para pendaki untuk aktif memberikan ulasan yang membangun dan bersama-sama mematuhi regulasi demi terwujudnya ekowisata Indonesia yang berkelanjutan.

Baca Juga:ICMI Jawa Barat Perkuat Peran Intelektual dalam Pembangunan Daerah

Kehadiran Nandi dalam acara peluncuran ini menegaskan komitmen kolaborasi antara pemangku kebijakan dan komunitas akar rumput. Diharapkan, aplikasi “Ayo ke Taman Nasional” tidak hanya menjadi instrumen birokrasi, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi “sahabat perjalanan” andalan para pendaki Indonesia.

Nandi adalah perwakilan pendaki Generasi Z dan penggiat alam bebas yang aktif menyuarakan pentingnya manajemen pendakian yang aman, inklusif, dan berwawasan lingkungan. Nandi kerap membagikan pandangannya terkait adaptasi teknologi dalam kegiatan alam terbuka (outdoor) dan pelestarian kawasan konservasi di Indonesia. (*)