Jakarta,Sindojabar.Com – Swasembada pangan tidak cukup diukur dari tingginya produksi atau besarnya cadangan beras.
Namun juga dari kemampuan Indonesia menjaga keberlanjutannya di tengah tantangan perubahan iklim, regenerasi petani, dan dinamika global.
Pesan itu mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) yang berlangsung di Jakarta, Jumat (17/7/2026).
Forum tersebut menetapkan Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, MP sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) PISPI Periode 2026–2031.
Munas diawali Seminar Nasional bertema “Langkah Strategis Menjaga Swasembada Pangan Indonesia yang Berkelanjutan.”
Dalam seminar, dipaparkan sejumlah indikator yang menunjukkan penguatan sektor pangan nasional sepanjang 2026. Produksi beras Januari–April mencapai 14,03 juta ton dan diproyeksikan bertambah 7,92 juta ton hingga Juli.
Cadangan beras pemerintah telah menembus 5,19 juta ton atau 129 persen dari target semester pertama. Serapan Bulog mencapai 3,4 juta ton atau sekitar 85 persen dari target tahun berjalan.
Sepanjang 2026, Indonesia juga tidak melakukan impor beras maupun gula konsumsi. Pemerintah menargetkan produksi 56,05 juta ton Gabah Kering Giling yang diproyeksikan menghasilkan 33,80 juta ton beras.
Target tersebut diperkuat melalui optimasi lahan, pembangunan sawah baru, peningkatan pupuk bersubsidi, digitalisasi pertanian, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi pertanian presisi. Namun, capaian tersebut dinilai tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri.
Prof. Achmad mengatakan tantangan terbesar justru menjaga agar keberhasilan hari ini dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Swasembada pangan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan sehingga kesinambungan harus menjadi fondasi pembangunan sektor pangan,” kata Prof Achmad dalam keterangannya.
Menurutnya, pembangunan pertanian harus berjalan dengan prinsip keberlanjutan, keberpihakan kepada petani, keseimbangan lingkungan, dan kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai keberhasilan produksi tidak akan bertahan tanpa penguatan kualitas sumber daya manusia pertanian.
“Sarjana pertanian harus menjadi penggerak inovasi, riset, pengabdian kepada masyarakat, dan pendampingan petani agar transformasi pertanian terus berjalan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan. “Produktivitas dan pelestarian lingkungan harus berjalan bersama agar ketahanan pangan tetap terjaga secara berkelanjutan,” tegasnya.
Semangat tersebut sejalan dengan pandangan para narasumber seminar yang menekankan pentingnya inovasi, transformasi teknologi, penguatan kelembagaan, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui kepemimpinan baru, PISPI diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai organisasi profesi yang menghadirkan gagasan, riset, dan solusi bagi pembangunan pertanian nasional.
Organisasi ini juga menegaskan komitmennya untuk mendorong regenerasi petani, memperkuat agripreneur muda, mempercepat hilirisasi hasil pertanian, serta mendukung kebijakan menuju swasembada pangan Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan. (*)






