Sindojabar, JAKARTA – Tantangan perekonomian global yang semakin kompleks menuntut Indonesia untuk memperkuat daya saing industri melalui inovasi, penguasaan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam SBM ITB Industrial Summit 2026, yang diselenggarakan School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bekerjasama dengan Adam Smith Business School, University of Glasgow, dan didukung oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di AYANA Midplaza Jakarta, 19–20 Agustus 2026.
Mengusung semangat mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas inovasi, Industrial Summit 2026 menjadi ruang dialog mengenai masa depan daya saing industri Indonesia di tengah perubahan teknologi dan dinamika ekonomi global.
Baca Lagi Dekranasda Jabar Apresiasi SBM ITB Tingkatkan Kapasitas UMKM melalui Affiliate Marketing
Acara dibuka oleh Wakil Rektor ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., yang menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun pemikiran dan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan ekonomi dan industri masa depan.
“Universitas tidak lagi hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga harus menjadi bagian dari ekosistem yang menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi berbagai persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri,”jelasnya
Perspektif global kemudian disampaikan oleh Prof. Wendy, Dean of the University of Glasgow, yang menyoroti pentingnya hubungan akademik internasional dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin terhubung.
Kolaborasi antara Indonesia dan Inggris, khususnya melalui hubungan antara SBM ITB dan University of Glasgow, menjadi salah satu contoh bagaimana institusi pendidikan tinggi dapat membangun jembatan pengetahuan dan mempertemukan perspektif dari berbagai konteks ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Xiang Li, Director of Internationalization, University of Glasgow, juga menyampaikan arti penting internasionalisasi dalam memperkuat jejaring akademik serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
Kehadiran University of Glasgow dalam Industrial Summit 2026 sekaligus memperkuat dimensi internasional forum tersebut. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan keunggulan akademik, perspektif global, dan kebutuhan pembangunan ekonomi Indonesia.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan Ministerial Keynote yang menempatkan transformasi ekonomi dan penguatan daya saing industri sebagai agenda penting Indonesia ke depan.
Dalam paparannya, Airlangga menyoroti perubahan lingkungan ekonomi global yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi, perubahan rantai pasok global, serta meningkatnya persaingan antarnegara membuat Indonesia perlu terus meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Transformasi tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi, teknologi, dan kemampuan industri untuk menciptakan nilai tambah.
Indonesia, lanjutnya, perlu memastikan bahwa transformasi ekonomi memberikan dampak yang luas dengan memperkuat keterhubungan antara kebijakan pemerintah, dunia industri, dan institusi pendidikan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi yang mengubah cara perusahaan beroperasi, berinovasi, dan menciptakan nilai. Penguasaan teknologi dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar industri nasional tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu menjadi bagian dari penciptaan nilai dalam ekonomi global.
Menjembatani Akademisi, Pemerintah, dan Industri
Industrial Summit 2026 dirancang sebagai platform untuk mempertemukan berbagai perspektif tersebut. Forum ini mempertemukan regulator, pemimpin industri, akademisi, dan inovator untuk membahas isu-isu strategis yang akan menentukan arah perekonomian dan industri Indonesia.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian agenda yang menandai 250 tahun publikasi The Wealth of Nations karya Adam Smith, sekaligus memperkuat hubungan akademik antara SBM ITB dan Adam Smith Business School, University of Glasgow.
“Transformasi ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan atau teknologi. Dibutuhkan ekosistem yang memungkinkan pemerintah, industri, dan akademisi untuk belajar dan berinovasi bersama,” menjadi semangat yang tercermin dalam penyelenggaraan forum tersebut.
Bagi SBM ITB, forum ini sejalan dengan komitmen untuk memperkuat peran sekolah bisnis sebagai penghubung antara knowledge, business, government, and society.
Industrial Summit 2026 diharapkan dapat menghasilkan pertukaran gagasan dan kolaborasi yang memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi global sekaligus mendorong pertumbuhan yang inovatif dan berkelanjutan.
Selain Industrial Summit, rangkaian kegiatan juga berlangsung bersamaan dengan The 10th International Conference on Management in Emerging Markets (ICMEM) dengan tema “Reimagining Global Markets: Embracing Humanities for Sustainable Business.”
Melalui kedua forum tersebut, SBM ITB menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan antara pemikiran akademik, kebijakan publik, dan praktik bisnis untuk membangun masa depan ekonomi yang lebih inovatif, adaptif, dan berdaya saing.






