Pengukuhan Pengurus MUI Jabar Periode 2025-2030, Tegaskan Komitmen Dorong Persatuan Umat

Jawa Barat59 Dilihat

SindoJabar.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmen mendorong persatuan umat melalui pembacaan ikrar Fatwa MUI Jabar yang menyerukan empat prinsip utama.

Pembacaan ikrar berlangsung dalam rangkaian kegiatan halal bihalal, pengukuhan pengurus, dan Mukerda 2026 di Masjid Al-Jabbar, Kota Bandung, Minggu (19/4/2026).

Ketua MUI Jawa Barat periode 2025-2030 Dr KH Aang Abdullah Zein MPdI yang memimpin pembacaan ikrar, menyerukan empat prinsip utama.

“Bersatu dalam akidah, berjamaah dalam ibadah, toleran dalam khilafiyah, dan bekerja sama dalam dakwah,” kata Ketua Umum MUI Jabar.

Aang Abdullah Zein menegaskan, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi moral dalam menjaga harmoni sosial keagamaan di tengah keberagaman.

“Ikrar ini bukan sekadar seruan normatif, tetapi menjadi pedoman etik dalam merawat ukhuwah, memperkuat moderasi beragama, dan membangun tanggung jawab kolektif umat,” ujar Aang Abdullah Zein.

Peran Ulama Semakin Strategis

Ketua MUI Jabar menuturkan, peran ulama ke depan harus semakin strategis dalam menjembatani dinamika sosial, termasuk menghadirkan dakwah inklusif dan solutif.

“Kita ingin memastikan bahwa kehadiran MUI mampu menjadi perekat umat, memperkuat solidaritas, sekaligus memberikan arah bijak dalam menyikapi perbedaan,” kata Aang Abdullah Zein.

Sementara itu, Ketua Komisi Informasi Komunikasi dan Digitalisasi MUI Jawa Barat Dr Deden Nasihin MKP menegaskan komitmen MUI Jabar untuk terlibat aktif dalam pembangunan daerah yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.

“MUI Jawa Barat siap mendukung dan berperan aktif dalam mewujudkan Jabar Istimewa, tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga dalam pembangunan sosial, budaya, dan digital berkelanjutan,” kata Deden.

Menurut Deden, peran komunikasi publik menjadi sangat penting di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu disinformasi dan polarisasi.

Dia menekankan MUI harus hadir sebagai penjernih informasi sekaligus penjaga etika komunikasi umat.

“Kami ingin memastikan bahwa ruang digital di Jawa Barat diisi dengan narasi menyejukkan, edukatif, dan memperkuat persatuan, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Digitalisasi Dakwah

Deden juga menyoroti pentingnya sinergi antara ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun daerah secara inklusif.

“Pembangunan Jawa Barat harus dilakukan secara kolaboratif, di mana nilai-nilai keagamaan tidak terpisah dari kebijakan publik. Lembur di urus, kota di tata, ini bukan sekadar slogan. Tetapi arah pembangunan yang menempatkan keseimbangan antara tradisi dan modernitas,” tutur Deden.

Digitalisasi dakwah, kata Deden, menjadi salah satu fokus utama ke depan, terutama dalam menjangkau generasi muda.

MUI Jabar akan mendorong penguatan literasi digital keagamaan, pengembangan konten dakwah relevan memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperluas kemaslahatan.

“Dengan demikian, MUI tidak hanya hadir di mimbar. Tetapi juga di ruang-ruang digital yang menjadi medan interaksi umat saat ini,” ucapnya.