RSHS Bandung Nonaktifkan Perawat yang Diduga Lalai Berikan Bayi Nina Saleha ke Orang Lain

Headline, Jawa Barat75 Dilihat

SindoJabar.com – Manajemen Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menonaktifkan sementara bidang yang diduga lalai memberikan bayi ke orang lain.

Selama dinonaktifkan dari tugasnya, bidan tersebut akan menjalani pembinaan. Sementara, RSHS melakukan penyelidikan menyeluruh terkait kejadian yang dialami ibu muda Nina Saleha.

Keputusan menonaktifkan perawat itu terungkap dari video perbincangan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dengan Asisten Manajer RSHS Bandung Arif yang sedang mengunjungi kediaman Nina Saleha di Kota Cimahi.

Perbincangan dimulai saat Dedi Mulyadi menanyakan nama dan pengalaman perawat yang diduga lalai itu.

Arif menjawab, nama perawat itu tapi diedit sehingga tak terdengar. Yang pasti perawat tersebut berpengalaman selama lebih dari 20 tahun dan berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ditanya tentang sanksi yang di jatuhkan manajemen RSHS terhadap perawat itu, Arif mengatakan, telah melakukan klarifikasi. Hasil klarifikasi telah di laporkan ke Direktur Medis dan Direktur Utama RSHS Bandung.

“Sementara memang, sebagai bentuk pembinaan, kami nonaktifkan dulu dari pelayanan. Untuk kami analisis lebih dalam,” kata Arif.

Sanksi Disiplin hingga Pemberhentian

“Oke, jadi sementara di nonaktifkan dari tugasnya sebagai perawat. Kemudian di lakukan evaluasi apa yang menjadi latar belakang tindakan kecerobohan itu,” timpal Gubernur Jabar.

Dedi kembali bertanya jika tindakan perawat itu di sebabkan kelalaian, sanksi apa yang akan di jatuhkan?

Arif menjawab, ada sanksi disiplin dari komite keperawatan. RSHS Bandung memiliki aturan, jika terbukti lalai, komite keperawatan akan mencabut kewenangan klinis sementara perawat itu.

“Pencabutan kewenangan klinis itu bisa permanen tergantung kasusnya. Jadi nanti hasil analisis komite keperawatan,” ujar Arif.

Dedi lalu menanyakan, jika tindakan memberikan bayi ke orang lain karena ada unsur kesengajaan, perawat itu bisa di berhentikan?

“Kalau kesengajaan, bisa-bisa (di berhentikan permanen sebagai perawat),” jawab Arif.

RSHS Bandung Minta Maaf

Manajemen RSHS Bandung menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan kesehatan kepada pasien bayi Nina Saleha.

Perwakilan manajemen RSHS Bandung mengunjungi kediaman Nina Saleha pada Kamis (9/4/2026).

“Segenap manajemen RSUP Dr Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamya atas ketidaknyamanan peristiwa yang di alami oleh anak ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr Hasan Sadikin,” kata Manajemen RSHS Bandung dalam keterangan tertulis.

Pada prinsipnya, tulis manajemen, RSUP Dr Hasan Sadikin akan selalu melakukan evaluasi dan peningkatan kemampuan dalam pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.

“RSHS berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik serta melakukan perbaikan berkelanjutan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di RSHS,” tulis Manajemen RSHS Bandung.

Usut Perawat Lalai

Sementara itu, Nina Saleha sangat menyayangkan peristiwa kelalaian bisa terjadi. Dia tak mampu membayangkan jika anaknya hilang gegara tindakan perawat tersebut.

Karena itu, Nina meminta RSHS Bandung mengusut perawat yang di duga melakukan kelalaian.

“Jangan sampai terulang lagi. Surter seperti itu harus di usut. Nanti takutnya hal itu terjadi lagi. Apalagi ada (dugaan) unsur sengaja memperjualbelikan bayi,” kata Nina kepada wartawan.

Sebab saat kejadian, perawat yang bertugas hanya sendiri. Selain itu, ada kejanggalan, bayinya telah keluar dari ruang perawatan Ruangan NICU Lantai 2, Gedung Ibu dan Anak.

Bahkan, bayi Nina boleh pulang. Padahal, surat izin keluar belum ada. “Anak saya sudah di luar (ruang perawatan). Sedangkan surat izin keluar belum ada,” ujarnya.