SindoJabar, BANDUNG – Persib terus menunjukkan komitmennya dalam mendampingi perkembangan pemain muda, tidak hanya dari aspek teknis dan fisik, tetapi juga kesehatan mental.
Sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan pasca kejadian kekerasan yang dialami tim beberapa waktu lalu, manajemen Persib menggelar kegiatan psikoedukasi dan pendampingan psikologis bagi Persib U-18 di Royal Box, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Baca Juga:KPID Jabar Ungkap Dampak Mengerikan Disrupsi Digital bagi Anak dan Remaja
Kegiatan yang menghadirkan psikolog klinis dan olahraga, Rizka Safitri ini melibatkan pemain, tim pelatih, staf, serta orang tua pemain. Pendampingan tersebut merupakan bentuk perhatian Persib terhadap kondisi psikologis pihak-pihak yang terdampak, sekaligus upaya membantu mereka membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan kesiapan menjalani aktivitas sehari-hari maupun kegiatan sepak bola.
Head of Communications PT Persib Bandung Bermartabat, Adhi Pratama menegaskan bahwa kesejahteraan pemain merupakan bagian penting dari komitmen klub dalam membina talenta muda.
Menurutnya, perhatian terhadap pemain tidak berhenti pada perkembangan kemampuan di lapangan, tetapi juga mencakup dukungan terhadap kondisi mental dan kebutuhan mereka dalam menghadapi situasi yang tidak mudah.
Baca Juga:Asep Robin Dorong Pemkot Bandung Hadirkan Pendampingan Hukum untuk Masyarakat Kecil
“Bagi kami, pemain adalah bagian penting dari keluarga besar Persib. Karena itu, perhatian manajemen tidak hanya berfokus pada perkembangan mereka di lapangan, tetapi juga pada kondisi psikologis, rasa aman, dan kesejahteraan mereka. Kami ingin memastikan para pemain, tim pelatih, staf, serta orang tua mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk melalui situasi ini dengan baik,” ujar Adhi dikutip, Rabu (21/10/2026).
Ia berharap kegiatan pendampingan ini dapat menjadi ruang yang aman bagi para pemain dan pihak terkait untuk memahami serta mengelola respons emosional setelah kejadian tersebut. Dukungan dari lingkungan terdekat juga diharapkan dapat membantu mereka menjalani proses pemulihan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Kami memahami bahwa setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda. Karena itu, kami berharap pendampingan ini dapat membantu mereka secara bertahap kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang dan percaya diri. Persib akan terus memberikan perhatian dan dukungan yang diperlukan, karena tumbuh dan berkembang bersama juga berarti saling menjaga, terutama ketika menghadapi situasi yang tidak mudah,” tambahnya.
Inisiatif tersebut mendapat sambutan positif dari tim pelatih Elite Pro Academy (EPA) Persib, Imam Arief Fadhillah. Ia menilai dukungan psikologis menjadi bagian penting dalam proses pembinaan pemain muda, terutama ketika mereka tengah mengembangkan kemampuan dan berjuang meraih cita-cita di dunia sepak bola.
Baca Juga:Menko AHY Tinjau Posko Layanan Telekomunikasi, Pastikan Percepatan Penanganan Darurat di Sumatera
“Program ini sangat baik untuk membantu anak-anak menjalani proses pemulihan. Pengalaman kemarin tentu bukan sesuatu yang mudah bagi mereka, terlebih di usia yang masih muda dan sedang berjuang meraih cita-cita. Walaupun kegiatan latihan sudah kembali berjalan, kami memahami bahwa kondisi psikologis setiap pemain perlu tetap diperhatikan,” kata Imam.
Ia berharap pendampingan tersebut dapat membantu para pemain mengelola beban emosional sekaligus memperkuat kebersamaan di dalam tim. Lingkungan yang suportif, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting agar para pemain dapat terus berkembang dan menjalani proses pembinaan dengan baik.
Sementara itu, pemain Persib U-18, Muhammad Erlangga Fajriawan, menyampaikan bahwa kondisi fisiknya semakin membaik dan ia telah kembali mengikuti latihan bersama tim. Ia juga berupaya menjaga fokus dan kepercayaan dirinya dalam mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya.
“Alhamdulillah, kondisi fisik saya semakin baik dan sekarang sudah kembali menjalani latihan seperti biasa. Saya berusaha untuk tidak terus-menerus memikirkan kejadian kemarin dan mencoba fokus menjalani aktivitas ke depan. Harapan saya dan teman-teman, kami bisa bermain lebih lepas, percaya diri, dan memberikan yang terbaik untuk PERSIB pada pertandingan berikutnya,” ungkap Fajri.
Pendampingan psikologis ini dilaksanakan melalui dua sesi utama. Sesi pertama berupa edukasi mengenai support system yang melibatkan orang tua pemain dan tim pelatih. Materi ini menekankan pentingnya dukungan emosional, komunikasi terbuka, serta peran keluarga dan pelatih dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung proses pemulihan pemain.
Baca Juga:Erwin Dorong Mahasiswa UIN Bandung Bangun Gerakan Edukasi dan Pendampingan HIV
Sesi kedua difokuskan pada konseling kelompok dan stabilisasi emosi bagi para pemain U-18 bersama psikolog. Kegiatan ini mencakup penyusunan kesepakatan mengenai kerahasiaan, pengelolaan respons emosional, serta penguatan kesiapan mental menjelang pertandingan tandang mendatang.
Melalui kegiatan ini, Persib berharap para pemain dapat menjalani proses pemulihan dengan dukungan yang memadai dan kembali membangun kepercayaan diri dalam perjalanan mereka sebagai pesepak bola muda. Bagi Pesib, pembinaan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian di lapangan, tetapi juga pada perhatian terhadap kesejahteraan dan perkembangan setiap individu.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Persib dalam membangun lingkungan pembinaan yang mengedepankan kepedulian, kebersamaan, dan keselamatan, sehingga para pemain dapat terus berkembang dengan dukungan yang tepat, baik sebagai atlet maupun sebagai individu. (*)





