SindoJabar, BANDUNG – Media Officer Persib Bandung U-18, Pandu Persada mengaku, sempat dikepung sekelompok orang saat rombongan timnya diserang di Rest Area KM 360, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026) malam. Ia menegaskan, penyerangan tersebut bukan bagian dari rivalitas sepak bola, melainkan tindakan kriminalitas.
Insiden terjadi sekitar pukul 21.30 WIB ketika rombongan Persib U-18 beristirahat dalam perjalanan pulang setelah menghadapi Persis Solo dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA).
Baca Juga:TPU Pandu Bandung Dihuni 100 KK, 82 Bangunan Liar Bakal Ditertibkan
Pandu mengungkapkan, sebelum kejadian, ia sempat mendapat peringatan dari seorang ofisial bernama Ridwan mengenai keberadaan kelompok suporter di lokasi tersebut. Namun, ia tidak menyangka situasi akan berujung pada aksi kekerasan.
Menurut Pandu, tidak ada komunikasi maupun interaksi antara rombongan Persib U-18 dan kelompok orang yang kemudian melakukan penyerangan.
Situasi berubah setelah rombongan kembali ke bus. Sekelompok orang langsung mengepung kendaraan tersebut dan mengintimidasi para pemain serta ofisial.
Baca Juga:Penyerangan Rombongan Persib U-18 Sisakan Trauma, Keamanan Laga Tandang Disorot
Pandu sempat berusaha menolong seorang rekannya yang ditarik oleh kelompok tersebut. Namun, setelah rekannya berhasil masuk ke bus, ia justru tertinggal dan dikepung orang-orang lainnya.
Dalam kondisi terdesak, Pandu mengaku menuruti permintaan kelompok tersebut untuk melepaskan baju atau jaket yang dikenakannya. Ia kemudian terjatuh sebelum akhirnya menemukan kesempatan untuk melarikan diri.
Pandu berlari menuju tempat tambal ban di sekitar rest area untuk menyelamatkan diri. Di sana, ia mendapat bantuan dari petugas setempat.
“Ini bukan sepak bola. Ini bukan hal yang dibenarkan. Ini pure kriminalitas,” kata Pandu di Pendopo Jalan Dalem Kaum Kota Bandung Senin (12/10/2026).
Pandu menegaskan, tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan tersebut. Karena itu, Pandu meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini dan mengidentifikasi seluruh orang yang terlibat.
Pandu mengaku, telah mendengar informasi mengenai penangkapan satu orang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut. Ia berharap informasi itu benar dan penyelidikan berlanjut hingga pelaku lainnya terungkap.
Menurutnya, proses identifikasi pelaku tidak mudah karena jumlah orang yang berada di lokasi cukup banyak. Selain itu, minimnya penerangan dan wajah para pelaku yang tertutup membuat korban kesulitan mengenali mereka.
“Orangnya banyak banget dan lampunya gelap juga. Jadi saya juga hampir enggak bisa melihat. Orang-orangnya juga ditutup wajahnya,” ungkapnya.
Pandu berharap, aparat mengusut kasus tersebut secara menyeluruh agar seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum.
Baca Juga:Dikunjungi 35.000 Orang, Museum KAA Jadi Magnet Wisata Edukasi
Baginya, pengungkapan kasus ini penting bukan hanya untuk memberikan keadilan kepada para korban, tetapi juga untuk memulihkan rasa aman para pemain dan ofisial Persib U-18 saat menjalani pertandingan tandang.
Ia berharap insiden serupa tidak kembali terjadi sehingga para pemain muda dapat berkompetisi tanpa dihantui ancaman kekerasan.
“Mudah-mudahan ini jadi kabar baik buat kami di tim, agar bisa lebih percaya diri lagi, agar lebih merasa nyaman lagi untuk berkomunikasi,” pungkasnya. (*YM)






