Huru dan Hara Anak Kembar Harimau Benggala Mati di Kebun Binatang Bandung

Headline, Jawa Barat57 Dilihat

SindoJabar.com – Huru dan Hara, dua bayi kembali harimau Benggala mati secara beruntun di Kebun Binatang Bandung, Rabu dan Kamis (25-26/3/2026). Penyebab kedua satwa itu mati diduga akibat mengidap penyakit Panleukopenia.

Panleukopenia merupakan penyakit yang disebabkan oleh Feline Parvovirus (Flv). Umumnya, Panleukopenia menyerang kucing. Penyakit ini bisa menyebar melalui kontak, ASI, dan lingkungan.

Humas Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Eri mengatakan, secara umum, Huru dan Hara, dua anak harimau Benggala itu terjangkit virus Flv.

Menurut Eri, walaupun telah dilakukan penanganan medis oleh berbagai pihak, namun nyawa keduanya tidak dapat diselamatkan.

“Banyak pihak yang terlibat dalam perawatan dan pemantauan, mulai dari Rumah Sakit Cikole, DKPP, BKSDA, hingga tim dari kebun binatang. Semua telah menunjukkan dedikasi luar biasa,” kata Humas BBKSDA Jabar.

Eri menjelaskan, kematian dua anak harimau Benggala itu kabar yang sangat memukul. BBKSDA Jabar sangat berduka, karena kedua anak harimau Bengga tersebut bukan sekadar satwa, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung.

“Kami tidak mengharapkan kejadian ini, karena berbagai upaya maksimal telah dilakukan, namun hasil berkata lain,” ujar Eri.

Biosecurity dan Animal Welfare

Terkait penanganan dari sisi biosecurity dan animal welfare (kesejahteraan satwa), Eri menuturkan, untuk penanganan secara keseluruhan, saat ini belum bisa kami jelaskan secara rinci.

“Nanti akan disampaikan lebih lanjut. Banyak faktor yang perlu kajian dan kami tidak bisa menyimpulkan secara sepihak,” tuturnya.

Eri mengatakan, anak harimau Benggala pertama yang mati adalah Hara pada Rabu (25/3/2026). Kemudian, saudara kembarnya, Huru menyusul saudaranya pada Kamis (26/3/2026) pagi. Huru di temukan tak bernyawa oleh petugas zoo keeper seusai pergantian piket.

“Sebelumnya, kami sempat memiliki harapan karena berdasarkan keterangan dokter hewan, satwa bisa bertahan melewati 48 jam, bahkan hingga 72 jam, peluang hidupnya cukup besar,” ucap Eri.

Humas BBKSDA Jabar menyatakan, sebelum mati, dua anak harimau itu mengalami gejala muntah-muntah dan diare. Bahkan terdapat darah pada feses.

“Meskipun sempat membaik, kondisi Huru akhirnya kembali menurun hingga nyawanya tidak tertolong,” ujarnya.

Eri menegaskan, selama ini, pembersihan kandang dan penyemprotan disinfektan telah di lakukan secara intensif oleh pihak kebun binatang.

“Penyebabnya bisa berasal dari berbagai faktor. Penularan bisa terjadi dari banyak sumber, termasuk interaksi dengan lingkungan sekitar,” tegas Eri.

Menurut Eri, secara teori, anak satwa lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri. Ada kemungkinan juga penularan dari induk. Namun hal ini masih perlu pendalaman lebih lanjut.

Positif Panleukopenia

Apakah penyakit Panleukopenia juga menyerang harimau lain di Kebun Binatang Bandung? Eri mengaku belum bisa memastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.

Saat terlihat ada penurunan kondisi pada anakan Huru dan Hara, tandas Eri, petugas segera melakukan isolasi ke kandang karantina dan melakukan penanganan intensif. Termasuk upaya diagnosis untuk menentukan terapi yang tepat.

“Setelah melakukan pemeriksaan, barulah kami mengetahui satwa tersebut positif Panleukopenia,” tandas Eri.

Sementara itu, dokter hewan Agnisa mengatakan, berdasarkan hasil rapid test, Huru dan Hara dua anak harimau Benggala, positif terjangkit virus Flv penyebab penyakit Panleukopenia.

“Saat gejala mulai muncul, kami langsung melakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis secara pasti,” kata Agnisa.

Dokter Agnisa menjelaskan, sampel dari feses menunjukkan hasil positif Panleukopenia.