P4KBB, dan Lions Club Bandung Pesona Kolaborasi Latih Penyuluh Stunting

BANDUNG BARAT,SINDOJABAR.COM –
Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat (P4KBB) kolaborasi dengan Lions Club Bandung Pesona.

Kerja sama yang dilakukan dengan menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini khususnya dalam hal penanganan stunting di KBB yang kasusnya masih tinggi.

Bahkan berdasarkan data, stunting di KBB termasuk salah satu yang tertinggi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dengan angka prevalansi mencapai 30,8%.

“Angka prevalansi stunting di Bandung Barat mencapai 30,8%, itu sangat tinggi,” kata Ketua P4KBB Yaqob Anwar Lewi saat ditemui di sela pelatihan penyuluh stunting di Kantor Dinas Kesehatan KBB, Jumat (4/9/2026).

Ia menyebutkan, para penyuluh yang mendapatkan pelatihan dari Dinas Kesehatan KBB ini bakal datang ke sekolah jenjang SMA, SMK hingga MA untuk memberikan edukasi tentang bahaya stunting

“”Kami latih 35 penyuluh yang akan mendapatkan sertipikat untuk disebar ke SMA dan pesantren guna memberikan pemahaman sejak dini bahayanya stunting,” tuturnya.

Para peserta pelatihan juga dibekali pendekatan psikologis dan emosional agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh sasaran. Mengingat penyelesaian stunting ini harus dari hulu tidak bisa hanya diselesaikan di hilirnya saja.

“Kami berharap program ini bisa berkelanjutan, sekarang kami akan menggodog konsepnya seperti apa untuk disampaikan supaya mengena, karena kalau hanya teori saja siswa bisa bosen,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama Presiden Lions Club Bandung Pesona, Clara Juni Handayani mengaku tergerak membantu karena melihat tingginya angka stunting di KBB. Apalagi lembaganya adalah konsen di bidang sosial untuk membantu masyarakat.

“Kami dari masyarakat untuk masyarakat, siapa lagi yang akan membantu kalau bukan kita. Terlebih stunting di KBB masih tinggi, dan ini program pertama kami untuk penanganan stunting, sebelumnya yang pernah dilakukan pemberian kacamata dan pembagian sembako,” sebutnya.

Sedangkan Ketua Bidang Kesehatan P4KBB, dr. Achmad Oktorudy, menilai upaya pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada anak yang sudah lahir.

Intervensi justru perlu dimulai sejak usia remaja, terutama melalui edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan anemia pada remaja putri, persiapan sebelum menikah, hingga pemenuhan gizi selama kehamilan dan masa pertumbuhan anak.

Pasalnya masyarakat membutuhkan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan. Tidak hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga dari orang tua, pemerintah daerah dan organisasi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan stunting.

“Faktor yang menyebabkan stunting banyak, seperti karena nutrisi saat hamil tidak bagus, nutrisi saat anak balita tidak diperhatikan, dan masih banyak lagi. Makanya penting memberikan edukasi kepada remaja putri bagaimana mempersiapkan diri supaya kalau menikah, reproduksinya sudah benar-benar matang untuk menghadapi pernikahan dan kehamilan,” tandasnya.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan KBB, Duddy Prabowo menyambut baik kolaborasi dengan P4KBB dan Lions Club Bandung Pesona dalam penanganan stunting.

Duddy mengatakan, tingginya angka tersebut menjadi perhatian serius pihaknya dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Stunting.

Termasuk berkolaborasi lintas sektor dengan P4KBB (Paguyuban Pejuang Peduli Pembangunan Kabupaten Bandung Barat) dan Lions Club Bandung Pesona.

Sebab penanganan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan saja. Tetapi memerlukan intervensi berbagai pihak, serta penanganan mulai dari tahap pranikah, masa kehamilan hingga pemantauan gizi balita di bawah dua tahun.

“Sebagai upaya memperluas jangkauan penanganan, kami menggelar pelatihan bagi 35 orang calon penyuluh stunting yang nantinya akan disebarkan ke sekolah menengah atas dan pesantren di seluruh wilayah KBB,” ucapnya.

Menurutnya langkah tersebut dilakukan mengingat tingginya angka pernikahan dini di kalangan remaja perempuan. Berdasarkan data di mana lebih dari 60% lulusan perempuan SMA melangsungkan pernikahan tak lama setelah lulus. Kondisi itu berpotensi menimbulkan risiko stunting pada keturunannya.

“Selain menyiapkan penyuluh, intervensi program juga dilakukan seperti pemberian makanan tambahan berprotein hewani kepada ibu hamil dan balita, program minum susu, dan yang lainnya,” pungkas Duddy. (*)