SindoJabar, BANDUNG – Kantin Kejujuran Sekretariat DPRD Kota Bandung menjadi salah satu fasilitas pegawai dan tamu. Jajan di kantin kejujuran ini tanpa pelayan dan kasir.
Tidak terdapat pula kamera CCTV yang mengawasi aktivitas di kantin ini. Pembayaran cukup melalui aplikasi QRIS dengan mengedepankan kejujuran dan hati nurani konsumen.
“Kenapa nurani, karena memang transaksi tidak ada yang mengawasi sama sekali. Jadi faktor kejujuran menjadi tolok ukurnya,” kata Sekretaris DPRD Kota Bandung Yasa Hanafiah.
Yasa menyatakan, Kantin Kejujuran merupakan legacy dari Sekretaris DPRD Kota Bandung sebelumnya, almarhum Salman Fauzi. Sehingga kantin kejujuran dipertahankan karena bertujuan meningkatkan jiwa jujur pegawai.
“Kalau pendapatan tentu tidak seperti kantin yang dikelola secara profesional. Namun lewat kantin kejujuran ini, setidaknya kita bisa mengukur karakter Aparatur Sipil Negara (ASN). Yaitu,, malu tdak jujur dan berbohong,” ujarnya.
Kalau laporan dari staf kantin kejujuran rugi, tutur Yasa, berarti pegawai atau tamu yang berbelanja tidak melaksanakan pembayaran sesuai harga. Atau bahkan tdak membayar sama sekali.
“Jika untung. Itu berati orang yang jajan di kantin kejujuran ini dominan orang jujur dan bernurani,” tutur Yasa.
Bertahan dan Berkembang
Menurut Yasa, dibanding dinas lain, Kantin Kejujuran Sekretariat DPRD Kota Bandung dapat bertahan dan berkembang, baik jenis barang maupun inovasi bertransaksi.
“Sebagai Sekretaris DPRD tentu saya mendukung pengelola untuk lebih mengembangkan kantin kejujuran,” ucapnya.
Pengelola Kantin Kejujuran Sekretariat DPRD Kota Bandung Elent Maryta mengatakan, kantin ini masih sederhana. Namun sejumlah jajanan telah tersedia.
“Ya para pegawai (Sekretariat DPRD Kota Bandung) sudah bisa memanfaatkan kantin kejujuran ini, meski belum semua tersedia,” kata Elent.
Elent menyatakan, kemungkinan ada konsumen yang tidak membayar jajanan. Namun belum pernah ada orang yang tepergok mengambil dan memakan jajanan tanpa membayar.
“Kalau memang punya nurani pasti malu lah. Tapi ya bisa saja ada sih yang begitu (tidak membayar),” ujarnya.






