SindoJabar, BANDUNG – Mantan Gubernur Jabar periode 2003-2028, Danny Setiawan meninggal dunia pada usia 81 tahun, Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Almarhum Danny Setiawan dimakamkan di permakaman keluarga di Cihideung, Kabupaten Purwakarta.
Sebelum dimakamkan di Purwakarta, jenazah almarhum Danny Setiawan disalatkan di Masjid Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung.
Seusai salat jenazah, almarhum Danny Setiawan dibawa ke Purwakarta. Sejumlah kerabat dan pejabat Pemprov Jabar mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhir.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kepada wartawan di rumah duka, mengaku memiliki banyak kenangan dengan almarhum Danny Setiawan.
Di mata Dedi, almarhum bukan sekadar senior di birokrasi dan politik, melainkan figur pamong bijaksana, toleran terhadap dinamika pemikiran anak muda, dan meninggalkan jejak pembangunan nyata di Tanah Pasundan.
Dedi menceritakan, hubungan dekat dengan almarhum Danny Setiawan terjalin sejak dia menjabat Wakil Bupati Purwakarta pada awal 2000-an.
Saat itu, Danny masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar. Kemudian Danny Setiawan terpilih sebagai Gubernur Jabar.
“Saya dengan Pak Danny Setiawan itu kenal lama. Sejak saya masih Wakil Bupati Purwakarta dan beliau Sekda Jabar. Kemudian terpilih jadi gubernur,” kata Dedi Mulyadi.
SDK Kahuripan Padjadjaran
Waktu itu, ujar Dedi, sebagai wakil bupati, punya keterbatasan dalam mewujudkan ide. Namun, Danny merespons salah satu ide Dedi dan akhirnya terwujud. “Yaitu, sekolah berbasis kesundaan SDK Kahuripan Padjadjaran,” ujar Dedi.
Dedi menuturkan, sekolah berkonsep ekologi dan kearifan lokal itu sempat mengalami kendala teknis anggaran. Peyebabnya, bantuan awal sebesar Rp500 juta tergeser.
“Almarhum Danny Setiawan turun tangan dan menjamin bantuan lanjutan hingga bangunan sekolah berdiri di Purwakarta,” tutur Dedi.
Dedi juga memiliki kenangan dengan Danny di panggung politik Jawa Barat. Dedi aktif mendorong Danny memimpin DPD Partai Golkar Jabar. Namun Danny mundur hingga Ketua DPD Partai Golkar Jabar di emban Uu Rukmana.
Almarhum Danny pun memberikan dukungan moril kepada Dedi Mulyadi saat maju sebagai bupati di Pilkada Purwakarta.
“Saat saya mencalonkan diri menjadi bupati, beliau menopang saya dengan memberikan pemahaman, gagasan, dan mendorong untuk terus maju,” ucap Dedi.
Dedi mengungkap sisi pemberontakan saat menjabat Wakil Bupati Purwakarta. Pemberontakan terjadi saat wilayah Bandung Raya darurat sampah.
Tolak Purwakarta Jadi Tempat Pembuangan Sampah
Saat itu, Pemprov Jabar menetapkan Purwakarta sebagai lokasi pembuangan sampah regional. Namun, Dedi dengan tegas menolak instruksi Danny Setiawan tersebut.
“Saya tidak setuju dan menolak Purwakarta jadi tempat pembuangan sampah. Akhirnya Pak Danny dengan sangat bijak memindahkan lokasi ke Sarimukti, Bandung Barat,” ujar Dedi.
Kenangan berkesan lainnya adalah saat Dedi di tegur secara terbuka oleh Danny Setiawan dalam rapat akbar kepala daerah se-Jawa Barat di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang.
Ketika para bupati, wali kota, dan pejabat dinas se-Jawa Barat mengenakan seragam dinas resmi, Dedi hadir dengan pakaian serba hitam khas Sunda.
“Saya di tegur, ‘Atuh pakai baju lah yang rapi sesuai aturan’. Saya jawab santai, ‘Nu penting mah Pak, gawena (yang terpenting kerjanya)’. Itu momen kenangan yang membekas sekali antara saya dengan beliau,” tutur Dedi.






