Project Sensoria 2 Eksplorasi Overstimulasi lewat Seni Interaktif dan Teknologi

Sindojabar, Bandung – Arus informasi, suara, visual, notifikasi hingga data digital yang hadir nyaris tanpa jeda menjadi perhatian dalam Project Sensoria 2.

Melalui seni berbasis teknologi, program workshop dan inkubasi yang digelar Goethe-Institut Indonesia tersebut mengajak seniman muda mengeksplorasi hubungan antara apa yang ditangkap indera dan apa yang dirasakan manusia di tengah kepadatan stimulus.

Baca Lagi Summarecon Bandung Perkuat Ekosistem Kreatif, Hadirkan LIMINAL Karya Budi Pradono

Eksplorasi tersebut diwujudkan melalui karya new media art, seni interaktif, hingga instalasi yang memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari medium kreatif. Hasil karya para peserta kemudian dipamerkan dalam Sensoria #2 di Goethe-Institut Bandung pada 21-26 September 2026.

Project Sensoria 2 mengangkat tema “Overstimulated Sensing and Feeling in Excess”. Tema tersebut berangkat dari kondisi ketika manusia menerima berbagai informasi dan stimulus dalam jumlah besar, sementara kemampuan untuk memprosesnya secara emosional dan kognitif tidak selalu berjalan seimbang.

Kurator Project Sensoria 2, Bita Cokonegara, mengatakan berbagai stimulus yang diterima manusia melalui pancaindra tidak selalu dapat diterjemahkan secara utuh menjadi pengalaman perasaan.

“Kita sering kali mendapatkan banyak informasi atau stimulus dari eksternal, yang kita rasakan lewat pancaindra, seperti pendengaran dan penglihatan. Tetapi dari semua hal yang masuk, tidak semuanya bisa kita tangkap atau pahami dari sisi perasaan,” kata Bita, Sabtu (19/9/2026)

Menurut dia, ketidaksinkronan antara sensing dan feeling tersebut menjadi salah satu titik berangkat para seniman dalam mengembangkan karya.

Dalam kondisi overstimulasi, manusia dapat menerima informasi dalam jumlah besar, tetapi belum tentu memiliki waktu untuk memahami makna maupun meresponsnya secara emosional. Situasi tersebut juga bersinggungan dengan pengalaman, memori, serta persepsi yang telah terbentuk sebelumnya.

Project Sensoria 2 kemudian memberikan ruang bagi para peserta untuk mengolah pengalaman tersebut melalui pendekatan seni berbasis teknologi.

Program ini dimulai melalui proses open call pada Juli 2026. Dari berbagai aplikasi yang masuk, kurator dan fasilitator Arum Larasati Winarso dan Puspita Tjokonegoro memilih 10 seniman muda untuk mengikuti rangkaian workshop dan proses inkubasi.

Sepuluh peserta tersebut yakni Adiva Prabandaru, Fila Aghnia Anantyo, Maaliki Sadikin, Alyssa Putri Azzahra, Rex Leonard, Valentina Kris Utami, Annisa Faradila, Aqzra Rizki, Bagus Sesar, dan Ulinuha Machisabillah.

Para peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Bandung, Jakarta, Blitar, dan Palu. Program tersebut juga tidak membatasi peserta hanya dari kalangan mahasiswa sehingga memberikan kesempatan kepada seniman muda dengan latar belakang yang beragam untuk mengembangkan gagasannya.

Dalam proses inkubasi, 10 partisipan dibagi ke dalam sejumlah kelompok dan menghasilkan tiga karya yang merespons fenomena overstimulasi berdasarkan pengalaman personal maupun kolektif.

Teknologi menjadi salah satu elemen penting dalam proses tersebut. Melalui cahaya, suara, gerak, data, dan sensor, para peserta mencoba menerjemahkan stimulus yang diterima tubuh menjadi pengalaman artistik yang dapat dirasakan audiens.

Pendekatan tersebut menjadi karakteristik new media art yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya, teknologi, lingkungan, dan pengunjung.
Karya tidak semata-mata disajikan sebagai objek untuk dilihat, tetapi dapat merespons keberadaan maupun aktivitas audiens.

Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru Constanze Michel mengatakan Sensoria #2 mengajak peserta mengembangkan instalasi interaktif dengan pengalaman sensorik yang halus sekaligus padat.

“Karya yang dihasilkan tidak hanya menampilkan data, tetapi juga membuka ruang bagi perasaan yang menghadirkan kondisi di mana indra, emosi, dan teknologi saling berinteraksi dalam keadaan penuh, sensitif, dan sedikit tidak pasti,” ujarnya.

Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesia Elizabeth Soegiharto mengatakan para seniman terpilih mengikuti rangkaian lokakarya sejak Juli untuk mengeksplorasi kondisi overstimulasi melalui penciptaan karya instalasi interaktif.

“Para seniman terpilih mengikuti rangkaian lokakarya untuk mengeksplorasi kondisi overstimulasi lewat penciptaan karya instalasi interaktif yang mempertemukan sensing, feeling, dan teknologi—melalui penggunaan cahaya, suara, gerak, serta sensor untuk memetakan respons tubuh terhadap dunia yang penuh stimulan,” katanya.

Eksplorasi teknologi dalam program tersebut juga menghadirkan tantangan teknis. Sebab, karya dipresentasikan di ruang terbuka sehingga peserta perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, termasuk kondisi cuaca.

Para peserta ditantang memastikan karya tetap dapat berfungsi ketika menghadapi kondisi seperti hujan tanpa mengubah konsep utama yang telah dikembangkan. Persoalan teknis tersebut menjadi bagian dari proses inkubasi karena seniman tidak hanya dituntut mengembangkan gagasan artistik, tetapi juga memastikan karya dapat berinteraksi dengan ruang dan audiens.

Melalui proses tersebut, Project Sensoria 2 tidak hanya menjadi ruang presentasi karya, tetapi juga wadah pengembangan seniman muda dalam mengeksplorasi persinggungan antara teknologi, pengalaman personal, dan kehidupan digital.

Program Sensoria pertama kali hadir pada 2023 di Jakarta melalui kolaborasi Goethe-Institut, Tomy Herseta, Arafura Media Design, dan Convert Textured. Sensoria #2 menjadi edisi kedua dari program tersebut.

Pameran Sensoria #2 dapat dikunjungi pada 21-26 September 2026 di Goethe-Institut Bandung, mulai pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.