SindoJabar, BANDUNG – Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, ditandai dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan daya beli, membuat banyak keluarga perlu menyusun ulang prioritas konsumsi sehari-hari.
Untuk menginspirasi orang tua dalam mengambil keputusan konsumsi lebih bijak di tengah keterbatasan anggaran, Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia menyelenggarakan media talk bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” hari ini di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) I Dewa Gede Karma Wisana mengatakan, tekanan ekonomi adalah nyata dan terukur.
Tingkat pendapatan masyarakat terbagi menjadi 5, dengan kuintil 1 yang paling rendah dan kuintil 5 paling tinggi.
“Semakin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan,” kata I Dewa Gede Karma Wisana.
Pada kuintil 1, ujar Dewa, pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sedangkan pada kuintil 5, sebesar 40,5 persen.
Dia menyatakan, bisa dibayangkan bila terjadi peningkatan harga pangan maupun biaya hidup lainnya.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Sosial (SUSENAS) 2024 dan 2025 oleh BPS, tampak bahwa telah terjadi perubahan pola belanja.
Terdapat tambahan 5,98 persen belanja bukan makanan; tambahan belanja makanan hanya 3,16 persen.
“Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja non-makanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya. Sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” ujarnya.
Pola Belanja Pangan Berubah
Menurut Dewa, pola belanja pangan pun berubah cukup drastis. “Alokasi belanja makanan jadi atau beli di luar, meningkat cukup tajam; kita lebih sering jajan. Yang juga meningkat yaitu rokok dan tembakau, setara dengan bahan pangan padi-padian,” tutur Dewa.
Selain itu, katanya, ketika anggaran tertekan, yang pertama dikorbankan bukan jumlah kalori, melainkan mutu gizi. Beras tetap dibeli, tapi lauknya menyusut.
Alokasi belanja protein seperti ikan/udang/cumi, telur dan susu, dan daging, jadi semakin kecil. “Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” ucapnya.
Bahkan, ujar Dewa, protein hewani kerap dipandang sebagai bahan pangan yang mahal. Menurut Dewa, pandangan ini dipengangaruhi oleh bias harga dari daging sapi.
“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu. Ini masih kurang optimal di konsumsi dan sebetulnya bisa lebih banyak,” ujar Dewa.
Dia menjelaskan, telur dan ikan bisa menjadi back bone untuk protein hewani keluarga sehari-hari. “Susu juga bisa di konsumsi untuk menambah mutu gizi makanan,” tuturnya.
Apa dampaknya bila kita mengorbankan asupan gizi keluarga, terutama anak-anak, lantaran tekanan ekonomi?
“Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” ucapnya.
Dewa menegaskan, generasi berikutnya akan sangat terdampak bila kesenjangan asupan gizi terus terjadi, di mana gizi yang baik hanya bisa di akses oleh mereka yang “mampu”.
Potensi penyakit yang muncul di masa mendatang pun besar, dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Optimalkan Gizi Meski Budget Minimal
Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani SGz MSc mengatakan, makanan sehat dan bergizi tidak harus mahal.
“Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu misalnya ikan salmon,” kata Tara.
Menurut Tara, rata-rata penduduk Indonesia sudah mencukupi kebutuhan kalori sehari-hari. “Namun, masih dominan karbohidrat,” ujarnya.
Namun, tutur Tara, bukan berarti hal ini salah. Faktanya memang, karbohidrat menempati porsi 50-60 persen dari asupan pangan harian. Yang perlu di variasikan adalah sumber karbohidratnya.
“Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus,” tutur Tara.
Dia menyoroti soal konsumsi protein orang Indonesia. “Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik, yaitu, tempe dan tahu, yang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah di cerna dan di serap,” ucapnya.
Terlebih untuk anak-anak, ujar Tara. Sebab, protein hewani mengandung asam lemak esensial lengkap yang sangat di butuhkan untuk menunjang tumbuh kembang anak.
Mirisnya, hanya 43 persen balita usia 6-23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet (MPASI bergizi beragam, terutama telur dan daging).
Pilih Protein Lebih Ekonomis
Seperti Dewa, Tara juga mengingatkan bahwa ikan dan telur bisa menjadi salah satu pilihan protein yang lebih ekonomis di bandingkan daging.
“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” ujar Tara.
Tara menuturkan, susu bisa menjadi pelengkap gizi karena mengandung begitu banyak zat gizi dalam tiap porsinya. “Susu memiliki skor DIAAS tertinggi dalam protein hewani,” tuturnya.
Tara menjelaskan, Digestible Indispensable Amino Acid Score (DIAAS) adalah metode pengukuran kualitas protein berdasarkan seberapa baik asam amino esensial dapat di cerna dan di serap oleh tubuh.
Semakin tinggi skornya, semakin baik pula penyerapan nutrisinya di dalam tubuh. Susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.
Tara mengingatkan untuk berpedoman pada Tumpeng Gizi dan Isi Piringku dalam menyusun menu makan keluarga.
Yaitu, 2/3 piring terdiri dari karbohidrat, 2/3 sayur, 1/6 sumber protein, dan 1/6 lagi buah. Tentu, ada tantangan di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang.
“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” ucap Tara.
Dia melanjutkan, jangan merasa bersalah bila sesekali belanja makanan di luar, atau membeli processed food yang tinggal di goreng.
“Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” ujarnya.
Evaluasi Prioritas Pengeluaran
Sementara itu, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew F Saputro mengatakan, di tengah situasi ekonomi saat ini, masyarakat perlu mengevaluasi kembali prioritas pengeluaran. Termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.
“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” kata Andrew.
Andrew menyatakan, melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia berkomitmen penuh untuk mendampingi seluruh keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan mereka khususnya masa-masa penuh tantangan ini.
“Kami berupaya mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik, yaitu asupan susu kaya gizi sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat,” ujarnya.
Tidak hanya menghadirkan produk kaya gizi dan berkualitas, Frisian Flag Indonesia juga konsisten memberikan edukasi kesehatan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konsumsi susu sejak dini dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.
“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya. Misalnya dengan menghadirkan para pakar dalam diskusi hari ini agar literasi mengenai nutrisi semakin baik dan keluarga Indonesia dapat semakin bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang baik bagi mereka,” tutur Andrew.






