Berkat Dukungan BCA, Omzet UMKM Pakaian Anak Asal Bandung Tumbuh hingga 200%

Sindojabar, Bandung – Pengelolaan modal kerja dan rantai pasok menjadi faktor penting bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah persaingan pasar.

Hal ini tercermin dari perjalanan Cuit Babywear, jenama pakaian bayi dan anak asal Bandung yang mampu meningkatkan omzet hingga 200% setelah membenahi operasional dan memperkuat akses pembiayaan.

Didirikan pada 2016, Cuit Babywear memulai usaha dengan mengandalkan penjualan daring. Perusahaan kemudian memperluas jaringan distribusi melalui pembukaan toko fisik pada 2021 seiring meningkatnya permintaan pasar.

Namun, ekspansi yang berlangsung cepat tidak diimbangi kesiapan operasional dan manajemen rantai pasok. Kondisi tersebut menimbulkan tekanan likuiditas pada 2022 sehingga perusahaan perlu mengevaluasi strategi pertumbuhan dan tata kelola bisnisnya.

Direktur sekaligus Owner Cuit Babywear Hans Saputra mengatakan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting mengenai perlunya menjaga keseimbangan antara ekspansi usaha dan kemampuan keuangan perusahaan.

“Waktu itu saya terlalu percaya diri dan terburu-buru berekspansi. Untuk itu, kami harus belajar lagi dari awal, mulai dari menata supply chain, strategi pemasaran, sampai pada tata kelola perusahaan yang lebih sehat,” kata Hans di Bandung, Kamis (22/10/2026).

BACA JUGA: Ratnawati Dorong UMKM Jabar Naik Kelas, Perkuat Ekonomi Kerakyatan

Untuk memperbaiki kondisi bisnis, Cuit Babywear mulai memanfaatkan fasilitas kredit UMKM dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada 2022. Pembiayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, memperbaiki infrastruktur usaha, serta mendukung strategi pemasaran.

Menurut Hans, ketersediaan modal kerja membantu perusahaan menjaga kelancaran operasional sekaligus menjalankan pembenahan bisnis secara lebih terukur.

“Dengan dukungan kredit usaha dari BCA, kami punya ruang untuk berbenah dengan tenang dan terukur. Kami memilih kredit UMKM BCA karena bunganya kompetitif, kemudahan akses jaringan kantor cabang yang luas, serta kualitas pelayanan BCA yang sudah diakui. Fasilitas ini sangat vital untuk menjaga perputaran bisnis kami,” ujarnya.

Selain pembiayaan, Cuit Babywear mengikuti program pengembangan UMKM yang membuka peluang perluasan jaringan usaha dan akses pasar. Perusahaan di antaranya berpartisipasi dalam BCA UMKM Fest dan BCA Bangga Lokal.

Cuit Babywear juga tercatat sebagai salah satu toko dengan nilai penjualan daring tertinggi dalam gelaran BCA UMKM Fest pada 2025 dan 2026.

Perbaikan pengelolaan usaha mulai tercermin pada kinerja penjualan. Cuit Babywear mencatat pertumbuhan omzet sekitar 100% pada 2023. Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga mencapai sekitar 200% pada masing-masing tahun 2024 dan 2025.

Pada 2026, perusahaan menargetkan pertumbuhan omzet mendekati 100%. Untuk mendukung target tersebut, Cuit Babywear memperluas jangkauan distribusi ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa, terutama Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), serta sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa.

Perjalanan Cuit Babywear memperlihatkan bahwa akses pembiayaan perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang sehat. Ketersediaan modal saja tidak cukup apabila tidak disertai perencanaan ekspansi, pengendalian biaya, serta pengelolaan persediaan dan distribusi yang memadai.

Bagi UMKM yang tengah berkembang, kemampuan menjaga arus kas menjadi krusial agar kebutuhan operasional tidak terganggu ketika kapasitas produksi dan jaringan pemasaran meningkat.

 

Kredit UKM BCA Tumbuh 6,9%

Pembiayaan UMKM masih menjadi salah satu segmen yang mendapat perhatian industri. BCA mencatat penyaluran kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh 6,9% secara tahunan hingga Juli 2026, dengan nilai mencapai Rp134 triliun.

Pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan kredit UKM industri perbankan yang tercatat sebesar 1,2% secara tahunan pada periode yang sama berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pengembangan UMKM memerlukan dukungan yang tidak terbatas pada pembiayaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas usaha dan perluasan akses pasar.

“Kami bersyukur dukungan yang kami berikan dapat menjadi katalisator bagi UMKM untuk naik kelas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain penyaluran kredit, BCA mengembangkan program pembinaan yang mencakup pelatihan bisnis, literasi keuangan, digitalisasi usaha, hingga pendampingan ekspor. Sebanyak 1.829 UMKM telah mengikuti program pelatihan tersebut dengan dukungan 43 modul pembelajaran dan total 52 jam pelatihan.

Dukungan itu diarahkan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas pengelolaan bisnis sekaligus memperluas jangkauan produk lokal ke pasar yang lebih besar.

Bagi UMKM seperti Cuit Babywear, kombinasi pembiayaan, pembenahan operasional, dan perluasan pasar menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kenaikan omzet berjalan seiring dengan kesehatan arus kas, efisiensi usaha, dan kemampuan memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan.