Sindojabar, Bandung – Festival Seriale Indonesia 2026 mendorong industri perfilman Indonesia memasuki jejaring internasional dengan mempertemukan sineas nasional, mahasiswa perfilman, serta pelaku industri dari Jerman, Spanyol, dan sejumlah negara lainnya.
Ajang yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di Goethe-Institut Bandung itu tidak hanya menampilkan karya serial dari berbagai negara, tetapi juga membuka peluang kolaborasi, distribusi, hingga promosi karya Indonesia ke pasar global.
Festival tersebut menghadirkan ruang diskusi, pemutaran karya, lokakarya, dan forum jejaring yang mempertemukan para kreator serial Indonesia dengan pembuat film internasional.
Kehadiran pelaku industri dari berbagai negara dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan industri serial yang kini menjadi salah satu sektor kreatif dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Direktur Goethe-Institut Bandung, Matthias Ventker, mengatakan Seriale Indonesia 2026 sengaja dirancang sebagai wadah yang menghubungkan kreator lintas negara melalui karya audiovisual.
“Kami menayangkan berbagai serial dari Indonesia, Jerman, dan berbagai negara lainnya. Ada serial bergenre horor, serial anak-anak, serta berbagai genre lainnya,” kata Matthias di Bandung, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga membangun ekosistem kolaborasi yang memungkinkan sineas Indonesia menjalin hubungan profesional dengan pelaku industri internasional.
Salah satu dampak nyata festival terhadap industri perfilman nasional terlihat melalui penghargaan Best Indonesian Series. Pemenang kategori tersebut akan memperoleh kesempatan mempresentasikan karyanya pada Festival die Seriale di Kota Gießen, Jerman, pada tahun depan.
“Pembuat serial Indonesia terbaik nantinya akan berangkat ke Jerman tahun depan untuk mempresentasikan karyanya di Festival die Seriale di Kota Gießen,” ujarnya.
Kesempatan tersebut membuka akses baru bagi kreator Indonesia untuk memperkenalkan karya kepada produser, distributor, investor, dan komunitas perfilman internasional sehingga berpotensi memperluas pasar serial produksi dalam negeri.
Festival juga memperkuat regenerasi industri dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi di Bandung yang memiliki program studi perfilman. Setiap kampus memproduksi satu serial yang kemudian dinilai oleh dewan juri dalam kompetisi mahasiswa.
Matthias menilai langkah tersebut memperkenalkan mahasiswa kepada standar produksi internasional sekaligus membangun kesiapan talenta muda memasuki industri kreatif global.
“Kami bekerja sama dengan berbagai universitas di Bandung. Setiap universitas memproduksi satu serial, kemudian dewan juri memilih karya terbaik,” katanya.
Kolaborasi internasional juga semakin kuat melalui keterlibatan Kedutaan Besar Spanyol yang menghadirkan berbagai serial asal negara tersebut. Menurut Matthias, pertukaran karya dari berbagai negara menjadi sarana efektif memperluas wawasan kreatif sekaligus membuka peluang produksi bersama pada masa mendatang.
“Gagasan utama festival ini adalah menghubungkan para pembuat film dari Indonesia dengan para sineas dari Jerman maupun negara-negara lain, sehingga tercipta jaringan internasional yang kuat dalam industri perfilman dan produksi serial,” ujarnya.
Adapun, Wakil Kepala Perwakilan yang ditunjuk di Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta, sekaligus pembuat film asal Spanyol, Rose of Dolls,
Oliver Sperling mengatakan festival budaya seperti Seriale Indonesia memberikan dampak besar terhadap perkembangan industri audiovisual karena mempertemukan masyarakat dan kreator dari berbagai negara.
“Manfaat terbesar dari kegiatan seperti ini adalah pertukaran budaya,” katanya.
Ia menilai hubungan antarnegara semakin kuat ketika para pembuat film dapat bertemu secara langsung, bertukar pengalaman, dan membangun proyek kolaboratif yang melampaui batas geografis.
“Yang terpenting adalah bagaimana orang-orang dapat saling bertemu dan membangun hubungan pada tingkat kemanusiaan. Di sinilah proyek budaya seperti die Seriale memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya.
Menurut Rose of Dolls, serial televisi kini menjadi media yang mampu memperkenalkan realitas sosial, budaya, serta karakter masyarakat kepada audiens global sehingga membuka peluang lebih besar bagi karya Indonesia untuk diterima di pasar internasional.
“Melalui serial, kita dapat memahami seperti apa masyarakat yang kita tinggali, realitas yang kita hadapi, hingga berbagai tantangan yang dihadapi masing-masing negara,” katanya.
Sementara itu, Direktur die Seriale Jerman, Csongor Dobrotka, menjelaskan kemitraan antara die Seriale dan Festival Seriesland Bilbao telah berlangsung selama 11 tahun melalui pertukaran karya dan pengalaman penyelenggaraan festival. Tahun ini, jejaring tersebut diperluas ke Indonesia melalui penyelenggaraan Seriale Indonesia.
“Selama 11 tahun terakhir kami memiliki hubungan pertukaran yang sangat baik. Kami saling bertukar serial yang diputar di masing-masing festival sekaligus bekerja sama dalam penyelenggaraan festival kami,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran sineas internasional di Bandung mampu memperkuat transfer pengetahuan kepada mahasiswa serta membuka kolaborasi jangka panjang dengan kreator Indonesia.
“Saya berharap mereka dapat berbagi pengalaman kepada mahasiswa maupun para sineas di sini, sekaligus membangun hubungan dan jejaring kerja sama di masa depan,” katanya.
Seriale Indonesia merupakan festival saudara dari die Seriale Jerman yang kembali digelar di Goethe-Institut Bandung setelah penyelenggaraan perdana pada 2025. Tahun ini festival menghadirkan 29 serial nominasi dari Indonesia, Jerman, Spanyol, dan sejumlah negara lain dengan genre drama, dokumenter, horor, hingga serial anak.
Melalui jaringan internasional yang semakin luas, ajang tersebut memperkuat daya saing industri perfilman Indonesia, mempercepat lahirnya kolaborasi lintas negara, serta membuka jalan bagi serial karya sineas nasional untuk bersaing dan dikenal di panggung perfilman dunia.






