SindoJabar, JAKARTA – PT BCA Syariah merespons kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah yang semakin beragam, dari ibadah ke Tanah Suci hingga menyiapkan investasi jangka panjang. BCA Syariah menyediakan fasilitas pembiayaan multijasa, emas, kepemilikan rumah, dan kendaraan bermotor.
Dengan beragam pilihan pembiayaan, BCA Syariah berupaya menjangkau kebutuhan nasabah yang tidak hanya berkaitan dengan konsumsi. Tetapi juga perencanaan ibadah dan investasi.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Retail dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan mengatakan, pembiayaan umrah menjadi salah satu program yang disediakan perseroan bagi nasabah yang ingin mewujudkan rencana perjalanan ibadah.
Selain umrah, kata Bukit Mas Siahaan, pembiayaan multijasa BCA Syariah juga mencakup kebutuhan lain, termasuk program bayi tabung.
“Produk-produk tersebut menunjukkan kinerja positif seiring beragamnya kebutuhan masyarakat,” kata Bukit dalam acara Kick Off BCA Syariah Journalist Competition 2026 Sahabat Berkahmu bertema “Membaca Arah dan Tren Bisnis Konsumer Syariah, in this Economy” beberapa waktu lalu.
Menurut Bukit, di tengah dinamika daya beli, masyarakat semakin selektif dalam memilih layanan keuangan untuk memenuhi kebutuhan, baik saat ini maupun merencanakan masa depan.
“Keuangan syariah memberikan kepastian tanpa unsur spekulasi yang menjadi nilai tambah bagi nasabah,” ujar Bukit.
Pembiayaan Emas Meningkat
Selain untuk kebutuhan ibadah dan jasa, tutur Bukit, BCA Syariah juga mencatatkan pertumbuhan pembiayaan pada produk berbasis aset. Pembiayaan emas meningkat 81,76 persen dari Rp329 miliar menjadi Rp598 miliar per Agustus 2026.
Pembiayaan KPR tumbuh 24,17 persen, dari Rp1.437 miliar menjadi Rp1.784 miliar. Sementara pembiayaan kendaraan bermotor naik 32,59 persen, dari Rp59 miliar menjadi Rp78 miliar.
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, emas tetap memiliki daya tarik sebagai instrumen investasi jangka panjang. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, harga emas telah meningkat lebih dari 200 persen. Meskipun pergerakannya tetap dipengaruhi kondisi ekonomi global.
“Kalau kita lihat secara prospek ke depan, emas itu masih tetap menarik. Kalau kita lihat pun, walaupun animonya tidak setinggi di awal tahun, tapi kita lihat semakin banyak nasabah yang sudah paham. Bahkan mereka memandang emas itu adalah investasi jangka panjang,” kata Pranata.
Untuk mempermudah nasabah mengakses pembiayaan emas, BCA Syariah menurunkan minimum pembiayaan dari 10 gram menjadi 5 gram. Pengajuan juga dapat dilakukan melalui fitur Emas iB di aplikasi mobile banking Bsya.
Pilihan emas yang dapat dibiayai, ujar Pranata, turut di perluas. Jika sebelumnya hanya emas Antam, kini nasabah juga dapat mengajukan pembiayaan untuk emas Galeri 24 dan Hartadinata.
Pranata menyatakan perseroan masih melihat peluang pengembangan pembiayaan emas sebagai bagian dari kebutuhan investasi masyarakat. “Nah, dengan demikian kami masih melihat potensi emas sebagai investasi jangka panjang. Sebagai alternatif juga salah satunya,” ujar Pranata.
Indusri Keuangan Syariah
Pranata mengingatkan nasabah untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan investasi. Masyarakat perlu menghindari penempatan seluruh dana pada satu jenis instrumen.
“Kalau untuk investasi kan kita taruh di satu basket atau satu keranjang semua, itu kan kurang bagus. Jadi memang kita juga selalu memberikan pemahaman kepada nasabah, emas itu adalah satu basket yang cukup bagus untuk jangka panjang. Nah, sekarang kita lihat potensi ke depan, kita masih melihat, tetap bagus untuk prospeknya,” tutur Pranata.
Ekonom Syariah sekaligus Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK Dian Masyita mengatakan, total aset keuangan syariah mencapai Rp3.264 triliun per Juni 2026, tumbuh 9,82 persen secara tahunan.
Namun, pangsa keuangan syariah nasional masih sebesar 11,24 persen, di tengah populasi muslim yang mencapai sekitar 87 persen dari penduduk Indonesia.
“Industri keuangan syariah terus tumbuh, tipis tetapi masih optimistis di tengah dinamika ekonomi nasional dan global. Kemudian kebutuhan masyarakat beragam, produknya bisa kita lihat, layanan mudah di akses, relevan, kompetitif dan sesuai dengan syariah,” ujar Dian.






