SindoJabar, BANDUNG – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Pemprov Jabar menyepakati kolaborasi strategis untuk mangatasi persoalan tata ruang kota, mitigasi bencana, dan modernisasi transportasi publik ramah lingkungan.
Komitmen tersebut disampaikan oleh Ketua PII Ilham Akbar Habibie dan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dalam gelaran Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) di Kota Bandung, Selasa (20/10/2026).
Ketua Umum PII sekaligus Chairman ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) Ilham Akbar Habibie mengatakan, pemilihan Bandung dan Jawa Barat sebagai tuan rumah konferensi insinyur se-Asia Tenggara ini sangat tepat.
Sebab, Kota Bandung dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan, riset, teknologi, industri strategis, dan inovasi Indonesia. Hal itu didukung keberadaan institusi pendidikan tinggi berkelas dunia dan korporasi berteknologi tinggi.
“PII berkomitmen membantu Pemprov Jabar mengurai berbagai problema daerah, terutama penataan transportasi massal perkotaan dan penyusunan tata ruang wilayah yang berketahanan lingkungan,” kata Ketua PII seusai membuka CAFEO.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, engineering tidak boleh hanya terpaku pada proyek-proyek berskala makro atau global. Peran insinyur harus menyentuh ranah teknis kerakyatan yang berdampak langsung pada keseharian masyarakat.

Kemacetan dan Banjir
Dedi menyoroti permasalahan klasik kemacetan lalu lintas dan banjir yang berulang di perkotaan. Kemacetan dan banjir terus terjadi, berarti terdapat kekeliruan dalam perencanaan maupun eksekusi rekayasa tata ruang.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Jabar bersama PII tengah mematangkan proyek percontohan (pilot project) modernisasi angkutan kota (angkot).
“Rencana ini bertujuan merevitalisasi armada angkutan kota konvensional yang telah berusia uzur menjadi kendaraan listrik ramah lingkungan, anak, dan ibu hamil,” kata Gubernur Jabar.
Menurut Dedi, skema ini dirancang tanpa menyingkirkan mata pencarian sopir angkot. Para sopir tidak lagi dibebani sistem setoran kepada pemilik armada (majikan), melainkan didorong menjadi pemilik kendaraan mandiri layaknya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Wahana transportasi baru ini, ujar Dedi Mulyadi, akan mengadopsi platform sasis dan mesin listrik terstandard nasional. Namun, desain eksteriornya disesuaikan dengan kearifan dan karakteristik budaya masing-masing daerah di Jawa Barat. Seperti, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, hingga kawasan perdesaan.
Standardisasi platform juga akan menekan ongkos produksi. Sementara kemudahan perawatan di tingkat lokal bakal menggerakkan roda ekonomi bengkel dan industri perakitan setempat.
“Para sopir yang hari ini kerja dengan sistem setoran dan mobilnya sudah tua, kita ganti dengan mobil baru ramah lingkungan. Mereka menjadi pemilik, tidak perlu menyetor lagi. Selesaikan macet tanpa menggusur pekerjaan orang,” kata Dedi Mulyadi.
Bencana Karhutla
Selain isu perkotaan, forum CAFEO juga menaruh perhatian serius terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Bencana itu semakin parah oleh fenomena musim kemarau atau kekeringan panjang akibat anomali iklim ‘El Niño Godzilla’.
Ilham Akbar Habibie mengatakan, persoalan karhutla bersifat multidimensional. Penanganannya menuntut keterlibatan aktif para insinyur sejak tahap hulu melalui penataan tata ruang sektor pertanian dan kehutanan. Termasuk perombakan metode penanaman serta tata kelola panen.
Ilham menggarisbawahi tantangan teknis dalam penanggulangan api di lahan gambut. Karakteristik pembakaran bawah permukaan (sub-surface fire) lahan gambut membutuhkan teknologi pemadaman lebih canggih, cepat, dan efektif.
Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi melontarkan peringatan tajam mengenai dimensi etika profesi keinsinyuran. Dia menganalogikan kegagalan rekayasa teknologi dan perizinan yang memicu bencana alam. Seperti karhutla dan kerusakan ekologis dengan kasus malapraktik di dunia kedokteran.
Dedi mendesak Dewan Etik PII untuk bersikap transparan dan berani menindak tegas para insinyur dan korporasi yang terbukti lalai atau salah rancang hingga berujung bencana.
“Sanksi harus tegas, mulai dari teguran administratif hingga pencabutan izin kerja (blacklist) dari sektor riil nasional,” kata Gubernur Jabar.
Dedi Mulyadi mengibaratkan keahlian insinyur bagai ‘dua mata pedang’. Di satu sisi, kecakapan teknik dapat melahirkan keadilan sosial, pemerataan, dan percepatan pembangunan.
Namun di sisi lain, ilmu keteknikan rentan di salahgunakan untuk melayani hegemoni ekonomi dan kapitalisasi yang menindas nilai kemanusiaan.
Karena itu, Dedi berharap setiap insan insinyur memegang teguh tiga pilar moral utama dalam setiap karya. Yaitu, demi ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan sosial.
“Di dunia kedokteran ada malapraktik dan menjalani sidang di dewan etik. Insinyur pun demikian. Jika salah perencanaan hingga timbul karhutla, sebutkan perusahaannya, siapa insinyurnya. Dewan Etik PII harus menjatuhkan sanksi blacklist. Ilmu harus berlandaskan ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan,” ucap Dedi.
CAFEO 44
Persatuan Insinyur Indonesia (PII) resmi menggelar 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 44) di Bandung. Acara itu berlangsung tiga hari mulai Selasa (20/10/2026) hingga Kamis (22/10/2026).
Acara ini mempertemukan para pemimpin organisasi keinsinyuran, insinyur, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan dari 11 negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
CAFEO 44 mengangkat tema “Future of ASEAN: Shared Prosperity and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialisation.”
Tema tersebut menegaskan pentingnya peran insinyur dalam mendorong industrialisasi dan kemajuan teknologi yang tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Hadir antara lain Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN, HE Nararya S Soeprapto, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI Prof Dr Arif Satria SP MSi.
Ketum PII Ilham Akbar Habibie mengatakan, insinyur berada di jantung transformasi ASEAN. Keinsinyuran, berperan menghubungkan masyarakat, menggerakkan perekonomian, dan meningkatkan kualitas kehidupan melalui infrastruktur, energi, teknologi digital, serta inovasi.
Namun, Ilham mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh berhenti pada pembangunan industri. Kemajuan harus menciptakan peluang, menjaga lingkungan, dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Karena itu, kerja sama antarnegara ASEAN menjadi penting untuk mengubah keragaman kawasan menjadi kekuatan bersama dalam menghasilkan solusi nyata.
Dia juga mendorong para delegasi untuk membawa pulang bukan hanya pengetahuan dan jejaring baru, tetapi juga komitmen, inisiatif praktis, serta kolaborasi lintas negara yang lebih kuat.






