Hilal Ramadhan 1447 Hijriah Tak Terlihat dari 7 Lokasi Pengamatan di Jawa Barat

Headline, Jawa Barat99 Dilihat

SindoJabar.Com – Hilal sebagai tanda pergantian bulan dari Syakban ke Ramadhan 1447 Hijriah, tak terlihat dari tujuh lokasi pengamatan di Jawa Barat, Selasa (17/2/2026).

Di Kota Bandung, pengamatan hilal di laksanakan Fakultas Syariah Islam Universitas Islam Bandung (Unisba).

Lokasi pengamatan, Observatorium Albiruni, Fakultas Syariah Unisba, rooftop Gedung Fakultas Kedokteran Unisba lantai 10.

Dalam pengamatan tersebut, Unisba bekerja sama dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Jabar, Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Jabar, BMKG Bandung, dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

Titik koordinat lokasi pengamatan, -6?54’12” LS, bujur 107?36’32” BT, dengan ketinggian 750 meter di atas permukaan laut.

Observatorium Albiruni Unisba tercatat secara resmi sebagai salah satu titik pengamatan hilal oleh Kementerian Agama (Kemenag).

Kabag TU Kakanwil Kemenag Jabar Ali Abdul Latif mengatakan, pengamatan hilal di Jawa Barat tak hanya berlangsung di Kampus Unisba. Pengamatan juga dilakukan di tujuh lokasi lain.

Seperti, Pantai Keusik Luhur, Kabupaten Pangandaran; Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kabupaten Sukabumi; Pantai Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian, Kota Banjar, dan Subang.

“Dari pengamatan, kami memastikan pada sore hari ini tadi jam 18.00 kita hilal tidak terlihat dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga tadi 0 derajat 58 menit 47 detik,” kata Ali.

Awal Puasa di Indonesia

Data ini segera dikirim ke BHR Kementerian Agama (Kemenag) yang melakukan sidang Isbat di Jakarta hari ini.

“Keputusan waktu satu Ramadhan jatuh pada hari apa, akan diputuskan dalam sidang Isbat tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Observatorium Albiruni Encep Abdul Rojak MSy mengatakan, secara astronomis, ijtimak atau konjungsi geosentris terjadi pada Selasa 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.

Konjungsi merupakan posisi saat Bumi, Bulan, dan Matahari berada pada satu garis astronomis. Pengamatan hilal dimulai saat matahari terbenam, yaitu, pukul 18.17 WIB.

Bulan di perkirakan terbenam pada pukul 18.13 WIB. Saat matahari terbenam, posisi Bulan berada pada azimuth 256?45’26” dan Matahari pada azimuth 257?47’07”.

“Nilai elongasi atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari tercatat sebesar +1?19’05”,” kata Encep.

Encep menjelaskan, dalam pelaksanaannya, kegiatan rukyat di laksanakan melalui beberapa tahapan teknis.

Pertama, tim melakukan pengaturan dan penyeimbangan teropong beserta perangkat pendukung seperti kamera CCD dan filter matahari.

Kedua, tim melakukan kalibrasi teropong dengan membidik matahari sejak pukul 13.30 WIB secara aman untuk menjaga keselamatan alat dan pengamat.

“Ketiga, menjelang waktu pengamatan, sekitar 30 menit sebelumnya, teropong telah di arahkan ke posisi Bulan,” ujarnya.

Menurut Encep, kamera CCD di gunakan untuk menampilkan hasil pengamatan pada layar televisi berukuran 45 inci, sehingga seluruh peserta dapat bersama-sama mengamati hilal.

Setiap peserta mendapat kesempatan sama untuk melaporkan hasil pengamatannya kepada panitia.