SindoJabar, BANDUNG – Pemkot Bandung menargetkan kebakaran lahan di RT 001/RW 010, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, dapat dipadamkan dalam tiga hari.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, berdasarkan laporan petugas di lapangan, hingga saat ini masih terdapat tiga titik api atau hotspot yang mengeluarkan asap dari bawah timbunan material.
“Hotspot masih ada tiga titik,” kata Farhan saat meninjau langsung lokasi kebakaran Selasa (15/9/2026).
Baca Juga: Listrik Padam di Bandung Raya, Ini Biang Keroknya
Menurutnya, kebakaran di lokasi tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran lahan pada umumnya. Api diduga berasal dari timbunan sampah yang berada di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus.
Kondisi tersebut membuat api tidak cukup hanya dipadamkan dari permukaan. Petugas harus memastikan titik api di bagian dalam timbunan benar-benar padam agar tidak kembali muncul.
Farhan mengungkapkan, kebakaran serupa pernah terjadi di lokasi tersebut. Saat itu, proses pemadaman bahkan membutuhkan waktu hingga dua bulan hingga api benar-benar padam.
Namun, untuk kebakaran kali ini, Pemkot Bandung optimistis penanganan dapat dilakukan lebih cepat dengan metode pemadaman yang berbeda.
Baca Juga: HUT ke-81 Jabar, Komisi I Dorong Desa Kelurahan Maju Berbasis Lingkungan dan Birokrasi
“Insyaallah dengan metode yang baru, tiga hari selesai,” katanya.
Farhan menjelaskan, penanganan kebakaran melibatkan Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskar PB), BPBD, unsur TNI, serta sejumlah instansi terkait.
Selain melakukan pemadaman, petugas juga memantau kualitas udara dan memastikan kondisi warga di sekitar lokasi tetap aman dari dampak asap kebakaran.
Terkait penyebab kebakaran, Farhan mengatakan hingga kini belum dapat dipastikan. Namun, dugaan sementara mengarah pada akumulasi gas metana yang terbentuk dari timbunan sampah di bawah permukaan.
Baca Juga: Komisi I DPRD Jabar Usul Pemanfaatan Lahan Pemprov untuk Unit Sekolah Baru
“Belum tahu penyebab pastinya. Kemungkinan besar karena tumpukan sampah yang sudah sangat banyak sehingga menghasilkan gas metan,” pungkasnya. (YM).






