JAKARTA,SINDOJABAR.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum merefleksikan dan meneladani akhlak Rasulullah.
Dewan Penasehat Pengurus Pusat Persatuan Umat Islam (PP PUI), Prof. KH. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Peringatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak yang akan memperkuat semangat kebangsaan.
“Maulid Nabi harus kita maknai sebagai momentum untuk kembali kepada keteladanan Rasulullah. Bukan hanya mengingat kelahiran beliau saja, akan tetapi bagaimana akhlak, perjuangan dan kepemimpinan beliau kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Prof. KH. Achmad, Senin (24/8/2026).
Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, kehidupan Rasulullah SAW memberikan keteladanan tentang bagaimana membangun masyarakat dengan kejujuran, amanah, persaudaraan, keadilan, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama juga tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Pesan tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan momentum kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan tidak cukup hanya diperingati melalui upacara dan kegiatan seremonial.
Kemerdekaan RI harus diisi dengan pembangunan terutama membangun karakter atau akhlak yang dirasakan oleh umat dan alam. Kalau ingin mengisi kemerdekaan dengan benar, salah satu modal terbesarnya adalah akhlak.
“Kemerdekaan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Ilmu tanpa akhlak juga dapat disalahgunakan, dan rosulullah adalah suri tauladan kesempurnaan akhlak dalam mengisi kemerdekaan” ujarnya.
Dikatakannya, seperti dalam firman
Allah SWT “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah,
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)”.
Ia mengatakan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathanah perlu diterjemahkan dalam kehidupan modern. Siddiq berarti menjunjung kejujuran dalam keseharian, amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab, tabligh berarti menyampaikan kebenaran dan kebaikan, sedangkan fathanah berarti memiliki kecerdasan sifat bijak.
Empat sifat itu jangan hanya dihafalkan. Tetapi harus menjadi karakter. Kejujuran harus menjadi budaya, amanah harus menjadi prinsip dalam menjalankan tugas, kecerdasan harus digunakan untuk kemaslahatan dan setiap kebaikan harus disampaikan kepada masyarakat.
Selain terkait dengan akhlaq, Rosulullah juga mengajarkan tentang bagaimana menjaga keseimbangan alam yaitu agar tidak merusak alam.
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 183),” tuturnya.
Lebih lanjut dikatakannya, perjuangan mengisi kemerdekaan saat ini harus dapat mengoptimumkan potensi alam dengan tidak merusak alam. Sebab alam adalah untuk anak cucu di masa depan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, budaya, bahasa, pandangan dan latar belakang seharusnya menjadi kekuatan bangsa, bukan alasan untuk saling berdebat hingga bermusuhan.
Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana kehidupan masyarakat dibangun dengan persaudaraan, keadilan dan sikap saling menghormati. Nilai tersebut, menurut Prof.KH Achmad tetap menjadi relevan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas dan menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter serta akhlak yang kuat. Kemajuan ekonomi, teknologi dan pembangunan harus berjalan bersama dengan pembangunan manusia.
“Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang merdeka pikirannya, kuat imannya, baik akhlaknya dan besar kepeduliannya kepada sesama, sesuai teladan Rasulullah SAW,” pungkasnya. (*)






