Sindojabar.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mengungkapkan periode Maret-April 2026 sudah masuk peralihan musim hujan ke musim kemarau atau pancaroba.
Untuk itu, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat hingga angin kencang kerap terjadi saat masa pancaroba tiba.
Baca Juga:Musim Hujan Tiba, Wali Kota Bandung Ingatkan Warga untuk Siaga Bencana
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan periode pancaroba ditandai dengan melemahnya angin baratan serta mulai masuknya angin timuran. Kondisi tersebut memicu ketidakstabilan atmosfer yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
“Fenomena ini biasanya diawali cuaca panas dan gerah, lalu secara tiba-tiba terjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kondisi atmosfer yang tidak stabil ini mendorong pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) secara masif. Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu utama hujan lebat, kilat, hingga angin kencang.
Baca Juga:Jabar Hadapi Dua Puncak Musim Hujan, BMKG Imbau Warga Waspada Bencana
BMKG mencatat, fenomena hujan es sempat terjadi di sebagian wilayah Bandung pada Jumat (3/4). Peristiwa tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus sejak siang hari.
Saat kejadian, kecepatan angin tercatat mencapai 42,6 km/jam dan menyebabkan sejumlah dampak, termasuk pohon tumbang di beberapa titik di Bandung Raya.
BMKG menjelaskan, hujan es terbentuk dari uap air yang terbawa arus udara naik (updraft) ke lapisan atmosfer bersuhu sangat dingin hingga membeku. Partikel es tersebut kemudian jatuh ke permukaan saat arus udara melemah.
Atas kondisi tersebut, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga hujan es.
Baca Juga:Cuaca Panas Ekstrem Landa Indonesia, BMKG Beberkan Penyebab dan Wilayah Terdampak
“Warga juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko saat cuaca ekstrem berlangsung,” kata Teguh. (*)






