SindoJabar, BANDUNG – Rumah Amal Salman bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp kembali berkolaborasi membantu masyarakat terdampak bencana di Bireuen, Aceh.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembangunan empat bangunan yang terdiri atas tiga hunian sementara dan satu musala. Fasilitas ini dihadirkan untuk membantu warga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dan bekerja dengan lebih layak pascabencana.
Baca Juga;Pohon di Jalan Moch Toha Bandung Ditebang Ilegal, Pelaku Didenda
Tiga bangunan difungsikan sebagai hunian sementara. Masing-masing unit dapat ditempati dua keluarga, sedangkan satu bangunan lainnya digunakan sebagai musala.
Bangunan tersebut dirancang fleksibel sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakat, baik selama masa pemulihan maupun ketika nantinya dialihfungsikan untuk kepentingan umum.
Arsitek ITB, Andry Widyowijatnoko mengatakan, salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pembangunan hunian tersebut adalah kecepatan konstruksi.
Menurutnya, konsep atap mansard yang digunakan merupakan hasil pengembangan sistem rangka yang memungkinkan komponen bangunan dibuat dengan metode precut atau prefabrikasi. Komponen kemudian dirakit di lokasi sehingga proses pembangunan dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Baca Juga:Tak Ada Lagi Buruh Jauh dari Pabrik, Dedi Mulyadi Siapkan Aturan Hunian Wajib di Kawasan Industri
“Terbukti tiga rangka penuh berdiri dengan tambahan beberapa gording terpasang bisa didirikan dalam waktu hanya 3 jam 22 menit,” ujar Andry, dikutip Kamis (1/10/2026).
Dia menjelaskan, desain bangunan juga disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan kondisi di lokasi, termasuk ketersediaan kayu sebagai bahan utama serta keterampilan tenaga kerja setempat.
Penggunaan atap mansard memberikan volume ruang yang lebih besar sehingga dapat mendukung kenyamanan termal dan kualitas ruang. Konsep tersebut juga dinilai dapat diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan budaya bermukim, kebutuhan ruang, material lokal, serta keterampilan ketukangan di masing-masing daerah.
Di tengah kondisi pascabencana, kebutuhan hunian menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat Bireuen. Bencana tidak hanya menyebabkan hilangnya tempat tinggal, tetapi juga tempat kerja serta lahan pertanian dan kebun produktif warga.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat kesulitan menyewa rumah maupun membeli lahan untuk membangun tempat tinggal.
Baca Juga:Presiden Prabowo Tinjau Posko Kesehatan Pegadaian di Aceh Tamiang Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Keuchik setempat mengatakan, kehadiran hunian sementara tersebut membantu warga kembali menjalankan aktivitas dan bekerja tanpa terbebani biaya sewa maupun persoalan tempat tinggal.
“Masyarakat yang sudah menempatinya sekarang sudah aktif bekerja tanpa memikirkan lagi beban sewa ataupun tempat tinggal,” ujarnya.
Pemerintah gampong setempat juga berencana mempertahankan manfaat bangunan tersebut dalam jangka panjang. Selama masih dibutuhkan, bangunan akan tetap digunakan sebagai hunian.
Setelah kebutuhan tempat tinggal warga terpenuhi, fasilitas tersebut dapat dialihfungsikan untuk kepentingan umum, seperti ruang taman kanak-kanak (TK), taman pendidikan Al-Qur’an (TPA), balai pengajian, musala, hingga gudang desa.
Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat berteduh, tetapi juga menghadirkan ruang yang memungkinkan masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, layak, dan bermartabat.
Program tersebut terwujud melalui kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan Paragon, Direktorat Pengembangan Masyarakat dan Kewirausahaan (DPMK) ITB, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB, Universitas Sumatera Utara (USU), Corporate Real Estate Management (CREM), Kahf, serta Rumah Amal Salman.
Baca Juga:Pimpinan PMDG Gontor Ponorogo KH Amal Fathullah Zarkasyi Tutup Usia
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terdampak sekaligus menghadirkan fasilitas yang tetap dapat dimanfaatkan setelah masa pemulihan bencana berakhir. (*)






