SindoJabar, BANDUNG – Upaya perbaikan gizi dan pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang tidak hanya berupa pemberian makanan. Pemantauan secara berkala diperlukan untuk melihat perkembangan penerima manfaat, mengukur capaian, serta memastikan setiap intervensi yang diberikan dapat memberikan manfaat yang terukur dan berkelanjutan.
Rangkaian riset intervensi gizi yang diinisiasi oleh civitas akademika bersama lembaga kemanusiaan kini memasuki babak akhir melalui agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir Riset Pro Plus Menu yang dihelat di Aula Kantor Desa Karyasari pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Baca Juga:Lonjakan DJBC Jadi Sorotan, IAW Singgung Ada Dugaan Kebocoran Sistem
Program diikuti tim relawan, mahasiswa dan dosen peneliti Institut Kesehatan Karsa Husada Garut, perangkat Desa Karyasari, kader posyandu, penerima manfaat, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan riset Pro Plus Menu.
Monitoring dan evaluasi dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk melihat capaian, proses pelaksanaan, dampak program terhadap penerima manfaat sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program ke depan.
Pengukuran dilakukan untuk memperoleh data kondisi terkini penerima manfaat sebagai salah satu indikator dalam evaluasi program.
Selain pengukuran antropometri, proses evaluasi juga dilakukan melalui wawancara dengan penerima manfaat untuk menggali pengalaman, hasil yang dirasakan, serta perubahan yang terjadi selama mengikuti program.
Baca Juga:Pegadaian dan ITB Jalin Riset Inovatif, Percepat Digitalisasi Layanan
Tim turut melakukan pengecekan form food record sebagai bagian dari peninjauan pola konsumsi dan asupan makanan penerima manfaat.
Dosen sekaligus tim peneliti IKES Garut, Nofita Setiorini menyampaikan bahwa kegiatan evaluasi akhir menjadi momentum untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai hasil dari rangkaian intervensi yang telah dilakukan.
“Selain menilai capaian program, evaluasi juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperkuat agar program dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan,” ujar Nofita Setiorini dalam keterangannya, Senin (5/9/2026).
“Kegiatan monev tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga menjadi ruang untuk melakukan diskusi bersama perangkat desa, penerima manfaat, dan tim pelaksana,” tambahnya.
Kolaborasi dengan dosen Institut Kesehatan Karsa Husada Garut turut memperkuat proses evaluasi melalui peninjauan data dan indikator yang telah ditetapkan dalam riset. Hasil monitoring dan evaluasi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai pelaksanaan dan capaian Pro Plus Menu serta menjadi dasar dalam menentukan langkah tindak lanjut.
Baca Juga:Pemprov Jabar Gadeng BRIN, Pastikan Pembangunan Berbasis Riset dan Inovasi
Keterlibatan Pemerintah Desa Karyasari dan penerima manfaat juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan intervensi dan memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti pada tahap pengumpulan data, tetapi dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan program kesehatan dan gizi berbasis masyarakat.
Kepala Desa Karyasari, Gaya Mulyana, menyampaikan bahwa kehadiran kolaborasi melalui riset Pro Plus Menu memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat.
Menurutnya, kehadiran tim relawan RAS, mahasiswa, dan dosen IKes Karsa Husada Garut tidak hanya menghadirkan intervensi bagi penerima manfaat, tetapi juga memberikan pendampingan dan perhatian terhadap kondisi ibu dan anak.
“Pemerintah desa berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat,” kata Gaya.
Di balik setiap data yang dikumpulkan, terdapat peran keluarga, khususnya para ibu, yang menjadi bagian penting dalam proses pemenuhan gizi anak. Perubahan kondisi anak tidak terlepas dari upaya orang tua dalam menyediakan makanan dan membangun kebiasaan makan yang lebih baik di rumah.
Semenatara itu, Branch Manager Rumah Amal Salman Garut, Sinta Nurhia Dewi, turut menyampaikan apresiasi kepada para ibu penerima manfaat yang telah berjuang memberikan makanan bergizi bagi anak-anak mereka.
Baca Juga:DPRD Kabupaten Bandung Alokasikan Rp800 Miliar untuk Subsidi Langsung Pro Rakyat
Menurutnya, upaya tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan menunjukkan bahwa keberhasilan intervensi gizi juga membutuhkan keterlibatan keluarga.
Ia berharap dampak yang dihasilkan melalui Riset Pro Plus Menu tidak berhenti ketika rangkaian riset selesai, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk kebiasaan baik di dalam keluarga sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Melalui Monev Akhir ini, riset Pro Plus Menu diharapkan dapat menghasilkan evaluasi yang komprehensif mengenai capaian program, sekaligus memberikan rekomendasi untuk penguatan intervensi di masa mendatang. Hasil evaluasi selanjutnya akan menjadi salah satu dasar dalam menyusun strategi keberlanjutan dan pengembangan program di Desa Karyasari,” kata Sinta Nurhia Dewi.
Ke depan, hasil evaluasi diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat intervensi gizi berbasis keluarga dan masyarakat. Lebih dari sekadar melihat angka perubahan, proses ini menjadi upaya untuk memastikan pengetahuan dan kebiasaan baik yang telah dibangun dapat terus diterapkan oleh keluarga.
Baca Juga:Lomba Video Telkomsel 5G Berhadiah Xiomi 15T Pro Resmi Dibuka, Cek Syaratnya!
Pelaksanaan Pro Plus Menu sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger dan SDG 3: Good Health and Well-being. Melalui intervensi gizi, pemantauan kondisi ibu dan balita, serta penguatan pengetahuan dan praktik keluarga, program turut mendukung upaya peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. (*)






