SindoJabar, BANDUNG – RSUD Bandung Kiwari menghadirkan inovasi Kawal Kiwari untuk memperkuat penanganan stunting di Kota Bandung. Program ini mengintegrasikan aplikasi pemantauan tumbuh kembang anak, Tumbuh Kiwari, dengan layanan konsultasi gizi melalui Klinik Raksa Anak.
Inovasi tersebut dirancang untuk mendeteksi risiko stunting sejak dini sekaligus mendampingi anak yang terindikasi mengalami gangguan pertumbuhan agar mendapatkan penanganan gizi yang tepat.
Baca Juga:2.860 Pasien Datang ke IGD Bandung Kiwari, Dirut: Keluhan Ringan Tak Perlu ke IGD
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, Kawal Kiwari terdiri dari dua layanan utama, yakni aplikasi Tumbuh Kiwari untuk memantau perkembangan anak dan Klinik Raksa Anak yang menyediakan konsultasi bagi anak yang terindikasi stunting.
“Programnya bernama Kawal Kiwari. Di dalamnya ada dua kegiatan yaitu pembuatan aplikasi Tumbuh Kiwari untuk memonitor perkembangan tumbuh kembang anak dan Klinik Raksa Anak untuk memberikan layanan konsultasi bagi anak yang terindikasi stunting,” kata Farhan di RSUD Bandung Kiwari, Kamis (22/10/2026).
Melalui aplikasi Tumbuh Kiwari, orang tua dapat memantau perkembangan anak untuk mengetahui status pertumbuhannya dan mendeteksi kemungkinan stunting.
Baca Juga:Kunjungan IGD Bandung Kiwari Melonjak, 2.860 Pasien Datang dalam 3 Pekan
Apabila anak terindikasi stunting, mereka dapat dirujuk ke Klinik Raksa Anak di RSUD Bandung Kiwari, termasuk jika tidak memiliki penyakit penyerta.
Di klinik tersebut, anak akan mendapatkan konsultasi dengan dokter gizi untuk memperoleh rekomendasi pemenuhan kebutuhan gizi. Pendampingan juga diberikan kepada ibu agar perbaikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Pendampingan tidak hanya berlangsung saat kunjungan ke rumah sakit. Ibu atau keluarga anak juga akan dilibatkan dalam grup WhatsApp untuk memudahkan konsultasi dan pemantauan kondisi anak dalam kehidupan sehari-hari.
Farhan mengatakan, program ini merupakan bagian dari penguatan layanan kesehatan preventif. Menurutnya, upaya pencegahan dan perbaikan gizi perlu dilakukan sebelum kondisi anak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
Baca Juga:Stunting di Jabar Turun 5,8 Persen, Pemprov Komitmen Capai Zero Stuntin
“Kita tidak mau mereka penyakitan dulu. Justru sebelum penyakitan kita cegah bersama-sama. Ini bagian dari upaya preventif,” katanya.
Ia juga menyoroti keterbatasan akses pembiayaan layanan kesehatan bagi kelompok tertentu. Menurutnya, anak yang mengalami stunting serta ibu hamil dan menyusui dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), apabila tidak disertai penyakit tertentu, tidak seluruhnya dapat mengakses pembiayaan BPJS Kesehatan untuk layanan yang dibutuhkan.
Farhan menyebut, angka stunting di Kota Bandung saat ini mencapai 22,8 persen. Pemkot Bandung berharap inovasi Kawal Kiwari dapat memperkuat deteksi dini, mempercepat perbaikan gizi, serta memastikan anak memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
Farhan berharap, model layanan yang dikembangkan RSUD Bandung Kiwari dapat diterapkan di fasilitas kesehatan milik Pemkot Bandung lainnya sehingga jangkauan penanganan stunting semakin luas.
Sementara itu, Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari Arief Budiman menjelaskan, aplikasi Tumbuh Kiwari dan Klinik Raksa Anak melengkapi program penanganan stuntng yang telah berjalan di Kota Bandung.
Baca Juga:Cegah Stunting Sejak Janin dalam Kandungan, Pegadaian Jabar dan POGI Gelar “Merdeka Stunting 2026″
Menurut Arief, inovasi tersebut melengkapi program Zero New Stuting yang dijalankan Dinas Kesehatan Kota Bandung. Jika program tersebut berfokus pada pencegahan munculnya kasus baru, Kawal Kiwari memperkuat penanganan anak yang telah mengalami stunting melalui perbaikan gizi dan pemantauan tumbuh kembang.
“Kami ini merupakan program terobosan di hilir. Anak-anak yang mengalami stunting ingin kami bantu melalui perbaikan gizinya sehingga ke depannya mereka berpotensi tumbuh dan berkembang secara optimal,” katanya. (*YM)






