Kunjungan IGD Bandung Kiwari Melonjak, 2.860 Pasien Datang dalam 3 Pekan

SindoJabar, BANDUNG– Kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bandung Kiwari melonjak dalam tiga pekan terakhir. Tercatat sebanyak sekitar 2.860 pasien datang ke IGD sepanjang 1 hingga 21 September 2026.

Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari Arief Budiman mengatakan, angka tersebut menunjukkan peningkatan kunjungan yang cukup tajam. Rata-rata terdapat sekitar 136 pasien yang datang ke IGD setiap harinya.

“Jadi berdasarkan data tanggal 1 September hingga 21 September, itu kunjungan IGD kami melonjak cukup tajam. Dalam tiga minggu terakhir ini kurang lebih 2.860 pasien totalnya,” kata Arief, saat dibtemui di RSUD Bandung Kiwari Rabu (23/9/2026).

Baca Juga:RS Premier Bintaro Hadirkan Teknologi Robotic Navigation untuk Penanganan Masalah Tulang Belakang yang Lebih Presisi

Dari total kunjungan tersebut, sekitar 61 persen pasien kemudian melanjutkan perawatan melalui rawat inap. Sementara sekitar 31 persen pasien tidak melanjutkan perawatan dengan rawat inap.

Tingginya angka pasien yang membutuhkan ruang perawatan turut membuat kapasitas rawat inap tertekan. RSUD Bandung Kiwari mencatat rata-rata 10 pasien per hari masuk daftar tunggu karena belum dapat langsung dipindahkan ke ruang rawat inap.

“Dan kami rujuk keluar hanya enam pasien dalam 21 hari,” ujarnya.

Arief menyebut, jumlah pasien yang belum dapat masuk ruang rawat inap paling tinggi terjadi pada 12 September 2026, dengan 23 pasien masih harus menunggu.

Baca Juga:Legislator Demokrat Dorong Pembangunan Fasilitas Spesialis Jantung di RSUD Jampangkulon

Meski terjadi kepadatan, Arief menegaskan RSUD Bandung Kiwari tidak pernah menutup pelayanan IGD. Setiap pasien yang datang tetap diperiksa dan menjalani proses triase untuk menentukan tingkat kegawatannya.

“Dan kami ingin tegaskan bahwa di tengah lonjakan ini kami tidak pernah menutup pintu. Maksudnya, bagi siapa pun pasien yang datang, tetap kami periksa dan dipilah sesuai dengan kegawatan melalui proses triase,” katanya.

Lebih lanjut Arief mengatakan, pasien dengan kondisi mengancam nyawa akan diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan. Sementara pasien dengan kondisi ringan dan stabil atau masuk kategori triase hijau dapat diarahkan ke pelayanan rawat jalan.

“Ketika itu triase hijau, maka sesungguhnya bisa dilayani dan lebih cepat di poli rawat jalan,” jelasnya.

Untuk mengurangi kepadatan, rumah sakit mempercepat proses pemindahan pasien yang sudah stabil dari IGD ke ruang rawat inap. Pasien yang sudah dinyatakan layak pulang juga diupayakan segera dipulangkan untuk melanjutkan kontrol melalui poli.

Baca Juga:Sambil Kulineran, Pengunjung Festival Kuliner Bandung Bisa Urus Layanan PLN

RSUD Bandung Kiwari juga mengusulkan tambahan tenaga perawat dan dokter umum untuk membantu proses pemindahan serta pelayanan pasien.

Arief mengakui, lonjakan kunjungan turut membuat tenaga kesehatan mengalami kelelahan. Rumah sakit pun melakukan rotasi tenaga kesehatan, termasuk meminta petugas yang sedang libur untuk membantu memperkuat pelayanan di IGD.

“Jadi kita, dokter-dokter yang kan pastinya dengan lonjakan pasien seperti ini, SDM kita berkurang karena terjadi kelelahan. Jadi kita mengupayakan rotasi, mungkin yang libur-libur dipanggil untuk membantu memperkuat IGD tersebut,” ungkapnya.

Arief juga mengimbau, masyarakat tidak menjadikan IGD sebagai tempat pemeriksaan untuk seluruh keluhan kesehatan. IGD diutamakan bagi pasien dengan kondisi darurat seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, maupun korban kecelakaan.

Sementara keluhan ringan dapat ditangani melalui puskesmas, klinik, atau poli rawat jalan sesuai kebutuhan medis.

Baca Juga:Harga Plastik di Bandung Melonjak, Wali Kota Imbau Penggunaan Kantong Ramah Lingkungan

“Kami juga imbauan untuk masyarakat tadi bahwa hanya datang ke IGD bila darurat. Ketika keluhannya ringan, saya kira bisa dilayani di Puskesmas dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis,” pungkasnya. (*YM)