SindoJabar, BANDUNG – Pemkot Bandung menyoroti masih tingginya angka kematian bayi di RSUD Bandung Kiwari. Untuk menekan angka tersebut, Pemkot berencana memperkuat sistem pelayanan, terutama kemampuan penanganan kegawatdaruratan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, RSUD Bandung Kiwari berhasil menekan angka kematian ibu melahirkan hingga jauh di bawah rata-rata nasional. Namun, capaian tersebut belum diikuti dengan penurunan angka kematian bayi yang kini menjadi salah satu tantangan rumah sakit tersebut.
Baca Juga:Kasus Bayi Dijual di Jabar, DPRD Tegaskan Bahaya Pernikahan Dini dan Pergaulan Bebas
Menurutnya, kondisi kesehatan ibu selama kehamilan memiliki pengaruh besar terhadap keselamatan bayi. Karena itu, sistem pelayanan bagi ibu hamil perlu diperkuat agar pemeriksaan dan penanganan medis dapat dilakukan secara optimal sejak awal.
“Sebetulnya kunci utamanya adalah kondisi ibunya. Bagaimanapun juga, kondisi bayi di dalam kandungan sangat tergantung pada kondisi ibunya. Jadi, kita akan membangun sebuah sistem yang lebih to the point di RSUD Kiwari untuk memastikan para ibu hamil yang berkonsultasi benar-benar ditangani,” kata Farhan Sabtu (31/10/2026).
Farha. mengungkapkan, salah satu persoalan yang dihadapi adalah banyaknya pasien ibu hamil dengan kondisi medis berat yang datang ke IGD. Padahal, kondisi tersebut membutuhkan penanganan cepat dan kemampuan teknis yang memadai untuk mencegah risiko lebih lanjut.
Baca Juga:2.860 Pasien Datang ke IGD Bandung Kiwari, Dirut: Keluhan Ringan Tak Perlu ke IGD
Terlebih, RSUD Bandung Kiwari kerap menerima rujukan dari berbagai daerah untuk menangani kasus-kasus kesehatan masyarakat. Kondisi itu membuat penguatan pelayanan kegawatdaruratan menjadi salah satu prioritas pembenahan.
Farhan menyebut, dari sisi tenaga medis, RSUD Bandung Kiwari telah memiliki dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn), termasuk subspesialis neonatologi yang menangani bayi baru lahir serta bidang fertilitas. Namun, kemampuan teknis dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan dengan kondisi berat masih perlu ditingkatkan.
“Jadi, secara keahlian kita sudah cukup, tetapi mungkin kita perlu meningkatkan kemampuan teknis, khususnya penanganan di IGD apabila ada kasus yang sangat parah masuk secara tiba-tiba,” ungkapnya.
Selain pelayanan ibu dan bayi, Farhan menyebut RSUD Bandung Kiwari juga memiliki fasilitas khusus bagi perempuan dan anak korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Fasilitas yang berada di lantai tujuh tersebut dirancang dengan menjaga privasi korban.
Baca Juga:Kunjungan IGD Bandung Kiwari Melonjak, 2.860 Pasien Datang dalam 3 Pekan
Melalui layanan itu, korban bisa mendapatkan pemeriksaan, penanganan medis hingga visum secara gratis. Fasilitas tersebut telah beroperasi sejak 2025 dan menjadi salah satu layanan unggulan RSUD Bandung Kiwari.
Farhan menegaskan, Pemkot Bandung tidak berencana meningkatkan klasifikasi RSUD Bandung Kiwari dari tipe B. Sebaliknya, pemerintah akan berfokus meningkatkan kualitas pelayanan agar rumah sakit tersebut mampu memberikan penanganan kesehatan yang lebih optimal.
“Enggak, B aja. Sebagai B yang terbaik. RSUD Kota Bandung mah B semua,” pungkasnya. (*YM)






