Kemenekraf Sebut Musik Hajatan Sumbang Stimulus Ekonomi Terbesar di Indonesia Capai Rp81,6 Triliun

BANDUNG – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menggelar diskusi Creative by Indonesia di The Hallway Kosambi, Kota Bandung, Selasa (3/11/2026). Diskusi ini membahas tema “Akselerasi Kreatif (Aktif) Musik: Diskusi Industri Musik dan Showcase Musisi Lokal.

Hadir dalam acara itu, Direktur Musik Kemenekraf Muhammad Amin dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung Adi Junjunan Mustaf.

Acara Creative by Indonesia menghadirkan tiga pembicara. Pertama, Salvador Abadi Sianturi atau Aldo Sianturi, founder Kelas Bisnis Musik Indonesia; CEO Dinamika Kreasi Media Lucky Edward.

Kedua, Agus Setiawan Basuni, founder WartaJazz.com. Pembicara ketiga adalah Salvador Abadi Sianturi founder Kelas Bisnis Musik Indonesia.

Dalam sambutannya, Kadisbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan, Kota Bandung memiliki potensi dan sejarah sebagai kota musik. Berbagai musisi, komunitas, dan pelaku musik hadir dari kota ini dan turut memberikan kontribusi terhadap identitas kreatif Bandung.

“Agak sedih waktu UNESCO Creative Cities Network menentukan Ambon sebagai kota musik. Tapi kalau kami, Kota Bandung is the City of Musician’s (kota para musisi),” kata Kadisbudpar.

Adi Junjunan menyatakan, Pemkot Bandung melalui Disbudpar) berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem ekonomi kreatif melalui fasilitasi, promosi, kemudian jejaring.

Bagi Kota Bandung, ujar Adi, musik bukan sekadar seni dan hiburan. Tetapi juga merupakan bagian penting dari ekonomi yang mampu menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat daya tarik wisata.

“Setiap pekan, mulai Senin sampai Jumat, Sabtu, Minggu, tidak pernah satu hari pun yang tidak ada acara musik di Kota Bandung,” ujar Adi.

KEMENEKRAF
Tiga narasumber dalam acara Creative by Indonesia, Akselerasi Kreatif (Aktif) Musik: Diskusi Industri Musik dan Showcase Musisi Lokal di The Hallway, Kosambi, Bandung. (FOTO: AGUS WARSUDI)

Peta Perputaran Ekonomi

Direktur Musik Kemenkraf M Amin mengatakan, Kemenekraf mengungkap temuan penting peta perputaran ekonomi industri musik Tanah Air.

“Pesta perkawinan di pelosok Nusantara justru generator stimulus ekonomi terbesar dengan nilai perputaran dana fantastis menembus Rp81,6 triliun per tahun,” kata Direktur Musik Kemenekraf.

Data mutakhir tersebut merupakan kelanjutan dari simulasi analitis berbasis kajian budaya dan komputasi kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya dipaparkan dalam Kongres Musik Indonesia 2026 di Kota Makassar.

M Amin menyatakan, pemahaman terhadap dampak ekonomi pertunjukan musik harus dilihat secara objektif melalui tiga tingkatan klasifikasi event.

Kategori pertama adalah event lokal atau komunitas (local/community event), yakni kegiatan yang berdaya jangkau lokal dengan sasaran masyarakat di lingkungan. Sekitar, seperti pentas seni rukun tetangga, karang taruna, pesta pernikahan, dan panggung perayaan desa.

Kategori kedua, major events, yaitu kegiatan berskala nasional yang mampu menyedot animo publik dalam jumlah signifikan, diliput luas oleh media arus utama, dan berdampak ekonomi terukur. Di level ini seperti festival musik besar dan agenda Karisma Event Nusantara (KEN) besutan Kemenekraf.

Sedangkan kategori ketiga adalah mega events. Yakni, perhelatan berdaya pikat global yang mampu menggerakkan devisa lintas negara dan menjadi sorotan internasional. Seperti rangkaian konser penyanyi dunia Kanye West dan grup musik Coldplay yang masing-masing menyedot perputaran ratusan miliar rupiah per kedatangan.

Kemenekraf
Direktur Musik Kemenekraf M Amin memaparkan data peta perputaran ekonomi industri musik Tanah Air. (FOTO: AGUS WARSUDI)

Kekuatan Ekonomi Musik Rakyat

“Dari ketiga jenis event ini, mana yang paling besar memberikan dampak terhadap perekonomian kita? Banyak yang mengira konser musisi dunia. Namun data simulasi justru menunjukkan kekuatan ekonomi musik rakyat yang luar biasa justru dari pesta perkawinan,” kata M Amin.

Amin merinci data komparatif dari hasil simulasi yang di susun menggunakan piranti analitik. Untuk kategori mega konser internasional, tercatat sekitar 104 pertunjukan berlangsung di Indonesia dalam satu tahun. Rata-rata belanja penyelenggaraan mencapai Rp113 miliar per acara. Total stimulus ekonomi yang tercipta mencapai sekitar Rp11,8 triliun.

Kendati demikian, potensi serapan murni sektor musik pada mega konser tersebut sekitar 60 persen atau Rp7 triliun. Sebab, sisa dana mengalir ke sektor pendukung. Seperti perhotelan, logistik penerbangan, perizinan, dan akomodasi.

Pada kategori major events dan Festival KEN dengan estimasi 184 perhelatan berbiaya antara Rp1,2 miliar hingga Rp4,5 miliar per agenda. Stimulus ekonomi yang di hasilkan tercatat sekitar Rp150 miliar. Dengan potensi serapan musik sekitar 40 persen atau setara Rp60 miliar.

Sementara, di tataran komunitas desa dan karang taruna, dengan frekuensi mencapai 250.000 kegiatan per tahun dan rata-rata belanja sederhana Rp15 juta per acara. Sehingga mampu mengalirkan stimulus Rp3,75 triliun dengan serapan musik sebesar Rp286 miliar.

Namun, angka-angka tersebut terlampaui jauh ketika menakar denyut pesta perkawinan. Mengacu data Kantor Urusan Agama (KUA), terdapat sekitar 1,45 juta pasangan yang menikah di Indonesia setiap tahun.

Sekalipun terdapat sekitar 40 persen generasi muda (Gen Z) yang memilih menikah di KUA tanpa pesta mewah, sisa pasangan yang menggelar pesta hajatan tetap menghasilkan angka masif.

Musik Rakyat Urat Nadi Perputaran Ekonomi

“Saya orang Sulawesi. Perkawinan di kampung kami biayanya bisa mencapai lebih dari Rp85 juta karena ada adat uang panai. Menggunakan angka moderat belanja Rp85 juta per perhelatan hajatan keluarga, total stimulus ekonomi yang berputar mencapai Rp81,6 triliun. Dari angka itu, potensi musik melalui organ tunggal, dangdutan, dan koplo menyerap sekitar 9 persen atau setara Rp7,34 triliun,” tutur Amin.

Atas dasar temuan tersebut, Amin menekankan bahwa pembuat kebijakan tidak boleh hanya silau pada gemerlap konser artis papan atas mancanegara. Pemerintah, wajib menaruh perhatian dan keberpihakan konkret kepada seluruh tingkatan musisi dan ekosistem pertunjukan rakyat.

Amin mengusulkan salah satu terobosan terkait standardisasi dan peningkatan mutu tata suara pertunjukan rakyat. Termasuk membenahi fenomena pengeras suara bervolume ekstrem (sound horeg) agar menghadirkan kenyamanan akustik tanpa mematikan mata pencaharian musisi lokal.

Dia menegaskan bahwa ekosistem musik Tanah Air di topang oleh keragaman panggung yang hidup berdampingan. Simulasi data berbasis kajian budaya mengungkap hajatan rakyat dan panggung komunitas desa menjadi generator riil perputaran uang musik nasional melampaui konser mega artis mancanegara.

“Kanye West dan konser-konser megah internasional bukan satu-satunya generator dalam industri musik kita. Musik rakyat, panggung desa, dan hajatan pernikahan adalah urat nadi perputaran ekonomi yang nyata dan wajib kita rawat mutunya,” ucap Amin.