Lonjakan Biaya Gerus Profit Blue Bird

Sindojabar.com – Kinerja PT Blue Bird Tbk mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan di awal 2026. Emiten transportasi berkode saham BIRD itu memang masih mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit, namun lonjakan biaya operasional dan depresiasi armada membuat laba perusahaan mulai tergerus.

Pada kuartal I 2026, Blue Bird membukukan laba bersih sebesar Rp156 miliar atau turun sekitar 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini menjadi perhatian pasar karena terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat dan pulihnya sektor transportasi pascapandemi.

Di sisi lain, pendapatan perusahaan sebenarnya masih tumbuh cukup solid. BIRD mencatat pendapatan mencapai Rp1,45 triliun atau naik 12 persen secara tahunan. Pertumbuhan ditopang oleh bisnis taksi maupun segmen non-taksi yang sama-sama mengalami kenaikan.

Namun pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi lonjakan biaya yang terus membesar.

Beban pokok pendapatan naik 15 persen, sementara biaya operasional meningkat 13 persen. Tekanan terbesar datang dari depresiasi armada yang melonjak hingga 31 persen secara tahunan dan sudah berlangsung selama tiga kuartal berturut-turut.

Kondisi ini memunculkan spekulasi pasar bahwa Blue Bird sedang melakukan percepatan penyusutan aset atau accelerated depreciation sebagai bagian dari strategi pembaruan armada dan efisiensi jangka panjang.

Akibat kenaikan biaya tersebut, margin laba usaha BIRD turun cukup dalam menjadi 10 persen dari sebelumnya 13 persen pada kuartal I 2025. Laba usaha perusahaan juga ikut melemah sekitar 10 persen menjadi Rp152 miliar.

Tak hanya itu, tekanan juga datang dari sisi pembiayaan. Beban keuangan Blue Bird melonjak 75 persen menjadi Rp23 miliar dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp13 miliar.

Analis pasar mulai menyoroti potensi tantangan yang lebih besar bagi Blue Bird ke depan, terutama jika harga BBM kembali naik akibat tensi geopolitik global yang memanas. Sebagai perusahaan transportasi berbasis armada besar, kenaikan harga energi berpotensi langsung menekan profitabilitas perusahaan.

Situasi ini menjadi sorotan menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Blue Bird yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026 di Jakarta Selatan.

Investor kini menanti arah strategi manajemen dalam menjaga efisiensi armada, mengendalikan biaya operasional, hingga mempertahankan margin keuntungan di tengah tekanan ekonomi dan biaya pembiayaan yang semakin mahal.

Selama beberapa tahun terakhir, Blue Bird sempat menikmati momentum kebangkitan bisnis seiring pulihnya mobilitas masyarakat. Namun memasuki 2026, tantangan perusahaan mulai berubah.

Pasar kini tidak lagi hanya melihat pertumbuhan pendapatan, melainkan seberapa kuat Blue Bird menjaga profit di tengah biaya yang bergerak lebih cepat dibanding pertumbuhan bisnisnya.