Brigit Biofarmaka Tebar Dividen di Tengah Agresivitas Bisnis

Sindojabar.com,- PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk memperkuat bisnis industri herbal, suplemen kesehatan, dan kosmetik nasional. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Perseroan menegaskan strategi ekspansi agresif sekaligus tetap membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan tidak hanya fokus memperluas pasar, tetapi juga tetap menjaga komitmen terhadap investor di tengah ekspansi besar-besaran yang sedang dijalankan.

Direktur Utama PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk, Is Heriyanto mengatakan Perseroan saat ini tengah mempercepat pembangunan sejumlah fasilitas strategis untuk memperkuat kapasitas produksi dan memperluas penguasaan pasar nasional.

Beberapa proyek ekspansi yang tengah dijalankan meliputi pembangunan pabrik suplemen sediaan softgel, pabrik suplemen sediaan tablet, pabrik kosmetik full aspek, fasilitas laboratorium, hingga kantor marketing dan pengembangan bisnis.

“Langkah ekspansi agresif ini dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan Perseroan di industri herbal, suplemen kesehatan, dan kosmetik nasional, sekaligus memperkuat posisi Perseroan sebagai perusahaan manufaktur berbasis inovasi dan market driven,” ujar Is Heriyanto, Kamis (14/5/2026).

Di tengah fokus ekspansi tersebut, RUPS tetap menyetujui pembagian dividen tunai sebesar 20 persen dari laba bersih tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.

Besaran dividen yang dibagikan mencapai Rp7,548 per saham atau setara total Rp5.135.482.388 kepada seluruh pemegang saham dari total 680.376.575 lembar saham beredar.

Keputusan pembagian dividen ini dinilai menjadi bukti kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis Perseroan ke depan, meskipun perusahaan sedang mengalokasikan dana besar untuk pengembangan usaha dan akuisisi pasar.

Sepanjang tahun buku 2025, PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk berhasil mencatat pertumbuhan omzet sebesar 32,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun laba bersih konsolidasi tercatat turun 16,15 persen akibat meningkatnya biaya marketing dan strategi ekspansi pasar yang dilakukan secara agresif.

Menurut Is Heriyanto, penurunan laba bersih tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk memperkuat fondasi bisnis dan meningkatkan daya saing perusahaan di industri kesehatan dan kosmetik nasional.

“Strategi ekspansi dan penguatan market share yang dilakukan saat ini merupakan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang dan meningkatkan nilai Perseroan di masa mendatang,” pungkasnya.