Sindojabar.com – Peredaran berita bohong atau hoaks di Jawa Barat masih tinggi khususnya di Kota Bandung dan Kabupaten Sukabumi. Demikian disampaikan Anggota Komisi I DPR RI, dari Farksi Golkar, Nurul Arifin.
Menurutnya, Sejak Januari lalu, grafik hoaks tercatat masih tinggi.memasuki Mei, trannya, sempat menyentuh angka 42 kasus hoaks yang beredar hingga 12 Mei.
“Awalnya Kota Bandung menempati urutan tertinggi, disusul oleh Sukabumi, namun dari pemutahiran data tanggal tersebut, posisinya berubah, sekarang Sukabumi yang melonjak menjadi yang teringgi dalam penyebaran hoaks,” kata Nurul Arifin saat sosialisasi Empat Pilar kepada ibu rumah tangga di Kota Bandung, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga: DPRD Jabar Serahkan Data 10 Calon Daerah Otonomi Baru ke DPR RI
Dalam kegiatan tersebut, Nurul menyoroti kaitan demokrasi dengan penggunaan media sosial. Nurul mengingatkan masyarakat agar menggunakan media sosial secara bijak dan tidak menjadikannya alat penyebaran disinformasi maupun provokasi.
Menurutnya, konten di media sosial kerap memicu konflik hingga memecah belah masyarakat jika tidak disikapi dengan literasi digital yang baik.
“Jangan sampai media sosial dipakai untuk menyebarkan konten provokatif, menyesatkan, atau membeda-bedakan suku dan kelompok tertentu. Itu bisa memicu konflik di masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Ribuan Warga Terdampak, BPBD Jabar Tangani Banjir Cisolok Sukabumi
Nurul menilai pemahaman literasi digital menjadi penting agar masyarakat mengetahui batasan dalam membuat dan menyebarkan konten di ruang digital. Selain itu, masyarakat juga perlu memahami aturan hukum yang melindungi pengguna media sosial dari dampak disinformasi dan hoaks.
Nurul menyebut, kelompok ibu rumah tangga menjadi salah satu kelompok yang rentan menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Kondisi itu, kata dia, dipengaruhi keinginan menjadi pihak pertama yang mengetahui sebuah informasi.
“Kadang ada euforia merasa jadi orang pertama yang tahu lalu langsung menyebarkan, tanpa mengonfirmasi dulu ke media mainstream,” katanya.
Selain itu, Nurul juga menyinggung fenomena echo chamber di media sosial yang membuat seseorang cenderung hanya menerima informasi sesuai pandangan pribadinya, sehingga mempercepat penyebaran hoaks.
Baca Juga: Geopark Ciletuh Sukabumi Raih Status Green Card dari UNESCO
Nurul pun mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” sebelum menyebarkan informasi di media sosial.
“Dicek dulu benar atau tidak, perlu dibagikan atau tidak, merugikan orang lain atau tidak. Jangan sampai menimbulkan gejolak politik ataupun konflik di masyarakat,” katanya. (*)






