SindoJabar.com – Panen Raya Kopi Cianjur 2026 berlangsung meriah di Kampung Babakan Sumedang, Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Sabtu (6/6/2026).
Acara itu memadukan pertanian, pelestarian lingkungan, dan kebudayaan dalam satu rangkaian kegiatan.
Panen raya kopi yang diselenggarakan Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia itu dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Metty Triantika.
Acara ini mendapat dukungan dari Kopi Sarongge, Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia, dan berbagai mitra.
Tujuan panen raya tersebut, upaya memperkuat ekonomi masyarakat tani hutan sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.
Panen Raya Kopi Cianjur 2026 berlangsung sehari setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni.
Kegiatan tersebut mempertemukan petani kopi, kelompok tani hutan, pemerintah, dunia usaha, pegiat lingkungan, dan pelaku budaya.
Mereka dalam satu semangat menjaga hutan sekaligus mengembangkan kopi sebagai komoditas unggulan daerah.
Metty Triantika yang merupakan politisi Partai Golkar, menilai kegiatan itu bisa menjadi contoh nyata bagi pembangunan yang mengedepankan keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam.
“Panen raya seperti ini menjadi contoh baik bagaimana masyarakat dapat membangun ekonomi sekaligus menjaga alam,” kata Metty.

Tradisi Murak Timbel
Metty mengapresiasi Kopi Sarongge, Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia, Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia, dan seluruh pihak yang terlibat.
“Mampu menghadirkan kegiatan yang menyatukan budaya, konservasi, dan kesejahteraan petani,” ujar Metty.
Rangkaian acara di awali dengan panen kopi bersama para petani. Kemudian, arak-arakan atau helaran hasil panen, dan ritual panen raya.
Acara semakin meriah dengan pertunjukan seni budaya, penyerahan bibit pohon, penanaman pohon, hingga makan bersama dalam tradisi murak timbel.
Petani yang terlibat berasal dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Rindu Alam dan KTH Adibaraya Desa Pakuon, Kecamatan Sukaresmi.
Mereka menjadi bagian utama dalam seluruh rangkaian kegiatan yang menonjolkan hubungan erat antara masyarakat tani hutan dengan upaya pelestarian kawasan perhutanan sosial.
Ratusan petani hutan turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama sejumlah tokoh dari berbagai sektor.
Di antaranya Ketua Badan Pengurus Harian Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia Tosca Santoso, Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk Adi Pramana.
Tanam 3.000 Bibit Pohon
Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI Apri Dwi Sumarah, serta Kepala Seksi Wilayah I Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Jawa Barat Ruhiyat.
Hadir juga Kepala Bidang Pemasaran Daya Tarik Pariwisata Disbudpar Kabupaten Cianjur Tita Rosilawati dan Kepala Desa Pakuon Abdullah.
Kepala Desa Ciputri Nia Novi Hertini, Ketua KTH Rindu Alam Warsa, dan Ketua KTH Adibaraya Riga Mustari.
Para tamu undangan bersama petani melakukan penanaman berbagai jenis pohon produktif dan konservasi. Salah satu dukungan terbesar datang dari PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk yang menyerahkan bantuan sebanyak 3.000 bibit pohon kepada masyarakat tani hutan.
Bibit pohon yang di salurkan antara lain kopi, alpukat, pala, durian, petai, dan berbagai tanaman produktif lainnya.
Tanaman produktif itu di harapkan mampu meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat sekitar kawasan hutan.
Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia Wina Resky Agustina mengatakan, Panen Raya Kopi Cianjur 2026 merupakan bentuk penghormatan kepada para petani.
Mereka selama ini menjaga keseimbangan antara produksi kopi dan kelestarian alam.
Ruang Kolaborasi
Melalui panen raya ini, Lokatmala Foundation ingin menghadirkan ruang kolaborasi, mempertemukan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas budaya.
“Petani hutan adalah penjaga kehidupan. Mari bersama-sama menjaga masa depan kopi Cianjur dan keberlanjutan lingkungan hidup,” kata Wina.
Kegiatan semakin meriah dengan penampilan kesenian tradisional dari Padepokan Benteng Wulung yang menampilkan atraksi pencak silat dan kesenian lainnya.
Pertunjukan itu menjadi bagian dari upacara pesta panen kopi yang sarat makna sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus penghormatan terhadap alam dan kerja keras para petani.
Nuansa sakral terasa sepanjang pertunjukan budaya tersebut. Denting gamelan dan gerak pencak silat menyatu dengan suasana pegunungan Pakuon.
Pesan kuat bahwa kopi, budaya, dan lingkungan merupakan tiga unsur yang tidak dapat di pisahkan dalam kehidupan masyarakat di sekitar lereng Gunung Halang tersebut.






