KPID Jabar Serukan Pengawasan Media Digital bagi Anak Lewat Kick-Off Hasiarda 2026

SindoJabar, Bandung – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai garda terdepan dalam mengawasi dan mendampingi anak saat mengakses berbagai platform media digital.

Pesan tersebut disampaikan saat KPID Jabar meluncurkan kick-off Hasiarda 2026 bertepatan dengan Hari Anak, sebagai upaya memperkuat literasi media dan transformasi penyiaran berbasis kearifan lokal.

Mengusung tema besar “Transformasi Digital Penyiaran; Merawat Kearifan Lokal Menuju Jawa Barat Istimewa”, momentum ini dirancang sebagai jawaban konkret terhadap tantangan disrupsi teknologi sekaligus kampanye masif literasi media.

Baca Juga: KPID Jabar dan DPRD Dorong Penyiaran Jadi Garda Edukasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan lembaga penyiaran dalam melindungi generasi muda serta memberikan panduan edukatif bagi para orang tua di tengah kepungan arus informasi digital.

Ia menekankan pentingnya peran aktif keluarga dalam memilah serta mengawasi tayangan yang dikonsumsi oleh anak-anak, guna menjaga kualitas tumbuh kembang dan daya pikir mereka di masa depan.

“Kami terus konsisten menyuarakan pentingnya menonton televisi dan mendengarkan radio, sekaligus memberikan literasi kepada anak-anak dan orang tua. Kami ingin mengingatkan bahwa media berbasis internet, apabila tidak dikontrol, dapat berdampak buruk terhadap proses berpikir anak,” ujar Adiyana Slamet, Kamis (23/7/2026).

Baca Juga: KPID Jabar Dorong Siaran Lokal Naik Kelas, Tak Sekadar Penuhi Kuota tapi Jadi Benteng Budaya

Adiyana menegaskan bahwa posisi anak-anak sangat strategis sebagai pilar pembangunan jangka panjang. Menjaga kualitas mental dan intelektual generasi muda merupakan investasi penting tidak hanya bagi tingkatan keluarga, tetapi juga bagi Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, hingga bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Rangkaian kick-off Hasiarda 2026 ini juga melanjutkan kolaborasi lintas sektor yang sebelumnya telah terbangun. KPID Jabar sukses menyelenggarakan Public Global Forum bersama LPP RRI Bandung, dilanjutkan dengan kolaborasi bersama Lemhannas, PRSSNI, Universitas Pasundan, Universitas Komputer Indonesia (Unikom), serta jajaran pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi bersama perguruan tinggi dan lembaga negara tersebut turut didukung oleh temuan data riset internal KPID Jawa Barat mengenai pola konsumsi media di kalangan Generasi Z. Data mencatat angka yang dinamis antara media konvensional dan media berbasis siber.

Baca Juga: KPID dan DPRD Jabar Perkuat Kolaborasi Dorong Revisi UU Penyiaran

“Berdasarkan hasil penelitian yang kami miliki, sebanyak 87 persen Generasi Z masih menonton televisi, 56 persen masih mendengarkan radio, namun 99,8 persen sudah mengakses media internet. Ini menjadi ikhtiar bersama untuk membangun sumber daya manusia di Jawa Barat,” tutur Adiyana menerangkan.

Selain fokus pada literasi digital dan penguatan konten lokal, Hasiarda 2026 bakal diwarnai aksi kepedulian lingkungan dan kesehatan masyarakat. KPID Jawa Barat berencana melakukan aksi penanaman 2.500 pohon buah di wilayah Bandung Timur, tepatnya di kawasan Cikadut dan Titik Nol Citarum, bekerja sama dengan ATVSI, PRSSNI, Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Barat, APTISI Jawa Barat, ODESA dan beberapa mitra strategis lainnyayang menargetkan kontribusi hingga 10.000 pohon.

Tak hanya itu, KPID Jabar juga siap menggelar kegiatan jalan sehat di Kabupaten Bandung Barat bersama masyarakat, lembaga penyiaran, dan asosiasi terkait. Agenda ini bertujuan menyuarakan semangat keberlanjutan bahwa radio dan televisi tetap eksis, relevan, serta konsisten menyajikan edukasi berkualitas.

Baca Juga: Gen Z dan Media Digital Jadi Sorotan KPID Jabar dalam Perspektif Pancagatra

Adiyana mengajak masyarakat luas untuk tidak ragu menjadikan televisi dan radio sebagai pilihan utama hiburan dan informasi keluarga karena terikat oleh regulasi serta pedoman perilaku penyiaran yang jelas.

“Kepada masyarakat, mari tetap menonton televisi dan mendengarkan radio karena memiliki banyak nilai edukasi. Jangan sampai kita menyesal karena memberikan akses terlalu luas kepada anak-anak tanpa pengawasan. Media internet bukanlah ruang bermain yang sepenuhnya aman; di dalamnya terdapat risiko pornografi, bullying, kekerasan, hingga kejahatan gender secara daring,” tegasnya. (dsp)