Sindojabar, BANDUNG – Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, persoalan akses terhadap layanan kesehatan dasar masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di pelosok negeri. Salah satunya layanan kesehatan gigi dan mulut yang belum sepenuhnya mudah dijangkau.
Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga medis, hingga stigma terhadap dokter gigi membuat persoalan kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Kondisi tersebut juga membuka ruang bagi berkembangnya mitos dan praktik pengobatan alternatif yang belum tentu aman.
Realitas itu tergambar dalam film dokumenter “Negeri Susah Senyum”, yang merekam perjalanan sejumlah dokter gigi saat melakukan riset sekaligus memberikan pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi.
Film produksi Anatman Pictures tersebut tidak hanya mengungkap kondisi kesehatan gigi masyarakat adat, tetapi juga memperlihatkan perubahan pola hidup yang mulai berdampak terhadap kesehatan gigi generasi muda.

Dokter gigi dari FDC Dental Clinic, drg. Ahmad Syahrul Mubarok, menjadi salah satu dokter yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menemukan fakta menarik mengenai kondisi kesehatan gigi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.
Menurut Ahmad, masyarakat generasi sepuh justru memiliki kondisi gigi yang relatif lebih baik dibandingkan anak-anak.
“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” ujar Ahmad saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin (17/8/2026).
Namun, kondisi berbeda ditemukan pada generasi anak-anak. Ahmad menyebut persoalan karies menjadi salah satu masalah yang cukup memprihatinkan.

Bahkan, pada usia sekitar tujuh tahun, sebagian anak sudah mengalami kerusakan berat pada gigi susu akibat karies rampan.
Perubahan pola konsumsi menjadi salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut. Makanan modern dengan kandungan gula tinggi dan makanan olahan mulai masuk ke lingkungan kasepuhan dan perlahan menggantikan pola konsumsi masyarakat yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan bahan pangan alami.
Persoalan tersebut semakin kompleks karena keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi.
Ketiadaan dokter gigi dan minimnya fasilitas kesehatan membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan ketika mengalami masalah pada gigi. Ahmad bahkan menemukan tenaga kesehatan lokal harus mengambil tindakan di luar kewenangan ideal karena tidak adanya tenaga medis dengan layanan yang lebih lengkap.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih memadai, masyarakat harus menuju fasilitas kesehatan di kawasan Pelabuhanratu.
Perjalanan menuju fasilitas kesehatan tersebut bisa memakan waktu sekitar empat jam melalui jalur darat dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui.

Bagi masyarakat yang tengah mengalami sakit gigi, perjalanan selama berjam-jam tentu menjadi hambatan tersendiri. Kondisi ini kemudian turut membuka ruang bagi berkembangnya mitos maupun pengobatan alternatif yang belum tentu dilakukan dengan cara yang higienis.
“Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi,” kata Ahmad.
Ia menambahkan, karies gigi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi yang dominan di Indonesia. Sekitar 80 persen masyarakat disebut mengalami karies gigi, sementara pemerintah menargetkan Indonesia dapat bebas karies pada 2035.
Buka Mata Generasi Muda
Pesan mengenai ketimpangan akses kesehatan gigi tersebut turut disampaikan kepada generasi muda melalui penayangan perdana Negeri Susah Senyum.
Sejumlah finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 diajak menyaksikan langsung film dokumenter tersebut. Tidak hanya menonton, para finalis juga mengikuti diskusi mengenai persoalan yang diangkat dalam film bersama sejumlah narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan lapangan.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka perspektif baru bagi generasi muda mengenai persoalan kesehatan gigi yang masih dihadapi masyarakat di berbagai pelosok Jawa Barat.
Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengaku kondisi yang ditampilkan dalam film bukan sesuatu yang asing baginya.
Sebagai putri daerah, Djemima tumbuh di kawasan pesisir Sukabumi. Meski lokasi tempat tinggalnya cukup jauh dari Kasepuhan Ciptagelar, ia menilai persoalan keterbatasan akses dan edukasi kesehatan yang digambarkan dalam film memiliki kedekatan dengan kondisi masyarakat di daerahnya.

Menurut Djemima, film tersebut memperlihatkan realitas yang memang terjadi di lapangan, bukan sekadar cerita yang dibangun untuk kepentingan film.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab sebagai putri daerah untuk ikut menyuarakan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, terutama kepada generasi muda.
Bawa Pesan “Senyum” Lebih Jauh
Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan film Negeri Susah Senyum dibuat untuk membuka mata masyarakat mengenai belum meratanya akses kesehatan gigi di Indonesia.
Menurutnya, persoalan kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan dokter maupun fasilitas kesehatan. Stigma yang berkembang di tengah masyarakat juga menjadi tantangan yang perlu diatasi.

“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” ujar Ita.
Film Negeri Susah Senyum pada akhirnya tidak sekadar bercerita tentang gigi yang sakit maupun fasilitas kesehatan yang berjarak jauh.
Film tersebut menggambarkan adanya jarak antara masyarakat pelosok dengan dokter gigi, antara pengetahuan medis dengan mitos, serta antara pola hidup tradisional dengan perubahan konsumsi yang semakin modern.

Di usia Indonesia yang telah mencapai 81 tahun, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan ketika akses terhadap layanan kesehatan dasar masih menjadi perjuangan bagi sebagian masyarakat.
Sebab, senyum seharusnya bukan kemewahan.*






