SindoJabar, BANDUNG – Gerakan Pemuda Generasi Mas (G-MAS) hadir dengan gagasan untuk mendorong generasi muda Indonesia agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum DPP G-MAS Pahad Alghifari, organisasi ini membawa semangat “Satu Pemuda, Satu Usaha, Satu Lapangan Kerja” sebagai arah utama gerakan.
Ketua Umum DPP Pusat G-MAS Pahad Alghifari mengatakan, G-MAS melihat masih banyak anak muda yang memiliki kreativitas dan kemampuan. Tetapi mereka menghadapi berbagai kendala, mulai dari pengetahuan kewirausahaan, akses permodalan hingga jaringan pemasaran.
Karena itu, G-MAS membangun ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan pemuda dengan pelatihan, pendampingan usaha, mentor, akses permodalan dan pasar.
Menurut Pahad, perubahan pola pikir menjadi salah satu hal penting yang ingin dibangun melalui organisasi G-MAS.
“Pemuda jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan. Kita ingin membangun pola pikir bahwa pemuda juga bisa menjadi pengusaha, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian ekonomi,” kata Pahad.
G-MAS, ujar Pahad, menerjemahkan gagasan tersebut melalui sejumlah program utama. Antara lain, Satu Anggota Satu Usaha, Entrepreneur Academy, Inkubator Bisnis G-MAS.
Program 1.000 pengusaha baru, UMKM Naik Kelas, G-MAS Digital Entrepreneur, usaha berbasis potensi desa, dan G-MAS Marketplace.

Target Lahirkan 1.000 Pengusaha
Pahad menjelaskan, salah satu program unggulan G-MAS adalah target melahirkan 1.000 pengusaha baru secara bertahap. Program tersebut dibagi dalam tiga tahap, yaitu, 100 pengusaha baru, 500, hingga mencapai 1.000.
“Dalam materi program G-MAS disebutkan bahwa apabila 1.000 pengusaha tersebut rata-rata mampu menyerap tiga tenaga kerja. Maka, terdapat potensi sekitar 3.000 lapangan kerja yang dapat tercipta,” ujar Pahad.
Pahad menuturkan, selain mencetak pengusaha baru, G-MAS juga menaruh perhatian terhadap pelaku UMKM yang telah menjalankan usaha. Pendampingan diarahkan pada aspek legalitas dan pembukuan, branding, digital marketing, peningkatan produksi serta perluasan pasar.
G-MAS juga mengembangkan konsep G-MAS Digital Entrepreneur dengan mendorong pemuda memanfaatkan teknologi melalui berbagai bidang. Seperti, content creator, affiliate marketing, online shop, jasa desain, AI, dan teknologi digital.
Di tingkat desa, tutur Pahad, G-MAS mendorong pemetaan potensi pertanian, perikanan, pariwisata, kuliner dan kerajinan untuk dikembangkan menjadi unit usaha masyarakat.
Sementara melalui G-MAS Marketplace, organisasi tersebut menyiapkan konsep bazar UMKM, pameran, marketplace digital, katalog produk dan business matching.
“Untuk memperkuat ekosistem tersebut, G-MAS juga membawa program mentor pengusaha, akses permodalan, dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak. Termasuk perbankan, koperasi, program pemerintah, investor, perguruan tinggi dan perusahaan,” tutur Pahad.
Pemuda Bagian dari Solusi Ekonomi
Bagi G-MAS, kata Pahad, keberhasilan organisasi tidak semata-mata di ukur dari banyaknya kegiatan yang di laksanakan. Materi organisasi menekankan, keberhasilan di ukur dari berapa banyak usaha baru yang lahir, usaha yang mampu bertahan dan berkembang, dan tenaga kerja yang berhasil di rekrut.
G-MAS menetapkan sejumlah indikator awal, antara lain, melatih 1.000 pemuda, membina 500 calon pengusaha melalui inkubasi, menargetkan 100 usaha baru terbentuk, 50 mentor bisnis, dan 50 UMKM naik kelas.
Pahad menegaskan gerakan tersebut ingin menjadikan pemuda sebagai bagian dari solusi ekonomi di tengah masyarakat.
“Dari pemuda, lahir pengusaha. Kemudian, dari pengusaha, lahir lapangan kerja. Selanjutnya, dari lapangan kerja, lahir kesejahteraan. Ini lah semangat yang ingin kami bangun bersama melalui G-MAS,” ucap Pahad.
Melalui gerakan tersebut, G-MAS menempatkan pemuda, keterampilan, usaha, pengusaha, lapangan kerja dan kesejahteraan daerah sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung.






