Pembelajaran Kewirausahaan Berbasis Praktik Kian Diminati, Zurich Entrepreneurship Program Jangkau 10.000 Siswa

Ekonomi Bisnis24 Dilihat

Sindojabar.com – Sekolah semakin mengadopsi pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman karena dinilai mampu meningkatkan keterampilan praktis siswa. Tren tersebut terlihat dari capaian Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) yang berhasil menjangkau lebih dari 10.000 siswa SMA dan SMK di tujuh kota selama tahun pertama fase kedua program.

Program yang dijalankan sejak Juli 2025 oleh Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia itu melampaui target awal hingga 164 persen. Program tersebut juga mendorong lahirnya 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta.

Melalui program ini, para siswa tidak hanya mempelajari teori kewirausahaan di ruang kelas. Mereka langsung mengembangkan ide bisnis, menjalankan usaha di lingkungan sekolah, mengelola keuangan, serta mempelajari dinamika dunia kerja melalui pengalaman nyata.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan pihaknya terus mendorong pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami percaya pada pendidikan yang membekali generasi muda dengan keterampilan praktis untuk kehidupan nyata. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami ingin membantu siswa membangun kepercayaan diri, kemampuan membaca peluang, dan pengambilan keputusan finansial yang lebih baik. Capaian tahun pertama ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat memberikan dampak nyata dan mempersiapkan generasi muda dalam membangun masa depan,” kata Edhi, Rabu (3/5/2026)

ZEP mengintegrasikan pembelajaran kewirausahaan, literasi keuangan, dan kesiapan kerja dalam satu program terpadu. Para siswa mempelajari cara mengenali peluang usaha, menyusun rencana bisnis, menjalankan usaha mikro, serta mengembangkan kemampuan kerja sama tim, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah.

Program tersebut juga memperkuat pemahaman siswa mengenai pengelolaan keuangan melalui materi penganggaran, menabung, investasi, hingga manajemen risiko. Selain itu, para peserta memperoleh wawasan dunia profesional melalui berbagai sesi bersama sukarelawan dari Zurich.

Adapun, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting yang memperluas dampak program terhadap generasi muda.

“Tahun pertama fase ini menunjukkan bahwa dampak positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi. Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerja bersama, semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang relevan dan peluang untuk membangun masa depan mereka,” ujar Adriana.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, melihat semakin banyak sekolah yang menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman karena mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

“Implementasi Zurich Entrepreneurship Program memberikan sinyal kuat bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah. Kami melihat guru secara aktif memperluas implementasi program karena siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung, mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan, hingga memahami dunia kerja,” jelas Utami.

Menurutnya, penerapan metode pembelajaran berbasis praktik secara konsisten tidak hanya meningkatkan partisipasi siswa, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh guru, dampaknya tidak hanya terlihat pada tingginya partisipasi, tetapi juga pada lahirnya pengalaman belajar yang lebih relevan dan membantu siswa membangun keterampilan untuk masa depan,” tambahnya.

Melihat tingginya antusiasme sekolah dan siswa, penyelenggara akan memperluas fase kedua Zurich Entrepreneurship Program hingga 2028. Program tersebut akan menjangkau lebih banyak peserta sekaligus memperkuat kapasitas guru dan meningkatkan keterlibatan sukarelawan dalam mendukung lahirnya generasi muda yang percaya diri, terampil, dan siap menghadapi perubahan ekonomi maupun dunia kerja.