SindoJabar.com – Dampak anjloknya nilai tukar rupiah hingga tembus Rp18.000 per Dolar AS membuat para pengusaha bus pariwisata di Jawa Barat menjerit. Mereka berencana menghentikan operasional sebagian bus.
Sekjen Ikatan Perusahaan Otobus Pariwisata Jawa Barat (IPOBA) Herdis Subarja mengatakan, nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap Dolar AS menyebabkan harga suku cadang kendaraan naik signifikan sehingga biaya operasional bus melambung tinggi.
Karena itu, sebagai langkah antisipasi, pengusaha bus pariwisata akan mengistirahatkan beberapa armadanya.
“Bukan tidak beroperasi, tetapi menghentikan operasional beberapa armada. Sebab, nilai tukar rupiah anjlok terhadap Dolar AS berdampak terhadap naiknya suku cadang bus. Biaya operasional bus menjadi tinggi,” kata Herdis kepada wartawan, Jumat (5/6/2026).
Herdis menjelaskan, para pengusaha bus pariwisata terpukul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS. Selain menyebabkan biaya operasional semakin tinggi, pendapatan pun menurun.
“Pesanan sewa bus pariwisat turun terus sejak awal 2026. Bahkan pada 2025, Gubernur Jabar melarang study tour sekolah di Jawa Barat. Kondisi ini membuat perusahaan bus pariwisata semakin parah,” ujar Herdis.
Desak Pemerintah Hapus Pajak
IPOBA, tutur Herdis, mendesak pemerintah pusat dan daerah melakukan tindakan nyata dan berguna bagi para pelaku usaha bus pariwisata.
Seperti penurunan atau penghapusan sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk barang tertentu, terutama suku cadang bus.
“Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bidang perizinan angkutan umum dihapus atau gratis dan penghapusan pajak kendaraan angkutan umum dan sebagainya,” tutur Herdis.
Menurut Herdis, jika pemerintah tudak melakukan tindakan taktis, bakal terjadi krisis seperti 1998. Para pelaku usaha kolaps.
Saat ini, kata Herdis, IPOBA melakukan pendataan terhadap perusahaan bus yang mulai menghentikan sebagian operasional bus.
“Kami menunggu tindakan nyata pemerintah untuk mendukung eksistensi para pelaku usaha agar terhindar dari krisis,” ucap Herdis.






