SindoJabar, BANDUNG – Harga telur ayam di tingkat peternak anjlok hingga Rp20.000 per kilogram. Kondisi ini membuat peternak tertekan karena biaya produksi, terutama pakan, justru terus meningkat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan, kenaikan harga bahan baku pakan menjadi salah satu faktor yang membebani peternak. Akibatnya, harga jual telur yang diterima peternak tidak sebanding dengan biaya produksi.
Baca Juga:Legislator Demokrat Dorong Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Telur dan Daging Ayam
“Harga telurnya anjlok, sedangkan biaya produksi, terutama pakan, meningkat. Jadi, hampir tidak bisa menutupi biaya produksi,” kata Gin Gin, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, bahan baku pakan ayam didominasi jagung dengan proporsi sekitar 50 persen. Sementara itu, bungkil kedelai menyumbang hampir 25 persen dari komposisi pakan.
Kenaikan harga kedua bahan baku tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi. Gin Gin mencontohkan, harga bungkil kedelai yang sebelumnya sekitar Rp6.500 kini meningkat menjadi Rp9.000 hingga Rp10.000.
Baca Juga:Pemprov Jabar Antisipasi Kenaikan Harga Telur dan Ayam
“Bungkil kedelai yang biasanya Rp6.500 bisa sampai Rp9.000-Rp10.000 sekarang. Itu bahan campuran untuk pakan dan proporsinya besar, termasuk jagung. Harga bahan baku jagung dan kedelai meningkat sehingga berpengaruh terhadap harga pakan,” katanya.
Di tengah kenaikan biaya produksi, harga telur yang diterima peternak hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Gin Gin menyebut, angka tersebut berada di bawah harga pembelian yang ditetapkan pemerintah, yakni sekitar Rp26.500 per kilogram.
Tekanan biaya produksi juga berpotensi memengaruhi pasokan telur ke depan. Meski ketersediaan telur saat ini masih terjaga, peternak berpeluang mengurangi produksi apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan pakan.
Pasalnya, produksi telur sangat bergantung pada kecukupan asupan pakan ayam. Sementara itu, hampir seluruh pakan yang digunakan peternak ayam petelur berasal dari pabrikan.
Baca Juga:AFFA Soroti Produksi Telur di Indonesia, Kandang Baterai Jadi Perhatian
“Stok sih ada, cuma karena sekarang harga pakan naik, produksi juga kemungkinan agak sedikit menurun karena peternak tidak tahan membeli pakan yang terus meningkat. Ada peternak yang mungkin menurunkan tingkat produksinya,” ungkapnya.
Sementara itu, harga telur di tingkat konsumen di Kota Bandung masih relatif terkendali. Menurutnya, harga telur dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) mencapai Rp23.000 per kilogram, sedangkan di pasar sekitar Rp25.000 per kilogram.
Harga tersebut masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang disebutnya sebesar Rp26.000 per kilogram.
Baca Juga:DPRD Jabar Prihatin Keracunan MBG Kembali Terjadi
“Kalau di pasar masih di sekitar harga itu. Yang berat justru di tingkat peternaknya, karena harga jual yang mereka terima hanya sekitar Rp20.000 sampai Rp21.000 per kilogram,” pungkasnya. (*YM)






