AFFA Soroti Produksi Telur di Indonesia, Kandang Baterai Jadi Perhatian

SindoJabar, BANDUNG – Telur menjadi salah satu bahan pangan yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Harganya relatif terjangkau, mudah ditemukan, dan masyarakat kerap mengolahnya menjadi berbagai menu makanan sehari-hari.

Namun, di balik telur yang setiap hari tersaji di meja makan, terdapat proses produksi yang belum banyak diketahui konsumen, terutama mengenai sistem pemeliharaan ayam petelur.

Hal tersebut menjadi perhatian Act For Farmed Animals (AFFA), sebuah inisiatif kolaborasi Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal International. AFFA mendorong upaya mengurangi penderitaan hewan ternak sekaligus mempromosikan pilihan pangan yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Baca Juga: Legislator Demokrat Dorong Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Telur dan Daging Ayam

AFFA menyoroti penggunaan kandang baterai, yakni kandang kawat berukuran sempit yang banyak digunakan peternak untuk memelihara ayam petelur.

Dalam sistem tersebut, peternak menempatkan seekor ayam di ruang sekitar 450 sentimeter persegi. Ayam juga dapat menghabiskan masa produktifnya yang mencapai sekitar 63 minggu di dalam kandang tersebut.

Ruang yang terbatas membuat ayam kesulitan melakukan sejumlah perilaku alami, seperti merentangkan sayap, bertengger, mandi debu, membuat sarang, hingga bersosialisasi.

Baca Juga: Pemprov Jabar Antisipasi Kenaikan Harga Telur dan Ayam

Menurut AFFA, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kesejahteraan hewan. Produsen juga perlu memperhatikan aspek kesehatan konsumen serta tanggung jawab perusahaan dalam mengelola rantai pasok pangan.

AFFA mengutip kajian European Food Safety Authority (EFSA) 2019 yang mencatat prevalensi Salmonella pada telur dari sistem kandang baterai 25 persen lebih tinggi dibandingkan telur dari sistem tanpa kandang.

Selain itu, penelitian Universitas Gadjah Mada yang terbit dalam jurnal pada 2024 menemukan Salmonella yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik (multidrug-resistant) pada telur dari kandang sempit yang dijual di supermarket.

Baca Juga: Samsung Rilis Galaxy Watch Ultra 2, Usung Baterai 800 mAh dan Chip Snapdragon Pertama

Cage-Free Dinilai Beri Ruang Lebih Luas

Sebagai alternatif, AFFA memperkenalkan sistem cage-free atau pemeliharaan ayam tanpa kandang baterai. Sistem tersebut memberi ayam ruang bergerak yang lebih luas dan kesempatan melakukan lebih banyak perilaku alami.

Dalam sistem cage-free, peternak tidak menempatkan ayam secara individual di dalam kandang baterai. Ayam dapat bergerak di area pemeliharaan serta menggunakan fasilitas seperti tempat bertengger, sarang, area mandi debu, dan tempat mencari makan.

AFFA menyebut beberapa model sistem cage-free, yakni floor system, aviary system, serta free-range atau organic.

Pada floor system, peternak memelihara ayam tanpa sekat kurungan individual dan membiarkannya bergerak di area lantai dalam ruangan tertutup.

Baca Juga: Bahas LKPJ 2025, Komisi IV DPRD Jabar Ingatkan Soal PJU dan Pemeliharaan Jalan

Sementara itu, aviary system menggunakan desain kandang bertingkat yang memungkinkan ayam bergerak lebih leluasa sekaligus mengakses fasilitas pakan dan minum.

Adapun free-range atau sistem organik memberi ayam akses ke ruang luar untuk bergerak dan mencari makan. Pada sistem organik, produsen juga perlu memperhatikan aspek pakan sebagai bagian dari standar pemeliharaan.

Meski demikian, AFFA menekankan bahwa penerapan cage-free tidak otomatis menjamin kesejahteraan ayam. Desain fasilitas, kepadatan populasi, serta pengelolaan peternakan tetap menentukan kondisi pemeliharaan ayam.

Baca Juga: Komisi II DPRD Jabar Dorong Peningkatan dan Pengembangan Ternak Domba

Dengan demikian, pilihan sistem produksi telur tidak hanya menyangkut cara menghasilkan pangan. Sistem tersebut juga berkaitan dengan cara peternak memelihara hewan, cara pelaku usaha mengelola risiko kesehatan, serta tanggung jawab perusahaan terhadap rantai pasok pangan.

AFFA mendorong konsumen dan perusahaan meningkatkan perhatian terhadap sistem produksi telur yang memberi ayam ruang lebih besar untuk menjalankan perilaku alaminya. AFFA juga mengajak masyarakat memahami proses produksi di balik pangan yang mereka konsumsi sehari-hari. (*)