Badai Hujan Deras-Angin Kencang Terjang Bandung, Pohon dan Papan Reklame Tumbang

Headline, Jawa Barat66 Dilihat

SindoJabar.com – Badai hujan deras disertai angin kencang menerjang Kota Bandung, Jumat (3/4/2026) siang. Akibatnya, sejumlah pohon dan papan reklame tumbang di beberapa titik.

Bahkan, pohon tumbang menimpa mobil yang sedang melintas. Seperti di Jalan Rajawali, pohon tumbang menimpa mobil bercat silver nopol D 1502 AIE.

Berdasarkan data dari laporan masyarakat melalui layanan 110 kepolisian, pohon tumbang terjadi di enam titik.

Antara lain, Jalan dr Djunjunan (Pasteur), Jalan Gunung Batu, Jalan Dayang Sumbi, Jalan Ciliwung, Jalan Ir Juanda, dan Jalan Setiabudi.

“Untuk di kawasan Pasteur sudah dalam penanganan petugas,” kata Kasi Humas Polrestabes Bandung AKP Nurindah.

AKP Nurindah menyatakan, beberapa baliho dan papan reklame juga dilaporkan tumbang. Namun sampai saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan.

Dari pantauan media sosial (medsos), papan reklame berukuran besar tumbang di Jalan Purnawarman, depan Bandung Electronic Center (BEC).

“Saat ini masih pendataan titik banjir dan informasi baliho serta papan reklame yang roboh,” ujar AKP Nurindah.

POHON TUMBANG
Pohon besar tumbang di Jalan dr Djunjunan (Pasteur) Bandung akibat diterpa hujan deras disertai angin kencang. (FOTO: ISTIMEWA)

Data BMKG

Data pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, menunjukkan curah hujan di wilayah terdampak tergolong tinggi.

Curah hujan di Kota Bandung tercatat mencapai 49,4 mm per hari yang termasuk kategori hujan sedang. Di Kota Tasikmalaya, curah hujan mencapai 103 mm per hari yang masuk kategori hujan sangat lebat.

Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan, analisa atmosfer suhu muka laut di sebagian wilayah perairan Indonesia masih relatif hangat.

Sehingga mengindikasikan potensi suplai uap air cukup besar menuju wilayah Jawa Barat.

“Kondisi ini berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan,” kata Kepala BMKG Bandung.

Rahayu menjelaskan, dari sisi sirkulasi angin, terpantau adanya area belokan angin di sekitar wilayah Jawa Barat yang mendukung terbentuknya awan konvektif di sebagian wilayah.

Selain itu, gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby juga terpantau aktif di wilayah Jawa Barat sehingga memperkuat proses pembentukan awan hujan.

“Kelembapan udara di wilayah Jawa Barat terpantau cukup tinggi, terutama pada lapisan 850 hingga 500 mb dengan kisaran antara 50 hingga 95 persen,” ujar Rahayu.

Kondisi tersebut, tuturnya, memperkuat proses pembentukan awan hujan di atmosfer. Sedangkan indeks labilitas atmosfer secara umum berada pada kategori sedang hingga kuat.

“Ini mengindikasikan meningkatnya potensi pembentukan awan konvektif skala lokal,” tuturnya.

Kondisi Atmosfer

Rahayu mengatakan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer, kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh suhu muka laut hangat di sebagian besar perairan Indonesia sehingga meningkatkan suplai uap air.

Selain itu, keberadaan belokan angin di sekitar wilayah Jawa Barat serta aktifnya gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby turut mendukung terbentuknya awan konvektif.

Kondisi tersebut diperkuat oleh tingkat kelembapan udara yang tinggi pada lapisan 850 hingga 500 mb serta tingkat labilitas atmosfer yang berada pada kategori sedang hingga kuat.

“Kombinasi faktor-faktor tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal secara masif di sebagian wilayah Jawa Barat,” ucap Rahayu.

Berdasarkan peta analisis curah hujan selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 30 Maret hingga 1 April 2026 di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur, terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat.

Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi jenuh dan labil sehingga meningkatkan potensi bencana tanah longsor.

Rahayu menghimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang, terutama pada sore hari.

Kondisi tersebut umumnya terjadi pada hari dengan pemanasan kuat antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Tandanya, muncul awan berwarna gelap, menjulang tinggi seperti kembang kol, dan terkadang memiliki landasan pada puncaknya yang populer sebagai awan cumulonimbus.

Masyarakat Harus Waspada

Masyarakat wajib waspada terhadap potensi sambaran petir dengan berlindung di tempat tertutup. Hindari pohon, tiang listrik, reklame, atau benda tinggi lain yang berpotensi roboh saat terjadi angin kencang.

Selain itu, BMKG menyarankan masyarakat menghindari tempat tinggi dan terbuka, mematikan alat komunikasi sementara waktu, dan menjaga jarak aman jika sedang berteduh di luar ruangan.

“Khusus bagi daerah dengan topografi curam atau rawan longsor, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Terutama saat terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat selama beberapa hari berturut-turut,” ujarnya.

Sementara itu bagi wilayah dataran rendah dan daerah yang berada di dekat aliran sungai, perlu mewaspadai potensi genangan atau banjir.

BMKG memprakirakan dalam satu hingga tiga hari ke depan masih terdapat potensi hujan berskala lokal pada siang hingga malam hari di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung, Cianjur, serta Kota Tasikmalaya.