Farhan Tegaskan Perang Lawan Sampah Dimulai dari Rumah Tangga

Jawa Barat95 Dilihat

sindojabar.com – Pemkot Bandung menegaskan perang melawan sampah dimulai dari tingkat paling bawah, yakni Rukun Warga (RW). Sebanyak 1.596 petugas pemilah dan pengolah sampah telah dikerahkan untuk menjangkau seluruh RW di Kota Bandung.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan salah satu tantangan terbesar  berada di Pasar Gedebage yang setiap hari menghasilkan sekitar 20 ton sampah, mayoritas berupa limbah pisang.

Baca Juga:1TahunBandungUtama Masuk Tahun ke-2: Genjot Infrastruktur, Tingkatkan Ekonomi Rakyat, dan Serapan Tenaga Kerja

Menurutnya, Kota Bandung merupakan konsumen pisang yang sangat besar, namun hanya buahnya yang dimanfaatkan, sementara kulit dan bagian lainnya menjadi beban pengelolaan.

“Problemnya adalah limbah organik itu harus diolah dengan teknologi biodigestor yang memang menimbulkan bau,” ujarnya.

Ia menjelaskan, metode pengolahan lanjutan seperti maggot, biodigestor hingga RDF tetap memiliki konsekuensi risiko bau. Bahkan teknologi termal sekalipun tidak sepenuhnya tanpa dampak.

Baca Juga:Pemkot Bandung Tambah 25 Mesin Pengolah  dan 1.597 Petugas

Farhan mengutip arahan Presiden yang menyebut persoalan sampah sebagai sebuah “perang”.

“Perangnya tidak mudah karena musuhnya datang dari diri kita sendiri. Sampah tidak pernah datang dari orang lain tapi dari diri kita sendiri,” katanya.

Sebagai langkah konkret, Pemkot meluncurkan program “Gaslah” (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Program ini menempatkan satu petugas pemilah di setiap RW untuk memastikan proses pemilahan berjalan dari hulu.

Dari total 1.596 RW, seluruhnya telah direkrut petugas. Namun Farhan mengakui hal itu belum cukup. Pemkot akan memperluas cakupan hingga menjangkau 9.699 RT agar edukasi dan pengolahan sampah dimulai dari rumah tangga.

Baca Juga:Pegadaian Jabar Dorong Kolaborasi Bank Sampah di Bandung

Ia juga menegaskan kawasan komersial seperti pasar, hotel, dan perkantoran wajib mengolah sampahnya secara mandiri dan tidak lagi membebani sistem kota.

Farhan mengingatkan, perubahan perilaku menjadi kunci utama. Edukasi dari rumah, sekolah, hingga tempat kerja harus berjalan paralel dengan peningkatan teknologi pengolahan.

“Kalau tidak dimulai dari hulu, maka hilirnya akan selalu berat,” ungkapnya. (*)