SindoJabar, BANDUNG – Pawai Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216 bakal tampil berbeda. Pemkot Bandung tidak lagi menggunakan mobil hias seperti tahun sebelumnya dan memilih konsep jampana yang akan dipikul oleh sejumlah orang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa
mengatakan, perubahan konsep tersebut dilakukan sebagai penyegaran sekaligus mempertimbangkan efisiensi anggaran.
Baca Juga:Pemkot Bandung Rilis Logo HJKB ke-215 dengan Semangat Harmoni dan Kolaborasi
“Jadi tahun ini tidak akan ada mobil hias, refresh dulu lah. Itu berkaitan juga dengan efisiensi anggaran dan lain sebagainya, sehingga pada tahun ini konsepnya jampana,” kata Adi Senin (21/9/2026).
Adi menjelaskan, jampana merupakan tandu atau usungan berukuran relatif kecil dengan panjang sekitar 1,2 meter. Jampana tersebut nantinya dipikul sekitar empat orang sehingga lebih sederhana dibandingkan mobil hias.
Meski konsepnya lebih sederhana, setiap jampana akan tetap menampilkan kekhasan masing-masing wilayah dan instansi. Perwakilan kecamatan serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) akan membawa jampana dengan mengangkat potensi lokal maupun karakteristik instansinya.
Baca Juga:Sambut HJKB ke-216, 151 Kelurahan di Bandung Serentak Bebersih
Adi mencontohkan Kecamatan Cibuntu yang dikenal sebagai sentra tahu. Potensi tersebut dapat ditampilkan melalui produk tahu yang ditata secara kreatif pada jampana.
“Nah begitu juga dari OPD lain akan membawa dengan kekhasannya. Contohnya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, mungkin akan membawa produk pertanian,” katanya.
Sementara itu, Disbudpar Kota Bandung akan mengangkat unsur seni, budaya, hingga bangunan heritage. Salah satu konsep yang disiapkan berupa miniatur bangunan heritage yang ditempatkan pada jampana.
“Mungkin bisa (miniatur) gedung heritage ya untuk jampananya. Tapi, meski konsep jampana tentu tanpa mengurangi kemeriahan peringatan HJKB,” ucapnya.
Baca Juga:Wujud Kepedulian Sosial, Pegadaian Jabar Salurkan Mobil Siaga dan Ratusan Sembako di Batukaras
Untuk rute pawai, Adi mengatakan pihaknya masih berkonsultasi dengan kepolisian. Namun, rute yang telah dilaporkan kepada pimpinan direncanakan melewati Jalan Diponegoro, Jalan Dago, Jalan Merdeka, dan berakhir di Balai Kota Bandung.
Di Balai Kota Bandung, kemeriahan akan dilanjutkan dengan pertunjukan seni dan budaya dari berbagai wilayah di Kota Bandung. Pemkot Bandung juga berencana menghadirkan artis.
“Dan di Balai Kotanya tentu akan ada kemeriahan ya. Ada tampilan-tampilan seni budaya dari kewilayahan, kemudian kita juga mungkin akan hadirkan artis dan sebagainya agar tetap meriah,” katanya.
Selain pawai jampana, rangkaian HJKB ke-216 akan diisi sejumlah agenda lain, mulai dari kegiatan publik, ziarah ke sejumlah tempat, hingga upacara dan rapat paripurna.
Disbudpar Kota Bandung juga telah menyelesaikan desain logo HJKB ke-216. Logo tersebut telah disetujui Wali Kota Bandung dan didistribusikan kepada OPD melalui Diskominfo Kota Bandung.
Baca Juga:LKPJ Gubernur Dikritik, DPRD Jabar Tekankan Perbaikan Ketimpangan dan Penyerapan Anggaran
Adi mengatakan, desain logo HJKB dibuat agar tetap harmonis dengan dua identitas visual lainnya, yakni logo Pemkot Bandung dan city branding. Logo HJKB menggunakan perpaduan warna biru, hijau, dan kuning.
“Logo itu menggambarkan tetap kita sesuai dengan arahan Pak Wali. Ada tiga logo yang harus selalu harmonis, sinkron, yaitu logo Pemkot Bandung, logo city branding, dan yang ketiga sekarang logo Hari Jadi Kota Bandung,” jelasnya.
Adi menambahkan, dari sisi anggaran, masing-masing OPD yang terlibat akan menyiapkan kebutuhan pembuatan jampana. Adi menyebut biaya konsep tersebut jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan kendaraan hias.
“Kalau mengambil dari tolak ukur di SIPD, itu kan daya dukung festival seni budaya. Itu kalau gak salah angkanya di Rp10 jutaan ya, jadi kalau dibandingkan dengan mobil hias kan di atas Rp100 juta,” pungkasnya. (*/YM)






