SindoJabar, BANDUNG – Komunitas Kawah Sastra Ciwidey (KSC) menyelenggarakan Festival Sastra Ciwidey 2026 selama dua hari 26-27 September 2026 di auditorium SMK Al-Wafa Ciwidey.
Kegiatan ini bertujuan kegiatan ini mengingatkan kembali sejarah Pasukan Siluman Merah dan mendekatkan kembali sastra dengan masyarakat Ciwidey.
Berapa banyak yang tahu bahwa daerah Ciwidey yang identik dengan udara sejuk dan damainya pegunungan, pernah menjadi medan pertempuran selama perang kemerdekaan antara Belanda dengan Pasukan Siluman Merah.
Di sebuah tikungan yang dilewati turis ketika hendak menuju berbagai tempat wisata di Rancabali, berdiri tugu untuk memperingati peristiwa bersejarah tersebut. Namun kini tugu itu berlumut dan terlupakan.
Tidak hanya sejarah, Ciwidey juga sesungguhnya dekat dengan sastra. Dari Ciwidey lahir penulis dengan kiprah nasional. Seperti, Duduh Durahman yang aktif sebagai penulis, kritikus, penerjemah sastra. Lalu, Eddy D Iskandar dengan novelnya Gita Cinta dari SMA.
Karya Eddy D Iskandar ini diangkat menjadi film populer yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman.
Sebelum dikenal melalui film My Heart (2006), Ciwidey dan sekitarnya telah banyak disebut dalam karya sastra. Dari naskah kuno Bujangga Manik, catatan perjalanan Junghuhn, hingga puisi dan novel-novel modern.
Dukungan Menteri Kebudayaan
Untuk menghadirkan kembali sejarah maupun sastra di tengah masyarakat Ciwidey Raya, komunitas KSC telah dan terus mengadakan berbagai inisiatif sejak lebih dari sepuluh tahun lalu.
KSC pernah mengadakan lapak baca gratis setiap akhir pekan di Taman Kota Ciwidey. Kegiatan ini bekerja sama dengan Sarang Buku untuk membuka taman baca masyarakat.
Kemudian, KSC mengadakan berbagai diskusi dan kelas-kelas menulis, menerbitkan antologi, hingga mengadakan berbagai perlombaan berkenaan dengan literasi dan sastra.
Kegiatan dan peran Kawah Sastra Ciwidey ini sejalan dengan ungkapan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof (Hon) Dr Fadli Zon MSc.
Dalam rilis resmi Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan, komunitas sastra di berbagai penjuru Indonesia adalah penggerak utama ekosistem sastra.
Penghubung antara karya dan pembaca, ruang tempat lahirnya penulis-penulis muda, dan wadah berkembangnya ragam wacana sastra.
Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra Indonesia. Salah satunya dengan mendorong komunitas-komunitas sastra di Indonesia terus tumbuh dan berkembang seiring zaman.
“Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” kata Fadli Zon.
Setelah mengadakan lebih dari seratus agenda rutin tentang sastra, di tahun ini, Kawah Sastra Ciwidey akan menyelenggarakan Festival Sastra Ciwidey 2026.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui program Penguatan Komunitas Sastra 2026.
Dari Perbincangan hingga Ngawacitra
Dalam festival yang dijadwalkan pada Sabtu-Minggu, 26 dan 27 September 2026 tersebut, KSC mengundang lebih banyak elemen dari ekosistem sastra untuk hadir dan membagikan pemikiran, pengalaman, maupun kiat-kiat berkarya.
Direktur Program Festival Sastra Ciwidey 2026 Jein Oktaviany mengatakan, Festival Sastra Ciwidey 2026 bermula dari agenda diskusi rutin Kawah Sastra Ciwidey.
“Awalnya bernama Perbincangan, yang telah 100 episode. Kemudian menjadi Ngawacitra (Ngawangkongkeun Ciwidey jeung Sastra) sebulan sekali sejak 2024,” kata Jein.
Dari agenda tersebut, ujar Jein, terbersitlah membuat hajatan lebih besar, diskusi yang lebih banyak, berupa festival sastra.
Menurut Jein, ini hal penting bagi Ciwidey, yang sejak lama erat dengan sastra, namanya tertulis di pupuh Sunda, di puisi, di cerpen dan novel, tapi sekarang hanya populer sebagai daerah wisata.
“Tujuan kegiatan ini untuk kembali merawat sejarah dan ingatan masyarakat tentang kampung halaman dan sastra di dalamnya,” ujarnya.
Jein menuturkan, selain diskusi membedah proses kreatif di balik penulisan karya dan menyoroti lanskap prosa dan puisi di Jawa Barat, festival ini juga akan di meriahkan dengan panggung apresiasi puisi.
Ada Monolog tentang Ahmad Wiranatakusumah
Sesi temu dengan berbagai komunitas menulis di Bandung Raya, dan lapak buku tempat masyarakat umum dapat mengakses beragam pilihan buku menarik.
Festival Sastra Ciwidey juga akan menampilkan pertunjukan monolog tentang pahlawan Ahmad Wiranatakusumah. Tokoh ini merupakan Komandan Pasukan Siluman Merah dalam Perang Kemerdekaan melawan Belanda pada 1945-1950.
Belum lama ini, patung macan dan seorang pejuang di monumen peringatan pertempuran Pasukan Siluman Merah melawan tentara Belanda di Punceling di rehabilitasi.
Rumput-rumput liar di sekitarnya di bersihkan. Warnanya yang kusam dan mengelupas di cat kembali. Tugu yang semula hampir tersembunyi itu kini jadi lebih mudah di lihat dan di kenali.
Kawah Sastra Ciwidey berharap, festival sastra ini akan menyegarkan ingatan masyarakat tentang sejarah dan sastra. Dua hal itu selama ini menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan Ciwidey.






