SindoJabar, BANDUNG – 24 September setiap tahunnya diperingati sebagai hari tani nasional. Peringatan hari tani nasional ini menjadi momentum bagi pemerintah dalam rangka memetakan berbagai macam kebijakan termasuk keputusan politik yang memiliki keberpihakan terhadap pembangunan di sektor agraris yang benar-benar terpetakan berdasarkan kebutuhan dan kebermaknaan program itu bagi masyarakat.
Program pemerintah yang berorientasi terhadap keberpihakan bagi pengembangan di ruang agraris seiring dengan waktu tidaklah berada dalam posisi yang mulus tanpa hambatan.
Pergeseran budaya agraris terutama di kalangan masyarakat petani semakin lama semakin jauh ditinggalkan hal ini bisa dilihat dari komposisi para petani itu sendiri yang secara nyata-nyata dunia tani sampai saat ini masih digeluti oleh golongan masyarakat tua yang memang menggantungkan kehidupan sehari-harinya dari ketersediaan lahan pertanian.
Baca Juga:Hari Tani Nasional, Saeful Bachri Desak Kepastian Harga dan Kesejahteraan Petani
Artinya kegiatan bertani belum menjadi sebuah pekerjaan alternatif terutama yang menjanjikan bagi generasi muda yang secara nyata memiliki harapan pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran di dalam dinamika kehidupannya.
Rendahnya capaian akan pemaknaan kesejahteraan dari ruang lingkup kerja yang digeluti oleh seseorang berimplikasi terhadap sedikitnya generasi penerus untuk menjadi petani.
Selain itu sampai saat ini Pemerintah masih dikatakan belum mampu untuk menjaga area-area yang menjadi kantong-kantong pertanian dan kegiatan keagrarisan, yang selama ini dimanfaatkan dengan produktivitas pengelolaannya oleh masyarakat.
Menjadi sebuah fakta di mana kita menyaksikan banyaknya lahan-lahan produktif yang selama ini dijadikan sebagai ruang-ruang kegiatan agraris oleh masyarakat beralih fungsi menjadi tempat tinggal, ruang industri ataupun alih fungsi tata ruang yang lain sesuai dengan kebutuhan pemilik modal yang telah membeli lahan tersebut dari pemilik terdahulu.
Baca Juga:Anggota DPRD Jabar Dorong Regenerasi Petani dan Perlindungan Lahan Pertanian
Dengan semakin sempitnya lahan pertanian atau agraris serta semakin banyaknya dan bertambahnya jumlah penduduk bangsa ini maka pada saat pemerintah tidak bisa menjaga keseimbangan produktivitas agraris di dalamnya kegiatan pertanian maka akan muncul dinamika ketidakseimbangan yang akan mengakibatkan krisis di bidang ketersediaan pangan.
Oleh karena itu pemerintah dituntut untuk memiliki keberpihakan terhadap lahan-lahan yang harus dijaga ekosistemnya terutama lahan yang selama ini dijadikan sebagai ruang produktif pertanian yang akan membantu pemerintah dalam rangka penyediaan pangan.
Pemerintah bisa menjaga komposisi eksisting lahan tersebut dengan cara membeli dari pemilik awal atau masyarakat dan dijadikan sebagai lahan pertanian abadi.
Selain itu pemerintah dituntut untuk mengkonsistensikan gerakan urban farming yang selama ini dibumikan oleh banyak aktivis.
Hal ini sebagai sebuah jawaban atas tantangan semakin rendahnya atau semakin sedikitnya lahan produktivitas pertanian terutama di wilayah-wilayah perkotaan dan hal ini menjadi sebuah terobosan bagi masyarakat untuk menjadi bagian atas solusi yang berhubungan dengan ketersediaan pangan.
Baca Juga:Dugaan Pencemaran Nama Baik, Tani Merdeka Jabar Layangkan Somasi kepada Kadistan Indramayu
Hal lain yang harus menjadi perhatian pemerintah yaitu dengan hadirnya permasalahan iklim yang secara nyata dapat mempengaruhi proses kegiatan pertanian di kalangan masyarakat hal ini sangat logis mengingat pertanian sangat terkait erat dengan keberadaan iklim oleh karena itu berbagai macam pendekatan penggunaan jenis-jenis pupuk dan pengefektifan penggunaan teknologi pertanian akan dapat menjadi solusi atas permasalahan iklim tersebut.
Selain itu pemerintah dalam hal ini khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus terus mengevaluasi program-program yang selama ini memiliki irisan dalam upaya pengembangan kompetensi individu atau kolektif yang berhubungan dengan ruang dinamika pertanian.
Seperti kita bersama di era pemerintahan Ridwan Kamil, dirinya pernah menggulirkan program petani milenial dan ini saya kira menjadi sebuah program bagus karena ini akan memacu dan memicu para generasi muda untuk membuat terobosan dalam rangka menyebarkan semangat jiwa bertani di kalangan para milenial.
Keberadaan program ini tentunya bukan hanya program tanpa jiwa dan target capaian yang akan dikejar, namun saya sangat meyakini betul bahwa program petani milenial ini memiliki kerangka-kerangka kegiatan yang berorientasi pada pengembangan kreatifitas bertani di kalangan generasi milenial yang secara fakta di lapangan mereka termasuk komposisi masyarakat yang tidak tertarik dengan dunia pertanian.
Penulis : Rahmat Suprihat, S.Pd, Ketua Harian Serikat Petani Peternakan Patrakomala Indonesia ( SPPPI)





