SindoJabar, SUKABUMI – Penguatan infrastruktur kelistrikan di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, dinilai dapat meningkatkan kesiapan kawasan dalam menarik investasi sekaligus mendorong lahirnya pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Selatan Sukabumi.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, mengatakan ketersediaan listrik tidak lagi sekadar persoalan teknis, tetapi menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi wilayah.
“Penguatan infrastruktur kelistrikan di Jampang Kulon bukan hanya persoalan teknis mengenai listrik, tetapi merupakan bagian dari pembangunan ekonomi wilayah,” kata Rizaldy dalam wawancara.
Menurutnya, listrik kini menjadi bagian dari infrastruktur produksi karena berbagai sektor usaha membutuhkan pasokan energi yang andal untuk menjalankan kegiatan secara konsisten.
Ketersediaan energi yang memadai juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi, menggunakan teknologi, hingga mengembangkan proses bisnis berbasis digital.
Di Jampang Kulon, penguatan kelistrikan dinilai dapat mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan yang memiliki potensi besar. Hasil perikanan dapat dikembangkan melalui rantai usaha yang lebih panjang, mulai dari penyediaan es, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi.
Dengan begitu, produk perikanan dapat memperoleh nilai tambah sebelum dipasarkan kepada konsumen.
“Energi yang masuk ke desa seharusnya tidak berhenti menjadi konsumsi, tetapi harus dikonversi menjadi produktivitas,” ujarnya.
Rizaldy menilai pendekatan tersebut dapat memperkuat hilirisasi ekonomi lokal karena masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan dan mengolah produk di daerahnya sendiri.
Hal serupa juga berlaku bagi sektor UMKM. Dengan dukungan listrik yang memadai, pelaku usaha dapat menjalankan mesin produksi, menggunakan perangkat digital, melakukan transaksi elektronik, serta memperluas pemasaran melalui kanal daring.
Dari sisi investasi, kata Rizaldy, infrastruktur energi menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang dibutuhkan dunia usaha. Namun, investor juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain seperti akses transportasi, ketersediaan air, telekomunikasi, tenaga kerja, pasar, hingga kepastian regulasi.
Karena itu, penguatan kelistrikan Jampang Kulon perlu diikuti perencanaan pengembangan kawasan yang terintegrasi agar infrastruktur yang dibangun dapat mendukung kebutuhan ekonomi secara bertahap.
Rizaldy juga mendorong PLN dan pemerintah daerah membangun komunikasi dengan pelaku usaha untuk memetakan kebutuhan energi sejalan dengan potensi investasi yang berkembang.
Jika kawasan diarahkan untuk pengembangan sektor perikanan, misalnya, kebutuhan energi untuk cold storage, pabrik es, fasilitas pengolahan, dan berbagai kegiatan usaha pendukung dapat diproyeksikan sejak awal.
“Jadi infrastruktur tidak lagi dibangun setelah ekonomi tumbuh, tetapi justru menjadi instrumen untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.
Menurut Rizaldy, pendekatan tersebut dapat membuat pengembangan infrastruktur energi berjalan selaras dengan arah pembangunan ekonomi kawasan.
Ia juga menilai energi baru dan terbarukan (EBT) dapat menjadi bagian dari perencanaan energi jangka panjang dengan mempertimbangkan potensi wilayah dan kesiapan sistem.
Dalam konteks Jampang Kulon, penguatan kelistrikan diharapkan dapat memperkuat daya dukung kawasan bagi perkembangan usaha lokal maupun investasi.
“Kalau energi tersedia secara andal, modal lebih berani masuk, usaha lebih berani tumbuh, dan masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk menciptakan nilai ekonomi,” ujarnya.
Dengan dukungan infrastruktur energi, potensi perikanan, pertanian, UMKM, pariwisata, dan sektor lainnya di Jampang Kulon dinilai memiliki ruang lebih besar untuk berkembang dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian kawasan Selatan Sukabumi.*






