Dorong Transisi Menuju 100% Energi Terbarukan di Bali, Program SHEB Perkuat Ekosistem Pekerjaan Hijau

BALI,SINDOJABAR.COM – Gerakan Satu Hari Energi Bersih (SHEB) digelar untuk mendukung agenda Bali Net Zero Emission (NZE) Tahun 2045.

Diselenggarakan di Mercure Hotel Sanur sebagai bagian dari Bali Climate Week 2026, pada Kamis (15/10/2026), SHEB menyoroti pentingnya menyiapkan sumber daya manusia lokal.

Serta memperkuat ekosistem pekerjaan hijau agar transisi energi dapat membuka peluang nyata bagi masyarakat Bali, khususnya generasi muda.

Kegiatan ini digelar Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH melalui Proyek Kerja Sama Indonesia-Jerman Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT), dengan dukungan Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET).

“Transisi energi tidak hanya soal teknologi terbarukan, tetapi juga tentang manusia. Generasi muda harus menjadi aktor utama dan penerima manfaat terbesar dari lahirnya era pekerjaan hijau,” kata Ketua Umum PKET, Sim Budiman Setiawan, dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

GESIT dilaksanakan bersama oleh Bappenas atas nama Pemerintah Indonesia dan GIZ atas nama Pemerintah Jerman. Program ini untuk mendukung agenda Bali Net Zero Emission (NZE) 2045 dan target pemanfaatan 100 persen energi terbarukan di Nusa Penida pada 2030.

Proyek ini mendukung pemerintah dan sektor swasta dalam mempromosikan pekerjaan hijau secara inklusif, termasuk melalui pengembangan kebijakan, peningkatan keterampilan, kegiatan percontohan di daerah, serta penguatan koordinasi dan pemantauan pengembangan pekerjaan hijau.

Di Bali, GESIT dengan dukungan PKET melaksanakan kegiatan percontohan untuk mempelajari bagaimana penyiapan sumber daya manusia dapat mendukung transisi energi di Nusa Penida.

Pembelajaran dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan industri, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal.

Pengembangan infrastruktur energi bersih di Nusa Penida terus berjalan. Namun, seiring dengan pembangunan infrastruktur, kesiapan tenaga kerja lokal juga perlu diperkuat sejak awal. Tenaga kerja terampil tidak dapat disiapkan secara instan.

Karena itu, pengembangan keterampilan perlu dilakukan sebelum kebutuhan tenaga kerja meningkat secara signifikan. Salah satu tantangan yang ditemukan melalui kegiatan percontohan adalah masih terbatasnya pilihan pendidikan dan jalur karier yang terkait dengan energi terbarukan.

:: Lima SMK Percontohan

Di SMKN 1 Nusa Penida, misalnya, program keahlian saat ini masih berfokus pada bidang pariwisata. Di sisi lain, sebagian tenaga teknis kelistrikan masih membutuhkan peningkatan kompetensi dan sertifikasi yang sesuai dengan standar industri energi terbarukan.

“Transformasi sekolah kejuruan adalah kunci. Saat ini kami mengawal integrasi kurikulum energi terbarukan di 5 SMK percontohan di Bali, mengubah paradigma dari sekadar teori menjadi praktik riil yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri energi terbarukan,” ucapnya lebih lanjut.

Sebagai bagian dari kegiatan percontohan GESIT, sejumlah pendekatan untuk mengintegrasikan kompetensi energi terbarukan ke dalam pendidikan vokasi telah diuji dengan dukungan PKET.

Pendekatan tersebut mencakup pengembangan konsentrasi keahlian, integrasi mata pelajaran pilihan dalam Kurikulum Merdeka, kegiatan ekstrakurikuler, serta program guru tamu dari industri.

Lima SMK percontohan di Bali juga didorong untuk memperkuat sarana praktik yang sesuai dengan kebutuhan industri serta mendukung peningkatan kompetensi dan sertifikasi guru melalui skema yang relevan.

Mengusung tema “From Learning to Living”, SHEB 2026 menjadi salah satu kegiatan GESIT yang secara khusus mendekatkan isu transisi energi dan pekerjaan hijau kepada generasi muda.

Rangkaian SHEB 2026 juga mencakup kegiatan pembelajaran di lapangan. Seperti pada 14 Oktober 2026, sebanyak 30 peserta yang terdiri atas siswa dan guru SMK, mahasiswa, serta instruktur pelatihan mengikuti kunjungan pembelajaran ke PLTS Bali Timur berkapasitas 25 MWp di Karangasem, Bali Timur.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung pengoperasian pembangkit energi terbarukan serta mengenal jenis kompetensi dan pekerjaan yang dibutuhkan di sektor tersebut.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan GESIT dan SHEB 2026, juga diselenggarakan Bali Renewable Energy Young Innovators (BREYI) 2026. Kompetisi ini diikuti oleh 118 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam dua kategori, yaitu inovasi teknologi dan inovasi sosial.

Empat finalis dari Universitas Udayana, Institut Teknologi Nasional Bandung, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Negeri Gorontalo mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri dan peserta SHEB 2026.

Selain itu, kompetisi video edukasi PLTS bagi siswa SMK di Bali juga diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Sembilan finalis terpilih menampilkan karya mereka selama SHEB 2026.

Selain kegiatan edukasi dan keterlibatan generasi muda, SHEB 2026 juga menghadirkan sesi strategis Policy Room atau Ruang Kebijakan.

Sesi ini mempertemukan pemerintah, industri, asosiasi energi terbarukan, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas kebutuhan keterampilan dan tenaga kerja dalam mendukung transisi energi.

Asosiasi yang terlibat antara lain Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI), dan Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA).

Tim Penguatan Peran Masyarakat dan Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Bidang Energi Terbarukan kemudian merumuskan sejumlah rekomendasi.

Seperti pengembangan regulasi daerah yang dapat memperkuat keterlibatan dan pengembangan tenaga kerja lokal dalam proyek energi terbarukan. Integrasi pembelajaran energi terbarukan di SMK serta pengembangan program magang industri yang terstruktur bagi siswa SMK dan mahasiswa.

Peningkatan kompetensi dan sertifikasi bagi guru SMK serta calon tenaga kerja melalui kerja sama dengan industri. Serta pengembangan Bursa Kerja Hijau atau Green Jobs Portal untuk menghubungkan tenaga kerja terampil dengan peluang kerja dan proyek energi bersih. (*)