Dwi Puspita Pangestu Tuangkan Pergulatan Batin Perempuan dalam Pameran Lukisan LURUH

SindoJabar, BANDUNG – Dwi Puspita Pangestu menyajikan puluhan lukisan dalam pameran tunggal bertajuk LURUH di ArtSociates Gallery, gedung Lawangwangi, Bandung, yang dikurasi oleh Gusbarlian. Pameran LURUH berlangsung mulai tanggal 30 Oktober hingga 17 November 2026.

Dwi Puspita secara konsisten menjaga karakter visual yang sangat lekat dengan gaya seni botani kontemporer (contemporary botanical art). Ia mengkombinasikan keahlian sains botani dengan pendekatan emosional yang mendalam melalui teknik melukis dan menggambar untuk mengekspresikan ketekunannya dalam mengamati anatomi tumbuhan secara berkala untuk keperluan riset tanaman herbal.

Baca Juga:Lelang Lukisan Kuda Api Karya SBY Tembus Rp6,5 Miliar, Demokrat Salurkan untuk Rakyat Prasejahtera

Lukisan Dwi Puspita mengekspos arsiran lembut dari tarikan garis berulang untuk mengisi bidang gambar atau memberikan volume menggunakan cat air dan air infus tembakau. Tentu saja objek syang dipilih berfokus pada elemen spesifik dari anatomi bunga, seperti putik (pistil), daun kering, hingga bunga yang mulai menua atau mengering.

Kemudian, ia memetik unsur simbolis dari perjalanan hidup sehari-hari Dwi Puspita pada anatomi tumbuhan itu dengan cara improvisasi pada bentuk lain sebagai representasi emosi, kontemplasi, bahkan sistem reproduksi perempuan hingga medium terapi personal atau self-healing.

Catatan kuratorial dar Gusbarlian, kurator pameran, mengatakan bahwa Dwi Puspita memilih bunga sebagai objek lukisan bukan sekedar mimesis, bentuk-bentuk organik serupa bunga yang dilukisnya tidak hadir sebagai representasi alam yang utuh, sebab telah melebur dengan ingatan dan sejarah tubuh pelukisnya.

Baca Juga:Pameran Nawasena Bandung Tampilkan Batik Bujangga Manik

Bagi Dwi Puspita melukis adalah kerja meditatif untuk memahami dirinya. Tak hanya mengikuti intuisi untuk terus bergerak, ia secara sadar mengobservasi emosi dan menguji keyakinannya selama proses berkarya.

Kehidupan seorang seniman perempuan, tentu saja, memiliki kondisi yang lebih rumit di antara kehidupan pribadi sebagai istri, ibu, anak, juga pebisnis herbal serta tanggungjawab sosial dalam kesehariannya. Melukis adalah ruang jeda di antara kompleksitas itu yang bisa diendapkan, narasikan dan renungkan melalui sapuan kuas dan cat air hingga meluruhkan semua persoalan menjadi bahasa simbolik di atas kertas dan kain kanvas.

Shahnaz Haque, selebritis dan aktivis perempuan, berkomentar usai membuka pameran LURUH.

“Sebagai perempuan. Sekolah yang paling paling bagus apa? Bukan pengalaman. Karena kalau pengalamannya bagus terus, belajarnya nggak banyak. Sekolah yang paling bagus adalah penderitaan, sekolah penderitaan. Maka, kalau sekolah penderitaannya lulus, depresinya di masa senja. Jadi ini adalah kisah dari lukisan-lukisan ini yang disampaikan oleh pelukisnya,” kata Shahnaz, di ArtSociates Gallery, Gedung Lawangwangi, Bandung, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga:Pegadaian Dukung Masyarakat Lewat Program Gadai Bebas Bunga, Solusi Keuangan Mudah dan Ringan

Selain lukisan yang tersaji di ruang pameran dalam gedung Lawangwangi, Dwi Puspita juga memajang merch berupa slingbag dan scarf dengan desain ilustrasi yang dipetik dari karya seni lukisnya. Tidak hanya itu beberapa produk HERBSAYS juga disajikan di koridor galeri yang jadi bagian dari praktik seni berbasis ekonomi kreatif. (*)